Senin, 25 Mei 2026, pukul : 09:44 WIB
Surabaya
--°C

TNI dan Komunisme

Saat ini NU sangat diistimewakan oleh Pemerintah, sementara beberapa Ormas Islam justru dibubarkan. Muncul kesan bahwa pembubaran HTI, pembunuhan 6 laskar FPI pengawal Habib Rizieq Shihab, dan pembubaran FPI menunjukkan konsistensi pemerintah untuk memusuhi sekaligus memecah belah ummat Islam. Sikap Dudung yang terakhir ini menegaskan konsistensi itu.

Pemberontakan PKI Madiun 1948 dan G30S/PKI 1965 adalah fakta sejarah yang menunjukkan bahwa musuh terbesar komunis dalam perebutan kekuasaan politik di Indonesia adalah ummat Islam dan TNI. Episode September hitam 56 tahun silam itu menunjukkan peran penting beberapa perwira TNI berhaluan komunis -seperti LetKol Untung, Brigjen Soepardjo, dan Marsma Omar Dhani- dalam peristiwa G30S/PKI yang gagal itu. Sejarah mencatat dengan baik bahwa komunisme berkembang pesat saat PKI menjadi salah satu kekuatan politik penting pada episode terakhir Orde Lama. Oleh karena itu sulit untuk menolak kesimpulan bahwa TNI saat ini pun bisa tersusupi gerakan komunis seperti sinyalemen Gatot.

BACA JUGA  Ali Ahmad Baktsir: Sang Sastrawan Surabaya yang Abadi di Prangko Yaman

Jika kesimpulan itu benar, maka tinggal ummat Islam saja yang mesti segera meningkatkan kewaspadaan dan mempersiapkan diri menghadapi gerakan komunisme ini. Kelompok nasionalis dan agama lain yang pro-NKRI sebenarnya berkepentingan untuk ikut melawan gerakan komunisme ini. Sejak fase terakhir Orde Baru, rekonsiliasi antara ummat Islam dan kaum komunis telah berlangsung secara alamiah dan dengan dukungan regulasi. Kaum komunis berhasil menempati posisi-posisi publik penting sejak Reformasi. Ummat Islam tidak pernah mempermasalahkan ini sampai ummat Islam hari ini justru semakin sering dipojokkan dan dicurigai serta difitnah dengan alasan yang dibuat-buat tanpa bukti.

Sikap kaum komunis yang mendendam kesumat pada Soeharto dan Orde Baru tidak perlu diteruskan dengan memusuhi Islam dan ummatnya. Baik Soekarno dan Soeharto memiliki jasa sekaligus juga melakukan kesalahan karena mengabaikan adagium Lord Acton: “Power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely“. Kekuasan cenderung disalahgunakan, apalagi kekuasaan besar yang dipegang bertahun-tahun. Seperti Barat secara keliru memutuskan melawan Thaliban, dan kalah, memusuhi Islam adalah keputusan keliru.

BACA JUGA  Neoliberalisme Itu Ketamakan

Islam melarang untuk memulai perang atau serangan. Sikap muslim dalam konflik manapun selalu defensif untuk membela diri. Apalagi muslim Indonesia yang tokoh pendahulunya adalah para pendiri bangsa ini. Jika muslim diintimidasi terus menerus oleh kaum komunis tidak peduli tentara atau sipil, maka suatu saat akan berada dalam posisi tanpa banyak pilihan : hidup mulia atau mati syahid.

Rosyid College of Arts,
Gunung Anyar, 1/10/2021

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.