Firman Utina: Klub Indonesia Harus Punya Pesikolog agar Karir Pemain Panjang

waktu baca 2 menit
Legenda Sepakbola Indonesia, Firman Utina (*)

KEMPALAN: Legenda Sepakbola Indonesia, Firman Utina menyarankan agar klub-klub di Indonesia memiliki psikolog sehingga karir para pemain di Indonesia bisa lebih panjang. 

Menurut Firman psikolog diperlukan karena pesepak bola Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan yang semakin berat, terutama dari media sosial dan publikasi media massa. 

Pengaruh media ibarat ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi membuat pemain cepat terkenal, namun juga membuat merasa cepat puas sehingga tidak mau berkembang. 

Biasanya fenomena ini disebut sebagai star syndrome, dimana para pemain muda terlena dengan popularitas yang didapat sehingga berimbas pada penurunan performa mereka di lapangan.

Menurut Firman kondisi itu bisa membuat karier pemain Indonesia tak bertahan lama, berbeda dengan para pesepakbola di generasi sebelum 2000-an yang punya karir panjang karena tak terkena dampak media sosial. 

“Saat ini, bagaimana mengatasi star syndrome. Itu bisa membuat pemain sekarang cepat hilang,” kata Firman.

“Untuk mengatasi persoalan ini, klub harusnya punya psikolog. Untuk membuat pemain tidak merasa star syndrom. Era saat ini, publikasi media massa dan media sosial sangat besar. Jika tidak kuat mental, karirnya tidak bisa lama. Padahal kualitas pemain Indonesia ini bagus. Itu harus dijaga,” tambahnya.

Sayangnya, saat ini belum banyak klub yang melibatkan psikolog di tim. Salah satu yang pernah menggunakan adalah Arema FC yang menyewa jasa psikolog untuk mengangkat mental pemain setelah mengalami Tragedi Kanjuruhan.

“Selain psikolog, peran pemain senior dan pelatih juga bisa. Sebab pemain yang mengalami star syndrome kebanyakan yang masih muda. Harus dijaga para pemain muda ini, mereka generasi penerus di Timnas juga,” kata pria yang kini menjabat sebagai Dirtek di Dewa United itu.

Di saat masih aktif bermain di awal tahun 2000, Firman Utina merasa publikasi masih jarang. Sehingga pemain tidak cepat besar kepala.

Saat itu media memang masih terbatas sehingga pemberitaan juga belum semasif sekarang. Hal ini juga membuat di era Firman dulu mayoritas pemain punya karier panjang.

“Kalau dulu, masuk koran itu sudah senang sekali. Dan jarang pemain timnas biasanya yang bisa masuk koran. Jadi, kami berlomba juga agar bisa ke Timnas,” jelasnya.

(*) Edwin Fatahuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *