Sabtu, 16 Mei 2026, pukul : 18:51 WIB
Surabaya
--°C

Ngopi COI Jawa Barat Wacanakan Ronda Digital

SURABAYA – KEMPALAN : Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Barat, kembali mengadakan kegiatan webinar dan Talk Show “Ngopi Coi” (Ngobrol Pintar Cara Orang Indonesia) bertema “Saring baru Posting”.
Acara ini dipandu oleh Putri Ayudya, peraih penghargaaan Aktris Perempuan Terbaik pada ajang piala Maya dan menghadirkan Kasubbag TU Deputi I BNPT, Ahadi Wijayanto, SE, MM, dan wartawan Machmud Mubarok, S.S., Jumat (23/7).
Dalam siaran pers yang diterima redaksi, Minggu (25/7), Ahadi menyampaikan tentang perbedaan radikalisme dan terorisme. Menurut UU No. 5 Tahun 2018, terorisme adalah perbuatan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan terror dan ancaman rasa takut secara keseluruhan. Radikalisme adalah suatu paham yang menginginkan perubahan sosial dengan menggunakan cara-cara ekstrem, kelompok ini melakukan dengan segala cara untuk mengubah tatanan masyarakat secara sosial.


“Awalnya sikap yang dimiliki adalah tidak menerima pendapat atau perbedaan orang lain atau intoleransi. Orang-orang yang berada di stadium awal ini mereka menarik diri, mereka tidak menerima adanya perbedaan dan menganggap dirinya paling benar, menganggap kelompok dan gurunya paling benar. Makanya yang berbeda dari mereka dianggap salah,” katanya.
Ahadi melanjutkan, faktor teknologi yang tidak dibarengi dengan literasi, menjadi sumber hoax yang melatarbelakangi adanya radikalisme dan terorisme. “Banyaknya kasus terorisme yang terjadi di Indonesia, melalui media sosial,” tuturnya.
Sementara Machmud Mubarok menyoroti tentang maraknya penggunaan media sosial untuk penyebaran berita-berita hoax, ujaran kebencian dan konten radikal. Media menurut machmud selama 24 jam memantau pergerakan isu di media social.
“Ada semacam ronda digital untuk mengawasi isu-isu media sosial. Termasuk isu yang tidak benar atau hoax dan isu radikalisme. Kewajiban media adalah mengedukasi masyarakat agar dapat memilih dan memilah berita yang benar. Literasi terhadap radikalisme, agar masyarakat bisa faham ciri-ciri kelompok yang menyebarkan berita radikalisme, media bisa bekerjasama dengan BNPT menyebarkan berita-berita positif untuk menangkal isu radikalisme. Kita harus lawan dengan kontra narasi radikalisme,” kata Machmud. (Nani Mashita)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.