
Oleh: Hamid Abud Attamimi
Aktivis Dakwah dan Pendidikan, tinggal di Cirebon
KEMPALAN: Dikhianati oleh orang atau orang-orang yang selama ini berjalan beriringan tentu sangat menyakitkan. Tetapi jika kita lalu dikhianati untuk kedua kalinya oleh fihak yang sama, sekalipun mungkin kita masih bisa mencaci mereka, tetapi kita harus menyadari bahwa ada sesuatu yang salah pada diri kita, artinya patut diduga bahwa kita telah lalai, lengah atau kurang berhati-hati.
Ini yang tidak boleh terjadi lagi pada Bangsa ini, karena kita telah dua kali dikhianati oleh PKI (Partai Komunis Indonesia) tahun 1948 dan 1965, dan bahkan pada kali kedua telah gugur tujuh Putra Terbaik Bangsa. Kejam, sadis, biadab, tak berperikemanusiaan, itulah yang telah ditunjukkan oleh PKI, semua diterjang dan dilawan demi ambisi kekuasaan, karena mereka menghalalkan apapun demi sebuah tujuan.
Memahami sejarah apalagi sejarah bangsa sendiri, adalah layaknya memahami diri sendiri. Salah memahami, karena salah menarik kesimpulan, baik karena keterbatasan pengetahuan atau karena kita disodorkan data dan fakta yang salah akan berakibat fatal, apalagi jika itu sebuah sejarah kelam, bukan tak mungkin sejarah tersebut akan berulang dengan akibat yang tak terbayangkan. Apalagi jika memang ada fihak tertentu yang secara sengaja dan sistematis merekayasa sejarah hingga terbangun citra seolah PKI sebagai korban atau yang teraniaya.
Saya pernah baca sebuah buku yang bercerita tentang ‘pembantaian 1965’ terhadap PKI.Buku ini diterbitkan tahun 2014 (cetakan ke 6), oleh Tempo Publishing, Penulisnya Kurniawan et al. Buku ini bermula dari laporan khusus “Pengakuan Algojo 1965”, terbit di Majalah Tempo (17 Oktober 2012). Sekalipun di bagian awal buku ini diungkap semangat mengungkap Truth (Kebenaran) sejarah, tetapi ‘kebenaran’ dimaksud bersumber utama pada narasi sebuah film karya Joshua Oppenheimer berjudul “The Act Of Killing”. Tragisnya, sumber kebenaran Oppenheimer adalah cuma pengakuan mantan seorang preman yang pernah membunuh ratusan orang PKI di Medan.
Buku ini memang dilengkapi banyak wawancara lain dengan mantan para algojo (begitu istilah yang digunakan dalam buku ini, selain istilah jagal ), tetapi sangat jelas motifnya adalah menempatkan PKI sebagai Korban.
Maka tidak heran jika di akhir pengantarnya dengan penuh keyakinan ditulis: “…tak selayaknya kita allergi terhadap komunisme.Sudah lama ideologi itu bangkrut….Karena itu tak perlu melarang penyebaran ajaran komunisme, marxisme dan leninisme..Menyebut komunis sebagai atheis merupakan salah kaprah…hadapi komunisme dengan rileks..sebab ideologi itu biasa-biasa saja.”
Next: Demi Allah…

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi