Tiga emas PON ini membawanya masuk Pelatnas. Berlaga di kancah internasional Suyitno menjadi juara stage di Tour de Langkawi Malaysia tahun 2000, dan juara kedua kejuaraan balap sepeda Jelajah Malaysia 2000.
Prestasi ini membawanya masuk Pelatnas persiapan SEA Games XXI/2001 di Kuala Lumpur, Malaysia. Dan hasilnya tidak mengecewakan karena Suyitno menyumbang dua medali emas untuk kontingen Indonesia di nomor Team Pursuit 4000 M, dan nomor Track Madison.
10. Hadi Sukirno
Lahir di Malang pada 30 Desember 1962, sejak umur 14 tahun Hadi Sukirno sudah berlatih tinju. Turun di kelas Bantam (53-55 kg), Hadi terpilih menjadi The Best Fighter pada Piala Walikota Malang 1981. Pada tahun yan sama, Hadi kembali menjadi juara kelas Bantam di Piala Menpora dan kembali menjadi petinju terbaik.
Prestasi ini membawanya mewakili Indonesia di Kejuaraan Tinju internasional di Roma Italia. Hasilnya tidak mengecewakan, Hadi meraih medali perunggu.
11. Mashudi
Dunia voli Jawa Timur dan Indonesia pasti tidak bisa dilepaskan dari nama Mashudi, pria kelahiran 11 September 1961 ini adalah sosok di belakang lahirnya klub voli besar Jawa Timur dan Indonesia, Surabaya Samator. Dari tangannyalah lahir pevoli-pevoli hebat yang membawa Jawa Timur merajai Liga Voli Indonesia.
12. Dian Novita Sari
Berlatih panjat tebing sejak bangku SMP, Dian Novita Sari mulai menapakkan prestasinya tahun 2006, ketika merebut medali perak nomor boulder dan lead di Asian Youth Cup di Bali, dua tahun berikutnya Dian memperbaiki prestasi dengan meraih medali emas Boulder Perorangan.
Setelah itu Dian Novita menjadi andalan Jawa Timur terutama nomor boulder dan lead. Pada kejurnas panjat tebing 2010 meraih medali emas boulder beregu.
Pertama kali tampil di PON, yaitu PON 2012 Riau, Dian langsung menyumbangkan medali emas boulder beregu, dan pada PON 2016 di Jawa Barat medali perak nomor boulder.
13. Wayan Diana
Tak banyak pemain tanah air yang mampu menyatukan gelar kompetisi Perserikatan dan Galatama dalam karirnya. I Wayan Diana adalah satu dari sedikit yang bisa meraih dua gelar prestisius di era 70an sampai 80an tersebut.
Palang pintu pertahanan yang mengawali karir di Persebaya, besar di Niac Mitra, dan malang melintang bersama tim nasional. Tahun 1977 menjadi tonggak permulaan bagaimana nama Wayan Diana sebagai bek ketika membawa Persebaya menjadi juara perserikatan.
Setahun berikutnya bergabung dengan Niac Mitra dan trofi perdana yang sukses diangkat tinggi-tinggi oleh Wayan Diana adalah Aga Khan Gold Cup tahun 1979 di Bangladesh setelah di final mengalahkan timnas Korea Selatan.
14. Herihono
Memiliki postur tinggi dan kekar, serta tendangan maupun pukulan yang mematikan menjadikannya seorang pesilat yang sangat disegani lawan maupun kawan. Sederet prestasi dari juara nasional, PON hingga juara dunia sudah digenggamnya.
Prestasi di pencak silat sangat fenomenal, diantaranya meraih medali emas PON XVI Palembang 2004, PON XVII Kaltim 2008 dan PON XVIII Riau 2012.
Di kancah internasional Herihono yang akrab disapa Bruno itu berhasil menyumbang perunggu di SEA Games Manila, Filipina 2005, emas Belgia Open Championship 2007, medali perak The 13 World Silat Championship Pahang Malaysia 2007 dan juara 3 World Championship 2010 Jakarta dan emas di event Sebelas Maret International Pencak Silat Championship solo 2012. (Dwi Arifin)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi