Oleh: Masayu Indriaty Susanto
KEMPALAN: Tepat saat Taliban secara mengejutkan berkuasa (kembali) di Afghanistan, seorang gadis berkerudung muncul di jaringan televisi internasional. Dengan raut tegang dan prihatin, dia meminta para pemimpin dunia tidak hanya diam dan menonton dari layar kaca apa yang terjadi di Afghanistan.
”Konflik yang melanda Afghanistan begitu dalam dan rumit. Banyak sekali pihak yang ingin berperang. Masalahnya sangat kompleks, baik lokal, regional, maupun global. Tapi Anda semua harus tahu, jika korban sesungguhnya atas semua konflik ini, adalah warga sipil, terutama perempuan dan anak-anak. Saya sangat khawatir dengan para perempuan di Afghanistan,” ujarnya. Gadis muda itu bernama Malala Youstafai. Seorang perempuan belia dari suku Pasthun, Pakistan.
Malala memang punya kenangan kelam dengan Taliban. Dan saat Taliban kembali berkuasa di Afganistan, banyak sorotan kembali tertuju padanya. Sembilan tahun lalu, gadis itu terbaring koma dengan peluru menembus kepala dan lehernya. Dua pemuda milisi Taliban menghentikan dan menembaki bus sekolah yang ditumpanginya menuju rumah.
Peluru lain juga melukai dua teman perempuannya. Taliban menembak Malala karena gadis itu tak juga berhenti bersuara memperjuangkan pendidikan buat anak-anak perempuan. Saat itu Malala baru berusia 14 tahun.
Pada Juli 2021 lalu, Malala juga muncul di sampul depan majalah British Vogue. Dalam wawancara dengan majalah gaya hidup paling terkenal di dunia itu, dia menyampaikan pesan yang terang kepada dunia. Konsisten dengan apa yang diyakininya selama ini. Bahwa hanya pendidikan lah yang bisa melawan terorisme dan ekstrimisme.
Dan semua anak-anak tidak seharusnya terhambat untuk mendapatkan pendidikan hanya karena terlahir di daerah konflik. Di mana mereka terjebak di tengah para petarung dengan berbagai kepentingan politik maupun ideologi.
Dengan nada sinis, Malala juga mengecam para politisi yang menurutnya selalu melakukan kebohongan. ”Para politisi berdasi itu selalu berjanji akan membangun sekolah. Tapi yang terjadi adalah, mereka selalu menghabiskan uang banyak sekali untuk membeli bom dan tank,” tudingnya dengan raut kesal.
Gadis berusia 23 tahun ini baru saja menamatkan pendidikannya dari Oxford University. Penampilannya merona pada majalah itu. Malala mengenakan gaun merah menyala rancangan desainer papan atas dunia Stella McCartney. Pada halaman lainnya, dia tampil dengan kemeja dan celana linen merah rancangan desainer Uruguay Gabriela Hearst, yang dipadukan dengan jilbab warna biru.
“Saya Malala. Dan kerudung ini adalah identitas saya. Bukan sebuah simbol jika saya tertindas,” ujarnya.
Next: Sembunyikan Buku di Balik Kerudung

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi