Oleh : Hamid Abud Attamimi, Aktivis Dakwah dan Pendidikan, tinggal di Cirebon
KEMPALAN: Hari-hari ini kita kembali dibuat terperangah setelah menyaksikan video, betapa seorang ulama yang sedang menyampaikan tausiah dihadapan jamaahnya, tiba-tiba dari arah kanannya menyeruak seseorang yang berlari kearahnya dan terindikasi ingin mencelakakan ulama tersebut.
Belum hilang dari ingatan, betapa Allah yarham Syeikh Ali Jaber bahkan sempat ditusuk dengan senjata tajam pun dihadapan khalayak yang serius mendengar ceramahnya.
Ini perbuatan biadab dan gila, tapi sesuatu yang gila tak mesti selalu dilakukan orang gila.
Penganiayaan atau ancaman kekerasan tak peduli dilakukan pada siapa, adalah sebuah perbuatan tak berperikemanusiaan, apa lagi dilakukan pada seorang ulama atau pemuka agama. Ulama adalah tokoh penyampai Ilmu, teladan dalam tutur kata dan perbuatan, darinya kita berharap sentuhan rohani bagi perbaikan kehidupan keseharian kita. Lalu mengapa ada orang yang begitu membencinya, bahkan jelas ingin melukai dan bahkan berniat menghilangkan nyawanya?
Siapakah pihak yang paling diuntungkan dengan menciptakan suasana dan perasaan tidak nyaman ditengah Ummat?
Analisa yang tergesa-gesa memang tidak boleh dilakukan, apalagi menganggap kejadian tersebut sebagai dilakukan oleh orang gila.
Kejadian yang berulang dengan modus yang sama, sangat mungkin tidak berdiri sendiri, sekalipun mungkin tidak punya keterkaitan, tetapi mungkin saja digerakkan oleh kesamaan alasan dan tujuan.
Bahkan sangat mungkin bahwa si penyerang tersebut menjadikan ulama sebagai sasaran cuma tujuan antara, kebencian lebih justru pada apa yang disampaikan atau diajarkan oleh ulama tersebut, dengan kata lain membenci Islam.
Ulama, siapapun dia, di dalam Islam cuma menyebarkan dan menyampaikan Kebaikan, yang bersandar pada dua hal yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallah Alaihi Wassalam.
Jadi, membenci, atau berusaha membungkam, atau menghilangkan nyawa ulama, dalam tujuan jangka panjang patut diduga bertujuan untuk memutus mata rantai pendidikan untuk menyadarkan ummat akan keharusan mengerti dan menjalankan perintah serta menjauhi larangan pada dua sumber hukum tersebut, yaitu Al-Qur’aan dan Sunnah.
Dalam Al Qur’an, Allah telah mengabarkan pada kita tentang siapa yang punya kebiasaan membenci dan membunuh para Nabi atau Pembawa Risalah yaitu Yahudi.
لَقَدْ سَمِعَ اللّٰهُ قَوْلَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ فَقِيْرٌ وَّنَحْنُ اَغْنِيَاۤءُ ۘ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوْا وَقَتْلَهُمُ الْاَنْۢبِيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّۙ وَّنَقُوْلُ ذُوْقُوْا عَذَابَ الْحَرِيْقِ
Sungguh, Allah telah mendengar perkataan orang-orang (Yahudi) yang mengatakan, “Sesungguhnya Allah itu miskin dan kami kaya.” Kami akan mencatat perkataan mereka dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa hak (alasan yang benar), dan Kami akan mengatakan (kepada mereka), “Rasakanlah olehmu azab yang membakar!” (Q.S Ali Imran: 181).
Yahudi melakukan itu semua karena mereka ingin para Nabi hanya mengajarkan yang mereka suka dan tak melarang kebiasaan sesat mereka, seperti curang dalam perdagangan, zina, riba dan lain sebagainya.
Yahudi menghalalkan segala cara, termasuk memalsukan dan mengubah firman Allah, pantas jika Allah mengutuk mereka.
مِنَ الَّذِيْنَ هَادُوْا يُحَرِّفُوْنَ الْكَلِمَ عَنْ مَّوَاضِعِهٖ وَيَقُوْلُوْنَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَّرَاعِنَا لَيًّاۢ بِاَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِى الدِّيْنِۗ وَلَوْ اَنَّهُمْ قَالُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ وَاَقْوَمَۙ وَلٰكِنْ لَّعَنَهُمُ اللّٰهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوْنَ اِلَّا قَلِيْلًا
(Yaitu) di antara orang Yahudi, yang mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Dan mereka berkata, “Kami mendengar, tetapi kami tidak mau menurutinya.” Dan (mereka mengatakan pula), “Dengarlah,” sedang (engkau Muhammad sebenarnya) tidak mendengar apa pun. Dan (mereka mengatakan), “Ra‘ina,” dengan memutarbalikkan lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan, “Kami mendengar dan patuh, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami,” tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, tetapi Allah melaknat mereka karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali sedikit sekali.” (Q.S An Bisaa: 46).
Namun kita meyakini bahwa perilaku Yahudi ini bukan hanya spesifik dilakukan Yahudi, ada anasir yang ingin bangsa yang heterogen dan bersatu ini menjadi terpecah. Tujuan politik sebagai segalanya, juga menjadikan mereka menghalalkan segala cara dan tidak mentolerir hak hidup mereka yang berbeda pendapat, mereka itulah yang berpaham Komunis dan Marxis.
Dari dulu musuh utama mereka adalah Islam dan Muslimin.
Kerusakan moral anak bangsa adalah prioritas mereka, dengan penyebaran secara masif narkoba dan pornografi.
Negara ini berkomitmen menghormati agama, dan itu adalah amanat konstitusi. Agama punya kedudukan khusus dan harus mendasari peri kehidupan warga negaranya.
Negara bahkan menempatkan pengakuan akan keberadaan Tuhan pada sila pertama dalam dasar negara, yang juga berarti mendasari sila-sila yang lain: Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan dalam Permusyawaratan dan Keadilan, adalah difahami dan dijalankan semata karena itu disadari sebagai amanat dari Allah Subhanah wa Ta’ala yang melalui Rahmat-Nya menganugerahkan kemerdekaan.
Maka di Negeri ini tak ada tempat bagi mereka yang membenci ulama, apalagi membenci dan menihilkan agama. Komunis dan Marxis tak pernah boleh hidup di Negara ini, karena keduanya menganggap agama sebagai candu dan bahkan mencaci maki Tuhan.
Maka Pemerintah seharusnya memahami ini, dan meminimalisir segala potensi menuju kesana, termasuk menghina simbol agama, seperti kitab suci, ulama, apalagi mencaci maki Rasulullah Shallallah Alaihi Wassalam dan para Sahabatnya.
Semua yang besar bermula dari yang kecil, asap pun tak akan muncul jika tak ada api. Maka pemerintah tidak boleh abai pada potensi ini, Islam adalah mayoritas, dan negeri ini sudah membuktikan betapa peran ulama dan ummat dalam menjaga dan membela keutuhan NKRI.
Tidak bermaksud mengecilkan peran dari penganut agama lain, tapi peran muslimin yang signifikan adalah fakta sejarah. Ulama adalah pewaris Nabi, maka seharusnya tak ada yang ditulis, disuarakan dan diteladankan mereka selain yang telah diteladankan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.
Tak ada tempat yang paling nyaman selain berdekatan dengan mereka para ulama, dalam majelis mereka, karena tak ada yang diajarkan kecuali Al-Qur’an dan Sunnah, dan kita belajar mencintai keduanya seperti Para Sahabat Radhiyallah Anhum. (*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi