Preman jalanan selalu menjadi musuh tradisional yang dikejar-kejar aparat keamanan. Tetapi, preman–yang terorganisasikan secara rapi dalam jumlah besar dan dalam organisasi massa yang terstruktur–justru menjadi mitra aparat keamanan. Mereka diberi pekerjaan-pekerjaan pengamanan di pasar atau lokasi hiburan supaya tidak melakukan tindak kriminal liar.
Organisasi preman yang sudah mapan beroperasi dengan lebih sistematis, mulai dari mengamankan lahan parkir sampai mengamankan proyek-proyek besar. Organisasi preman mengamankan lokasi-lokasi hiburan, mal, dan pusat perbelanjaan. Aparat keamanan biasanya memakai jasa kelompok organisasi preman untuk membantu mengamankan wilayah atau menjaga proyek-proyek tertentu.
Para pemimpin organisasi preman mempunyai hubungan dengan aparat keamanan. Hubungan ini bersifat resiprokal dan mutualistis, saling membutuhkan dan saling menguntungkan. Semakin besar jumlah anggota organisasi preman, akan semakin besar pengaruh pimpinannya terhadap aparat keamanan.
Aparat keamanan membutuhkan kelompok preman untuk berbagai kepentingan, termasuk kepentingan politik. Ketika muncul demonstrasi anti pemerintah, biasanya muncul juga demonstrasi tandingan untuk melawan demonstran itu. Dalam banyak kasus, kelompok demo tandingan ini diorganisasikan oleh organisasi massa yang berafiliasi dengan kelompok preman.
Di bawah rezim yang otoriter, kelompok organisasi massa semacam ini menjadi mitra keamanan yang strategis. Mereka sangat dibutuhkan untuk mengadang gerakan massa yang menentang rezim. Dalam sebuah kasus, kelompok organisasi massa ini mengepung dan menyerbu kantor partai politik yang sedang mengadakan kegiatan yang dianggap anti-pemerintah.
Dalam pengepungan dan penyerbuan itu aparat keamanan seolah-olah tidak terlibat, karena yang menjadi ujung tombak penyerbuan adalah anggota-anggota ormas preman. Dalam penyerbuan itu jatuh korban cukup banyak. Beberapa sumber menyebutkan jatuh korban nyawa belasan orang. Tetapi jumlah resmi korban tidak terungkap sampai sekarang.
Dalam penyerbuan itu komando militer setempat melakukan koordinasi dengan kelompok organisasi massa. Para pimpinan organisasi massa itu mempunyai hubungan akrab dengan komando militer dan menjadi bagian dari operasi-operasi keamanan yang represif.
Upaya menindas kegiatan anti-pemerintah melalui operasi militer bersama kelompok organisasi massa ternyata tidak membuahkan hasil. Gerakan anti pemerintah semakin menggelinding menjadi besar. Mahasiswa dan rakyat mulai bergabung menjadi gelombang protes yang semakin besar. Pada akhirnya rezim represif runtuh dan era baru pun lahir.
Di era baru, yang lebih bebas dan terbuka, kelompok-kelompok ormas baru bermunculan dengan latar belakang yang bermacam-macam. Ada yang mengatasnamakan kelompok etnis, kelompok budaya, mengatasnamakan ideologi negara, dan banyak juga yang mengatasnamakan agama.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi