Kritik Ekonomi Islam Terhadap Komunisme/Sosialisme
Komunisme memaksakan kesetaraan hasil, dan sama sekali tidak menjadikan kualitas hidup seseorang sebagai fungsi dari upaya mereka, Komunisme menghalangi orang untuk melakukan yang terbaik. Setiap orang bekerja berdasarkan pada kemampuan mereka dan dibayar sesuai dengan kebutuhannya menjadi persamaan. Marx tidak berpikir bahwa “untuk mencapai hasil yang lebih baik” adalah bagian penting dari persamaan ini. Dengan kata lain, tidak peduli seberapa keras seseorang bekerja atau seberapa cemerlang ia bekerja, ia akan menerima kompensasi yang sama seperti orang lain. Bahkan jika orang lain itu adalah produsen yang jauh lebih tidak efektif daripadanya. Kemampuan untuk menghasilkan lebih dari pekerja lain dalam sistem komunis murni hampir tidak ada.
Dalam konteks ini beberapa poin dalam komunisme ditolak oleh orang Indonesia yang mayoritas adalah beragama Islam yang telah meletakkan pinsip keagamaannya dalam Pancasila yang juga mencerminkan ekonomi Syariah.
Pertama, bahwa konsep komunisme tidak mendasarkan pada nilai-nilai ketuhanan dalam agama, bahkan agama dinilai sebagai candu. Ini pemahaman yang tidak dibenarkan dengan Islam yang memandang Tuhan adalah pusat orientasi kegiatannya yang memberikan gambaran mencerahkan bagi manusia dan memberikan pembebasan dari kungkungan duniawi yang semu.
Kedua, konsep revolusi untuk mewujudkan cita-cita ideology komunisme yang menganut paham materialisme dialektika ini menghalalkan segala cara bahkan secara berdarah. Ini berbeda dengan cara perubahan dalam Islam. Bahwa pertumpahan darah bukanlah alternatif aktif untuk mewujudkan perubahan. Rasulullah melakukan perubahan secara gradual dan perlahan untuk menanamkan pemahaman yang mendalam tentang kebenaran.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi