Selasa, 21 April 2026, pukul : 21:34 WIB
Surabaya
--°C

Perang Dua Gitaris Dunia, Antara Pro dan Anti Vaksin

KEMPALAN: Brian May, siapa yang tidak kenal. Ia gitaris band Queen. May berpendidikan tinggi, intelek. Umurnya sudah tidak mudah lagi, sudah kepala tujuh. Tepatnya 74 tahun. Meski terbilang uzur, tapi permainan May masih memukau. Uzur di usia, tapi makin matang, setidaknya musikalitasnya tidak berubah.

May berada dalam kubu pro-vaksin dalam menangkal Covid-19. Ia terus teriakkan suara keberpihakannya pada penggunaan vaksin. Bahkan suara lantangnya menyasar rekan sesama gitaris handal dan sekaligus penyanyi, Eric Clapton.

Clapton berada pada kubu menolak vaksin. Ia mendedahkan diri sebagai pihak antivaksin. Meski ia menurut penuturannya pernah divaksin, yang nyaris menyebabkan tangannya lumpuh.

Clapton (76 tahun) mengaku menderita efek samping akibat suntikan AstraZeneca. Ia katakan, saya sampai takut tidak bisa bermain gitar lagi. Pelantun tembang “Wonderful Tonight” itu menyatakan, menurutnya semestinya orang seperti dirinya yang menderita neuropati perifer (seperti lemah atau mati rasa, biasanya pada tangan atau kaki) tidak seharusnya divaksinasi.

Ilustrasi vaksin Covid-19.

Tapi menurut medis, neuropati perifer itu bukanlah penyakit yang penderitanya tidak boleh divaksin. Tapi ya itu tadi, sikap antivaksin yang sudah dipegang erat Clapton menjadikan ia dengan segala cara berdalih bahwa pilihannya menolak vaksin itu hal yang tepat.

Fruitcake

Maka perang pendapat antara dua gitaris top dunia itu tak dapat dihindarkan. May mengatakan, bahwa baginya Clapton tidak saja idolanya, tapi buatnya ia pahlawan. Tidak persis tahu, julukan pahlawan yang disematkan, itu apa maksudnya. Tapi bisa jadi lebih sebagai penghormatan May atas Clapton.

Tapi berkenaan dengan “kampanye” Clapton yang antivaksin, itu ditanggapi dengan sengit oleh May. Begini kata May:

“Saya menyukai Eric Clapton. Bagi saya dia pahlawan. Tetapi dalam banyak hal, saya sangat berbeda dengannya,” ujar May kepada The Independent, dikutip dari laman Ace Showbiz, Selasa (10/8).

Brian May (kiri) dan Eric Clapton (kanan).

Lanjutnya:

“Clapton adalah orang yang berpikir, bahwa menembak binatang untuk bersenang-senang itu hal biasa, bukan masalah. Dalam soal ini saya berbeda dengan Clapton. Meski demikian, saya tidak pernah berhenti menghormati seorang Eric Clapton.”

Begitu pula pada kasus vaksinasi, May amat heran dengan mereka yang menolak vaksinasi, seperti yang dikampanyekan Eric Clapton. May menyebut mereka yang anti terhadap vaksinasi dengan anti-vaxxers.

Pada orang-orang ini (anti-vaxxers), May menyebutnya dengan sebutan “fruitcake”, yang dimaknai sebagai manusia tak lazim, eksentrik dengan konotasi negatif. Bahkan, fruitcake, itu dimaknainya pula sebagai manusia sedeng.

Sikap May tampak keras “melawan” opini yang digelorakan kelompok anti-vaxxers itu, meski itu tidak terkecuali harus menyasar Clapton, pribadi yang dihormatinya. Bahkan buatnya, tidak masalah menyebut orang yang dihormatinya, itu dengan sedeng (setengah gila).

Luar biasa kerasnya pertentangan antargitaris gaek itu… Soal ini, pastilah saya ikut May… Tapi tak dipungkiri, saya pun suka musikalitas Clapton, apalagi saat nyenandungkan “Tears in Heaven”… Duhh sungguh menyayat hati… (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.