Check In Hotel di Bandung Wajib Swab Antigen

waktu baca 6 menit
Bupati Bandung Dadang Supriatna meninjau Sentra Vaksinasi Covid-19 di Dome Bale Rame, Soreang (14/9/21).(FOTO: Humas Pemkab)
Ilham Bintang

Catatan Ilham Bintang (Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat)

KEMPALAN: Untuk pertama kali setelah PPKM diberlakukan, Sabtu (18/9) saya ke Mal Puri Indah. Di lobby utama, petugas mal menyeleksi pengunjung dengan SOP cukup ketat. Pengunjung harus memiliki aplikasi Pedulilindungi di ponsel. Aplikasi digunakan untuk Scan QR Barcode. Yang masuk hanya pengunjung yang sudah dua kali vaksin. Pemeriksaan berikutnya adalah suhu badan. Dengan kondisi itu pengunjung bukan hanya terseleksi dari batas kapasitas yang dibolehkan. Tetapi terutama dengan seleksi itu dipenuhi target bahwa pengunjung aman Covid19. Jumlah pengunjung mal memang belum banyak. Namun, itu adalah permulaan mal dapat beroperasi dengan aman dan nyaman walau dalam PPKM.
Hari Minggu (19/8) saya trip ke Bandung. Ketika check in di hotel, petugas memberitahu kewajiban semua tamu menginap menjalani tes Swab Antigen. Biaya Rp.100 ribu / jiwa menjadi tanggungan tamu. Semua tamu dengan senang hati memenuhi kewajiban itu untuk mencapai keseragaman pemahaman soal perlindungan kesehatan dan rasa nyaman. Ini menjadi kebutuhan mendasar masyarakat beraktifitas di masa pandemi.

Tingkat hunian hotel ternyata tidak berkurang karena aturan tersebut.
Di masa PPKM, setiap akhir pekan Pemkot Bandung juga memberlakukan aturan ganjil genap bagi kendaraan yang masuk di Kota Kembang.

Itulah fenomena menarik sebulan terakhir di Tanah Air. Merespons penurunan kasus positif Covid19, masyarakat justru menunjukkan sikap bijaksana dan waspada. Seperti sudah tertanam kuat di mindset mereka masih dalam keadaan bahaya : serangan balik virus sewaktu- waktu bisa terjadi. Ini belajar dari pengalaman berbagai negara maju menangani pandemi. Banyak negara yang awalnya jumawa unjuk kobolehan berhasil mengendalikan pandemi, namun kelabakan ketika mendapat serangan balik virus ganas itu. Sebut saja, AS, Inggris, Selandia Baru, Australia, dan bahkan Singapura. Pemerintah negara- negara maju itu kelabakan karena warganya menunjukkan sikap tidak perduli pada situasi mutakhir pandemi.

Sejauh pengamatan, kepatuhan masyarakat kita akan menjadi modal besar, sekaligus senjata pamungkas untuk melawan Covid19.
Contohnya, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat ( PPKM) yang kembali diperpanjang mulai Selasa (21/9) untuk dua pekan ke depan atau hingga 4 Oktober, tidak lagi menghadapi resistensi dari publik. Sehingga Koordinator PPKM Luhut Binsar Panjaitan pun bisa santai mengumumkan perpanjangan itu, Senin (20/9) petang.
Walau diperpanjang, toh ada kreasi- kreasi pemerintah yang secara spesifik memberi pelonggaran pada beberapa sektor kegiatan masyarakat. Seperti untuk tempat wisata, bioskop yang boleh beroperasi dengan kapasitas 50 %. Demikian dengan Mal/ Pusat Perbelanjaan, yang boleh dibuka dengan pembatasan 50 % dan menerima kunjungan anak di bawah 12 tahun. Restoran boleh beroperasi dengan kapasitas 50 % dan durasi waktu makan di tempat kini 60 menit atau satu jam.

Pemerintah menyatakan akan terus menerapkan PPKM di Jawa-Bali dan luar Jawa-Bali selama virus Corona belum sepenuhnya hilang. Penerapan PPKM di Jawa-Bali akan dievaluasi tiap satu pekan dan di luar Jawa-Bali tiap dua pekan sekali. Luhut mengatakan PPKM akan selamanya menjadi instrumen pemerintah dalam pengendalian Covid-19 di Tanah Air.

Next: Dunia Tercengang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *