Kamis, 9 Juli 2026, pukul : 00:36 WIB
Surabaya
--°C

Malala, Taliban, dan  Nafsu  Perang  Para Petarung

Hidup Malala seharusnya sempurna. Dia lahir dan tumbuh di lembah Swat, sebuah daerah di barat daya Pakistan yang digambarkan bagaikan surga: dikelilingi gunung yang hijau, berudara sejuk, subur, dan banyak terdapat danau-danau dengan air sejernih kristal. Daerah itu berbatasan langsung dengan Afghanistan.

Sayangnya, keindahan alam itu tidak dibarengi dengan kedamaian. Setidaknya bagi para perempuan dan anak-anak di sana. Konflik tak berujung, perang yang tak juga usai atas nama politik, ekonomi, juga isu agama terus berkecamuk. Pasca Uni Soviet dengan pemerintahan komunisnya runtuh, Pakistan memang masih kacau balau. Korupsi merajalela. Hukum berpihak pada kekuasaan atau kelompok borjuis. Jurang dalam terbentang antara si miskin dan si kaya.

Malala memang punya kenangan kelam dengan Taliban. Dan saat Taliban kembali berkuasa di Afganistan, banyak sorotan kembali tertuju padanya. Sembilan tahun lalu, gadis itu terbaring koma dengan peluru menembus kepala dan lehernya.

Saat Taliban menguasai daerah itu pada 2007, rakyat di sana yang sebenarnya memang sudah muak dengan korupsi, kolusi, dan hukum yang amburadul dari pemerintah mereka saat itu, menyambut baik. Taliban menerapkan hukum sesuai syariah Islam yang tegas. Seperti hukuman fisik bagi para pencuri, perampok, dan pembunuh. Dan hal itu sukses memberantas korupsi, kolusi, juga membuat wilayah itu aman untuk perdagangan dan aktifitas warga.

BACA JUGA  Mengapa Penderita NPD Tidak Betah di Hubungan yang Nyaman

Namun Taliban, yang banyak diberitakan menganut Islam Sunni yang ultrakonservatif, juga menerapkan beberapa aturan syariah dengan intrepretasi mereka. Televisi dan hiburan seperti film dan musik dilarang. Karena dianggap merusak moral masyarakat dan membawa ajaran kafir. Semua perempuan juga harus mengenakan burka dan beraktifitas di rumah.

Perempuan melakukan pekerjaan dosmestik, seperti mengurus rumah tangga, melahirkan, dan mengurus anak. Dan anak perempuan hanya boleh bersekolah hingga usia 10 tahun. Karena itulah, Taliban banyak menutup sekolah untuk anak perempuan. Termasuk sekolah yang didirikan ayah Malala, Zianuddin Yousafzai, yang seorang guru.

Malala, yang waktu itu seorang abege berusia 14 tahun, yang sedang semangatnya sekolah dan ingin menjadi seorang dokter, tidak terima. Dia menuliskan protesnya melalui blog melalui BBC berbahasa Urdu. Bahkan juga menulis esai ke New York Times meski dengan nama samaran. Dia juga melantang saat diwawancarai seorang jurnalis TV Pakistan. Publikasinya mengkritik Taliban dan melawan pelarangan terhadap anak-anak perempuan untuk sekolah.

BACA JUGA  Kamu Bahagia, Narsisis Terluka

”Berani-beraninya Taliban mengambil hak saya untuk pergi sekolah,” ujarnya berapi-api. Dalam buku autobiografinya yang berjudul I Am Malala dia berkisah, meski dilarang Taliban, dia tetap pergi ke sekolah dengan menyembunyikan buku-bukunya di balik kerudung panjangnya.

Apa yang dilakukan Malala membuat Taliban berang. Terjadilah penembakan yang menggemparkan dunia itu. Selama 10 hari gadis itu tidak sadarkan diri. Peluru itu nyaris menembus otaknya. Malala pun segera diterbangkan ke sebuah rumah sakit di Birmingham, Inggris, dan ditangani 17 dokter. Nyawanya pun tertolong.

Namun ancaman pembunuhan tetap ada. Dan demi keselamatannya, Malala kemudian bermukim di Birmingham, ribuan kilometer jauhnya dari desanya yang indah dan teman-teman yang disayanginya. Hingga saat ini.

Next: Peraih Nobel Termuda

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.