Senin, 20 April 2026, pukul : 23:22 WIB
Surabaya
--°C

Saipul Jamil

KEMPALAN: Maunya memboikot Saipul Jamil, tapi malah memberi publikasi gratis. Sekeluar dari penjara, beberapa hari terakhir ini, Saipul malah menjadi lebih populer. Gegara ada 400 ribu orang yang menandatangani petisi untuk memboikotnya muncul di televisi, Saipul malah viral dimana-mana.

Saipul yang pernah terlibat kasus pedofilia–pelecehan seksual terhadap anak-anak–tidak mendapatkan sebutan sebagai ‘’penyintas pelecehan seksual’’, sebagaimana KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) mengusulkan penyebutan ‘’penyintas koruptor’’ kepada mantan narapidana kasus korupsi.

Saipul dicegah muncul di televisi karena dianggap akan membawa pengaruh buruk kepada pemirsa. Kemunculan Saipul dikhawatirkan akan memberi pendidikan buruk kepada pemirsa televisi, terutama yang masih kanak-kanak, karena dianggap melakukan glorifikasi terhadap pelaku kejahatan seksual.

Ini adalah peningkatan standar moral yang patut diapresiasi. Para pelaku kejahatan harus diboikot dari media massa nasional. Banyaknya penandatangan petisi yang memboikot Saipul bisa menjadi indikasi bahwa masyarakat sadar mengenai pengaruh buruk yang ditimbulkan televisi terhadap khalayak. Karena itu, mantan narapidana seperti Saipul harus diboikot dari televisi.

Sebagai bagian dari media massa, televisi diharapkan memainkan peran idealis untuk memberikan informasi, memberikan edukasi, melakukan kontrol sosial, selain memberikan hiburan kepada khalayaknya.

Dalam praktinya, televisi lebih banyak memainkan peran entertaining (hiburan) saja dibanding tiga peran lainnya. Peran-peran informasi, pendidikan, dan kontrol sosial, mungkin dilakukan oleh televisi, tapi semuanya dikemas dalam bentuk hiburan.

Itu memang sudah fitrah televisi dari ‘’sononya’’. Televisi diciptakan semata-mata untuk memberikan hiburan. Dari pagi sampai pagi lagi, televisi hanya menyajikan hiburan. Informasi dalam bentuk pemberitaan akan dikemas sebagai hiburan. Edukasi yang memberikan pendidikan juga akan dikemas dalam bentuk entertainment. Bahkan, kalau harus melakukan kontrol sosial pun, televisi akan mengemasnya dalam bentuk entertainment.

Karena itu, ketika Saipul Jamil bebas dari penjara maka naluri hiburan televisi mencium aroma yang sangat sedap. Pembebasan Saipul mempunyai unsur-unsur entertainment yang komplet, untuk disajikan menjadi makanan yang bakal disantap sampai habis oleh audiens.

Karena itu kemudian ada siaran live dari pintu penjara. Ada pengalungan bunga, ada sambutan, ada seremonial, ada sejumlah fans yang menyambut dengan gegap gempita. Semua diatur sesuai skenario yang rapi untuk disajikan sebagai entertainment yang extravaganz.

Tim kreatif sudah menyusun story board dan run down yang rapi. Dialog-dialog sudah disiapkan, dan narasi sudah dibikin. Even pembebasan itu harus menjadi entertainment yang benar-benar menghibur. Saipul Jamil didandani dan didapuk sebagai pahlawan dan superstar.

Sambutannya jauh lebih meriah dibanding sambutan terhadap Leani Ratri Oktila dan Khalimatus Sadiyah. Siapa dia? Tidak banyak yang tahu. Leani dan Khalimatus adalah pasangan atlet bulu tangkis yang memenangkan medali emas cabang bulu tangkis pada Paralimpiade di Tokyo.

Dua atlet difabel itu menjadi pahlawan Indonesia di kancah internasional, sama seperti Greysa Polli dan Apriani Rahayu. Bedanya, Leani dan Khalimatus adalah atlet difabel yang menyandang kekurangan fisik. Tapi prestasi Leani melampaui semua atlet Indonesia yang pernah berlaga di arena Paralimpiade. Leani memenangkan dua medali emas dari cabang bulutangkis, ganda putri dan ganda campuran bersama Hery Susanto.

Tidak ada sambutan yang gegap gempita untuk Leani dan Khalimatus. Tidak ada sambutan kepahlawanan untuk Leani dan kawan-kawan. Tidak ada satu pun televisi yang sudi melakukan siaran langsung untuk menyambut kedatangan Leani dan kawan-kawan.

Mengapa demikian? Karena para pengelola televisi itu tidak melihat ada potensi hiburan yang bisa dijual dari para atlet difabel. Coba, siapa yang mau menonton para atlet difabel yang baru turun dari pesawat dengan membawa kalungan medali emas? Mau dikemas seperti apa pun even itu tidak bisa menjadi entertain yang extravaganz.

Kita menonton televisi hanya untuk disodori dengan hiburan. Tidak lebih dan tidak kurang. Sehebat apa pun peristiwanya, televise tidak akan menyiarkannya kalau tidak menghibur. Kita mencari hiburan di televisi sampai kekenyangan dan akhirnya mati. Sebuah acara kontes dangdut akan berlangsung dari maghrib sampai tengah malam non-stop tanpa henti. Itulah televisi. Itulah hiburan.

Menghibur Diri Sampai Mati. ‘’Amusing Ourselves to Death’’ adalah buku yang ditulis sosiolog Amerika Neil Postman pada 1985. Buku jadul itu sampai sekarang masih tetap dijadikan referensi bagi yang ingin memahami hakikat televisi.

Terasa ada yang ironis di dalamnya. Kita mencari hiburan pada televisi, tapi dengan hiburan itu kita tidak menjadi lebih senang dan bahagia. Kita tidak menjadi segar dan berumur panjang, tapi kita mencari hiburan untuk mencari mati.

Itulah hakikat televisi, menurut Postman. Menghibur khalayak dan kemudian membunuhnya pelan-pelan. Hakikat televisi adalah hiburan. Karena itu televisi tidak bisa menjalankan peran pemberi informasi, pengedukasi, atau pengontrol sosial. Peran-peran itu dilakukan televisi sebagai pelengkap peran utamanya sebagai entertainer.

Itulah sebabnya semua acara dikemas sebagai entertainment. Berita yang membawa informasi, harus dikemas sebagai hiburan yang atraktif. Diskusi dan debat politik, harus tetap dikemas sebagai pertunjukan show biz. Apa saja yang muncul di televisi adalah hiburan.

Televisi beda dengan koran dan majalah yang bisa menyajikan narasi panjang dan mendetail. Karena itu koran dan majalah bisa menjalankan fungsi ideal media massa, memberi informasi, edukasi, dan kontrol sosial. Itulah yang oleh Marshall McLuhan disebut sebagai ‘’the medium is the message’’, media itulah yang menjadi pesannya.

Hakikat televisi sebagai media hiburan sudah melekat menjadi hakikat. Televisi tidak bisa dipaksa menjadi media pendidikan, karena secara teoretis hal itu bertentangan dengan hakikat. Itulah yang mendasari pandangan McLuhan bahwa media membawa ‘’message’’ masing-masing.

Jadi, kalau kita mengharapkan televisi memberi pendidikan kepada khalayak, itu adalah harapan yang salah alamat. Lebih tepat kalau kita bersyukur bahwa televisi tidak memberikan pendidikan kepada khalayak. Kalau ada yang berharap televisi memberi informasi, maka harapan itu akan menjadi harapan kosong. Akan sangat lebih baik kalau televisi tidak usah memberi informasi. Kalau ada yang berharap televisi akan melakukan kontrol sosial, harapan itu akan menjadi pepesan kosong. Akan jauh lebih baik jika televisi tidak melakukan kontrol sosial.

Televisi tercipta bukan untuk tugas-tugas itu. Televisi tercipta untuk menghibur. Itulah inti pandangan Postman. Dia menyimpulkan bahwa kita akan dihibur oleh televisi sampai mati. Kita terhibur oleh televisi, tapi bersamaan dengan itu kita mati dibunuh oleh televisi.

Mengharapkan dan memaksa televisi untuk tidak menyiarkan acara-acara Saipul Jamil adalah pemerkosaan terhadap hakikat televisi. Karena itu, cara terbaik adalah tidak usah menghidupkan televisi, kalau tidak ingin mati bunuh diri. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.