Sabtu, 13 Juni 2026, pukul : 13:07 WIB
Surabaya
--°C

Gus Samsudin

KEMPALAN: MASALAH perdukunan sedang menjadi viral. Yang pertama soal adu sakti antara seseorang yang disebut Gus Samsudin dengan seorang pesulap yang disebut sebagai ‘’Pesulap Merah’’. Yang kedua film layar lebar ‘’Pengabdi Setan’’ sedang diputar di bioskop di Indonesia dan kabarnya banyak ditunggu oleh pecinta film klenik dan horor.

Dua hal itu terjadi hampir bersamaan dan menunjukkan kecenderungan publik terhadap perdukunan dan klenikisme yang sangat besar. Kasus Samsudin menunjukkan fenomena paradoks antara perdukunan dan kemajuan digital. Di satu sisi Samsudin mempraktikkan klenikisme tapi di sisi lain dia memanfaatkan media digital untuk mencari pengikut.

Dukun sesakti apapun sulit punya pengikut sampai satu juta orang. Tapi dukun digital seperti Samsudin punya subscriber sampai 1 juta dan kanalnya di Youtube ditonton jutaan orang. Ia membuat konten secara rutin dan memamerkan ‘’kesaktian’’ dengan melakukan pengobatan atau memamerkan kekuatan gaib.

BACA JUGA  DPP PKB Umumkan 38 Komandan Baru, Siapkan Trah Kemenangan 2029

Di Blitar, Jawa Timur, Samsudin punya padepokan yang diberi nama ‘’Nur Dzat Sejati’’. Ia melengkapi namanya dengan sebutan ‘’Jadab’’, dari bahasa Arab yang berarti eksentrik dan mempunyai ilmu linuwih yang berbeda dengan orang-orang kebanyakan. Dalam tradisi sufi seorang ulama disebut ‘’jadzab’’ atau ‘’majdzub’’ ketika dia sudah menyatu dan tenggelam dalam kecintaan kepada Allah, sehingga tidak lagi memikirkan hal-hal duniawi. Mereka yang majdzub seringkali bertingkah seperti layaknya orang gila.

BACA JUGA: Baasyir

Samsudin tentu bukan orang gila. Ia menyebut dirinya sendiri jadab, mungkin sebagai bagian dari strategi marketing. Samsudin mengaku bahwa dirinya bukan gus atau kiai. Sebutan gus hanya diberikan kepada anak kiai, tapi sekarang sangat sering seseorang muncul dengan embel-embel gus supaya lebih berwibawa. Dalam sebuah unggahan di medis sosial Samsudin mengaku bukan gus tapi sekadar tukang pulung pencari rongsokan.

BACA JUGA  Tarif Angkutan Umum di Jatim Belum Naik, Dishub Tunggu Keputusan Pemerintah Pusat

Ungkapan itu mungkin dimaksud merendahkan diri. Tapi ketika ia menyebut dirinya sebagai jadzab maka hal itu berarti dia memberi julukan tinggi kepada dirinya sendiri. Julukan jadzab hanya khusus diberikan kepada seseorang yang dianggap sebagai wali, dan tidak pernah ada wali yang menempelkan gelar jadzab di belakang namanya.

Fenomena Samsudin sudah pernah muncul sebelumnya di Jawa Timur. Pada 2018 di Probolinggo muncul seseorang yang menyebut dirinya Dima Kanjeng Taat Pribadi. Dia mempunyai padepokan dengan banyak pengikut yang meyakini bahwa dia punya karomah dan kesaktian.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.