Sabtu, 14 Maret 2026, pukul : 12:51 WIB
Surabaya
--°C

Komunisme dalam Tinjauan Ekonomi Syariah

KEMPALAN: Filsuf Jerman Karl Marx dalam bukunya tahun 1848, The Communist Manifesto, menganjurkan sistem ekonomi yang disebut Komunisme. Komunisme ini menjadi tidak sekedar sistem politik namun juga sistem ekonomi.

Dalam Manifestonya, Marx mengadvokasi terwujudnya kondisi masyarakat Komunis di mana tidak ada kebutuhan akan uang atau akumulasi kekayaan individu. Marx menekankan filosofinya pada perlawanan kelas dan mengajak pada sutu masyarakat yang mana kepemilikan atas suatu barang itu adalah milik bersama.

Logika Marx ini diringkas secara fasih dengan pernyataan: “From each according to his ability, to each according to his needs” atau “dari masing-masing sesuai dengan kemampuannya, untuk masing-masing sesuai dengan kebutuhannya.”

Secara sederhana bisa dipahami bahwa setiap orang kemudian bekerja sesuai dengan kemampuannya masing-masing dan ia dibayar seduai dengan kebutuhannya. Pemerintah komunis menyediakan sebagian besar atau semua upah, makanan, pakaian, perumahan dan kebutuhan lainnya atau apa yang dianggapnya sebagai kebutuhan rakyat.

Pengembangan pemikiran yang kemudian menjadi ideologi Komunisme tersebut tidak berasal dari ruang kosong. Pada awal kelahiran konseptualisasi Komunisme, Marx mengorientasikan pada perlawanan terhadap kapitalisme. Secara ekonomi, Kapitalisme menciptakan kelas ekonomi: kelas borjuis (kapitalis) dan kelas proletar (buruh). Dan Marx memilih untuk berpihak pada kelas proletar, kaum buruh yang ditindas oleh kapitalisme.

Kapitalisme menciptakan surplus value yakni dalam suatu produksi terdapat nilai lebih dari produksi yang kemudian dinikmati oleh para pemegang kapital di perusahaan. Di sini kerja keras buruh yang merupakan ujung tombak industri dihisap habis oleh kapitalis. Para buruh hanya mendapat gaji saja tanpa komisi lebih. Para kapitalis ini berhasil menghisap habis energi buruh karena adanya dukungan dari agamawan. Kapitalis ini bersimbiosis dengan agamawan. Agamawan beperan memberikan “candu” bagi buruh. Buruh diiming-imingi kenikmatan surgawi denga dalil agama Kristen kala itu bagi para pekerja keras, sehingga selelah apapun, imajinasi surga menjadi “doping” yang melenakan buruh sehingga suka rela untuk dieksploitasi agar mau bekerja keras meski dengan bayaran sedikit.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.