Para petani itu mengirim pesan kepada Jokowi minta supaya infrastruktur jalan di daerahnya diperbaiki. Selama ini, hasil panen jeruk tidak bisa dikirim ke pasar karena kondisi jalan yang rusak parah. Jokowi menerima sendiri kiriman jeruk itu, tetapi belum ada reaksi terhadap protes para petani itu.
Masing-masing orang mempunyai cara melakukan protes masing-masing. Ketika saluran protes secara formal tidak efektif, maka publik menggunakan caranya sendiri untuk menyalurkan protesnya. Ada yang melakukannya dengan cara Suroto. Ada cara petani Karo, ada pula cara sederhana seperti yang dilakukan Pak Ngateman.
Ada pula cara menohok langsung seperti yang dilakukan oleh wakil ketua umum MUI (Majelis Ulama Indonesia) K.H Anwar Abbas. Dalam kesempatan memberi sambutan pada acara ‘’Kongres Ekonomi Umat Islam’’ yang dihadiri Jokowi (11/12), Anwar Abbas mengritik ketimpangan kepemilikan tanah di Indonesia.
Akibat kritik mendadak dan menohok itu Jokowi batal membacakan sambutan tertulis yang sudah disiapkan. Jokowi kemudian memakai kesempatan pidato pembukaan untuk menjawab kritik Anwar Abbas.
Momen ini menjadi viral dan mendapat tanggapan luas. Ada yang mendukung Anwar Abbas karena menganggap kritik adalah hak semua warga negara. Ada yang menanggapinya dengan keras seperti yang dilakukan oleh Ali Mochtar Ngabalin.
Jokowi juga menanggapi kritik itu dengan cukup keras. Nada bicara dan gestur tubuhnya menunjukkan bahwa dia marah. Jokowi mengakui bahwa memang terjadi ketimpangan karena pembagian tanah ratusan ribu hektar kepada orang-orang kaya, tetapi Jokowi dengan tegas mengatakan bukan dia yang membagi-bagi tanah itu.
Ali Mochtar Ngabalin—seperti biasa—lebih emosional menghadapi kritik Anwar Abbas. Ngabalin pernah menyebut Anwar Abbas berotak sungsang karena kritik kerasnya kepada Jokowi. Kali ini Ngabalin menganggap kritik Anwar Abbas sebagai kritik dungu.
Dalam berbagai kesempatan Jokowi mengaku biasa menerima kritik sekeras apa pun. Ia mengritik polisi yang menghapus mural yang bergambar sosok mirip Jokowi yang belakangan banyak bermunculan. Menurut Jokowi kritik mural seperti itu adalah hal kecil yang sudah biasa dia hadapi sehari-hari. Karena itu polisi tidak perlu bertindak berlebihan.
Secara retoris Jokowi sering mengatakan bahwa siapa pun bebas melakukan kritik. Tetapi, reaksi Istana terhadap kritik Anwar Abbas–seperti yang ditunjukkan oleh Ngabalin–membuktikan bahwa Istana masih merasa risi oleh kritik, dan masih tetap bereaksi keras terhadap kritik-kritik keras.
Pak Ngateman memilih caranya sendiri dalam melontarkan kritik. Mungkin dia tidak tahu bahwa dia punya perwakilan di parlemen yang bisa menyuarakan kritiknya. Mungkin Pak Ngateman sudah pernah menemui anggota dewan untuk menyampaikan keluhan, tetapi tidak ada perubahan.
Karena itu Pak Ngateman memakai caranya sendiri untuk menyampaikan protesnya. Dia langsung melemparkan materi protes itu ke arah Jokowi. Dia tahu bahwa surat itu bisa dikirim melalui pos atau cara pengiriman lainnya. Tapi dia tahu bahwa cara itu akan sia-sia karena belum tentu akan sampai kepada Jokowi.
Pak Ngateman memaki caranya sendiri untuk menyampaikan protesnya. Mungkin akan bermunculan ngateman-ngateman lain yang akan melakukan protes dengan cara-cara baru yang lebih mengejutkan. (*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi