Kamis, 30 April 2026, pukul : 08:04 WIB
Surabaya
--°C

Thailand dan Agama, Antara Buddha, Animisme, dan Brahmanisme

BANGKOK-KEMPALAN: Jika Indonesia dikenal sebagai negara dengan penududuk mayoritas Islam, sama halnya dengan Buddha yang sangat melekat dengan Thailand. Bahkan jika kita menonton horor komedi ala Thailand, kita pasti menemukan sebuah sentuhan ke-Buddha-an dalam film-film tersebut.

Berkaitan dengan agama, berbeda dengan Buddha di Indonesia pada masa lampau yang mana beraliran Mahayana, Buddha di Thailand adalah Theravada yang menurut Ann Carter dalam situs Thaiger, pemerintah Thailand tergolong teokrasi karena memiliki banyak hari raya publik dan upacara tertera dalam tanggalannya.

Masyarakat Thailand sendiri mengidentifikasi diri mereka sebagai penganut setia Buddha, namun menariknya, kebanyakan hal yang mereka percayai dan terapkan berasal dari Brahmanisme dari Hindu dan juga agama animisme lokal yang percaya kepada arwah dan hantu. Para penganut animisme biasanya tidak menganggap agamanya sebagai sebuah agama namun lebih seperti pandangan dunia. Ini kenapa kita bisa menemukan banyak film horor di Thailand.

Adapun animisme di Thailand disebut dengan nama Satsana Phi yang mana menggambarkan dunia sebagai tempat yang sakral dimana manusia adalah bagian darinya. Pandangan dunia khas Thailand ini juga memiliki dukunnya dan pemujaan terhadap arwah leluhur. Para penganutnya percaya bahwa setiap bagian di dunia memiliki “penghuninya” dan ada sejenis malaikat pelindung yang mereka sebut sebagai Thewada, sementara arwah yang buruk dikenal dengan nama Phi Phetu yang dulunya merupakan manusia yang jahat. Dalam satu manusia ada beberapa arwah yang bisa pergi, disebut sebagai khwan.

Melansir Thaiger, arwah manusia yang mengalami kekurangan dapat menjadi hantu yang berbahaya, sementara arwah manusia yang berbuat baik selama hidupnya akan menjadi hantu yang baik. Salah satu legenda hantu ternama di Thailand yang juga tampil dalam sejumlah film adalah Mae Nak Phra Khanong. Adapun salah satu tokoh leluhur yang paling dihormati di negara tetangga Kamboja itu adalah Raja Chulalongkorn.

Akan tetapi, semua upacara yang memperingati siklus dalam kehidupan di Thailand justru berakar dari Brahmanisme, bukan Buddha, seperti Rae Nak Kwan. Sementara pakaian dan penggundulan biksu Buddha sebetulnya berasal dari tradisi jauh sebelum kemunculan agama itu yang disebut sebagai tradisi Semana.

Meskipun terkadang terdapat kontradiksi dalam pelaksanaan ritual Buddha dan animisme, namun Carter mengatakan bahwa biksu berperan penting dalam kehidupan umum masyarakat di Thailand. (Thaiger, reza hikam)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.