
KEMPALAN: Yang disebut pertarungan biasanya antara dua pihak untuk kemudian dapat ditemukan salah satu pemenangnya. Sulit dibayangkan jika pertarungan yang terjadi adalah simultan, A melawan B sekaligus melawan C juga D, E, dan seterusnya. Jika Persebaya bertarung habis-habisan melawan Arema tentu hal biasa. Yang tidak biasa adalah apabila ada Persebaya, Arema, Persik Kediri, dan Persib Bandung misalnya, 4 tim turun bersamaan dalam satu lapangan dengan 4 mistar gawang dan bola yang dimainkan hanya 1.
Seru, itulah pertarungan simultan dan itulah yang sedang dan akan terjadi di era digitaliasi. Semua sektor, bidang, dan segala hal yang ada sepertinya sekarang begitu mudahnya diterobos digitalisasi. Hingar bingar digitalisasi rasanya semakin meriah saja di dunia perbankan dan gaungnya semakin menderu di masa pandemi covid-19 yang “mengharuskan” semuanya serba untuk tidak perlu bertemu.
Saat ini minimal sudah terdapat 7 bank yang sudah mendapatkan legalitas sebagai bank dengan layanan perbankan digital (digital banking). Mencermati hal ini secara sederhana dapat dipahami bahwa saat ini pasti sedang terjadi “pertarungan simultan” atau minimal persiapan kearah pertarungan simultan. Ijin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tercatat telah terbit untuk Motion Banking-nya MNC Bank, Bank Aladin (BANK), Jenius dari Bank BTPN, Wokee dari Bank KB Bukopin, Digibank milik Bank DBS, TMRW dari Bank UOB, dan Jago milik Bank Jago.
Selanjutnya yang sedang menunggu pengesahan ada Bank BCA Digital, PT BRI Agroniaga Tbk, PT Bank Neo Commerce Tbk, PT Bank Capital Tbk, PT Bank Harda International Tbk, PT Bank QNB Indonesia Tbk, juga PT Bank KEB Hana. Dimungkinkan masih disambung antrian bank-bank yang lain yang sedang dan akan mengajukan diri dengan layanan digital banking. Tawaran kecepatan dan kemudahan, inilah yang dikompetisikan di antara para pemain digital banking. Mulai pembukaan rekening online tanpa memerlukan sosok kantor cabang secara fisik, tanpa perlu mendapatkan senyum manis mbak teller cantik.
Akses dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun. Tanpa perlu ke ATM yang mengharuskan biaya bahan bakar, menembus kemacetan jalan dan bayar parkir. Juga upgrade layanan untuk aktifasi fungsi e-money, e-wallet, transfer digital, dan yang lain. Termasuk penyajian pembayaran billing dan pembelian dalam aplikasi dengan lebih nyaman, serta menawarkan pelayanan perbankan digital sempurna bagi pengguna atau nasabahnya.
Rata-rata berbasis artificial intellegence (AI) yang memungkinkan pengguna mendapat begitu banyak kemudahan termasuk networking dan pengembangan unit bisnis. Adu kreasi dan adu inovasi antar digital banking telah menjadi sebuah kompetisi perbankan tersendiri.
Namun jika dicermati lebih jauh sesungguhnya pertarungan digital banking ini tidak hanya simultan, antar satu dengan yang lain saling adu ide. Pertarungan digital banking juga terjadi dengan dirinya sendiri. Untuk sampai pada sebuah kemenangan yang ditandai dengan nominal transaksi dan besaran pengguna digital banking ternyata harus dipahami bahwa digital banking telah mematahkan organ-organ sendiri. Keberadaan digital banking tentu berakibat pada pengurangan karyawan perbankan.
Hal yang demikian tentu kecil bagi manajemen, tapi pastinya melukai diri sendiri. Selanjutnya tentu masih akan dapat diidentifikasi lebih lanjut sektor, bidang, hal, atau bagian-bagian apa saja yang pada akhirnya harus terpapar karena digitalisasi perbankan ini. Dan, Mukidi pun tak dapat menarik ongkos parkir, sepi. Semakin jarang orang datang ke bank. Barangkali ada ide untuk orang-orang yang terpapar digitalisasi perbankan seperti Mukidi? Salam.
(Bambang Budiarto – Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya, Redaktur Tamu Kempalan.com)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi