Dia baru bisa memahaminya musim lalu. Faktanya, musim lalu Pecco kali pertama dapat berdiri di podium sejak promosi ke MotoGP tahun 2019. Tempatnya pun sama dengan yang saat akhir pekan kemarin dia taklukkan, Misano. Saat itu dia podium kedua.
Teknik pengereman Lorenzo yang dia tiru. ’’Saya menandai perbedaannya di awalan saat pengereman. Saya mengerem sangat keras, lalu saya lanjutkan selambat yang saya bisa. Namun, saya pikir perbedaannya ada di awalannya,’’ beber pembalap juara dunia Moto2 2018 tersebut.

Pemahamannya terhadap motor Ducati Panigale juga ikut mempengaruhi. ’’Sisi bagusnya Panigale adalah pada tingkat gaya berkendara dan ban. Karena yang kami pakai ketahanan ban Michelin, yang punya konstruksi serupa. Sehingga Anda bisa memahami front end bekerja dalam MotoGP,’’ sambung Pecco dalam penjelasannya.
Itu didukung dengan karakter motor Ducati yang dia tunggangi. Stabilitas jadi nilai plus-nya. ’’Sehingga, di tikungan pun kami bisa masuk dengan cepat, lebih menikung tapi motor tidak banyak bergerak,’’ klaim Pecco.
Setidaknya, dengan menganggap Lorenzo sebagai role model-nya selain Valentino Rossi, sang mentor, Pecco bisa punya naluri pemenang. Sama seperti Rossi, Lorenzo pun pernah sukses memenangi MotoGP tiga kali, 2010, 2012, dan 2015. Pecco? (Yunita Mega Pratiwi)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi