PBB-Kempalan: Dewan Keamanan PBB melakukan rapat dadakan pada Jumat (1/10) untuk membahas isu mengenai Korea Utara yang melakukan tes misil. Namun sayangnya, rapat tersebut gagal untuk memberikan solusi atau kesatuan suara dalam joint statement yang ada.
Rapat yang diadakan secara tertutup yang dilakukan selama beberapa jam lamanya diinisiasi oleh AS. Tindakan AS untuk menginisiasi hal tersebut menjadi bahan analisis baru karena jarang sekali AS “Peduli” untuk memulai diskusi.
Dalam rapat tersebut, tujuan yang ada sudah sangat jelas yaitu untuk menentukan tindakan kepada Korea Utara yang baru saja melakukan tes misil di hari yang sama pada rapat tersebut.
Tetapi dalam rapat tersebut, beberapa negara dominan memiliki pendekatan yang berbeda sehingga muncul adanya perpecahan suara. Artinya adalah bahwa isu Korea Utara lagi-lagi tidak terselesaikan.
“Prancis menginkan pernyataan yang dapat segera dirilis ke publik, namun Rusia dan Tiongkok mengatakan bahwa ini bukan waktunya. Mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk menganalisis situasi yang ada” ucap diplomat Prancis kepada media AFP.
Pada tahun 2017, ketika AS berada di bawah Presiden Trump, Dewan Keamanan PBB dapat dengan mudah memberikan sanksi kepada Korea Utara. Secara total, terdapat tiga sanksi yang diberikan kepada Korea Utara karena tindakannya yang melakukan tes nuklir dan pengembangan misil.
Namun semenjak Trump lengser, Dewan Keamanan PBB seolah-olah “Pecah suara” karena tidak lagi memiliki pandangan yang sama mengenai isu Korea Utara. Presiden Biden juga sejauh ini belum memberikan strategi yang jelas mengenai tindakan AS kepada Korea Utara.
(AFP/DailySabah, Muhamad Nurilham)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi