Minggu, 26 April 2026, pukul : 09:53 WIB
Surabaya
--°C

Ikatan Cinta Mahfud MD: Hukum di Alam Khayali

KEMPALAN: Mahfud MD ternyata juga penggemar sinetron televisi. Tidak ada yang menyangka, jika saja ia tidak membocorkan di Twitter miliknya. Sinetron Ikatan Cinta, yang dibintangi Arya Saloka dan Amanda Manopo, itu ternyata yang jadi konsumsi Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam). Sinetron yang biasa ditonton dan digemari emak-emak “pengabdi cinta”, itu jadi hiburannya.

Hayo coba siapa yang menyangka, pasti tidak ada yang menyangka. Memang tampak aneh jika ada bapak-bapak menggemari sinetron jenis itu, apalagi sekelas Prof Mafhud. Tapi memang tidak ada larangan bapak-bapak, bahkan sekelasnya, menyukai suguhan sinetron. Setidaknya Prof Mahfud mengisyaratkan, bahwa ada juga bapak-bapak sebagaimana emak-emak “pengabdi cinta”.

Memang menjadi aneh jika kesukaannya itu ia sampaikan pada publik, yang tengah menjalankan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), dengan segala problem kesulitannya. Banyak penjual makanan kecil dan warung kopi, yang lalu bentrok dengan Satpol PP karena jam buka yang melewati waktu yang diberikan. Hidup dalam PPKM yang makin sulit bagi wong cilik, banyak diungkap dalam berita televisi, tapi tidak ngefek dan lalu diungkap Prof Mahfud dalam cuitan Twitternya. Padahal itu jauh lebih penting, dan sesuai dengan lingkup bidang kerjanya.

Tetapi Prof Mahfud lebih suka mengungkap kisah sinetron yang digemarinya, Ikatan Cinta. Bahkan ia bisa menceritakan kisahnya dengan amat baik. Pastilah itu karena ia menjadikan wajib tonton pada jam-jam sinetron itu diputar. Memang bagi emak-emak “pengabdi cinta”, jika tidak nonton semalam saja, maka seolah ada hal yang kurang dalam hidupnya.

Dan biasanya setelah menonton para emak-emak akan ngerumpi membahasnya lewat grup pertemanan. Seolah itu kisah yang benar-benar hadir dalam kehidupannya, sesuatu yang penting untuk dibahas. Membahasnya seolah itu sesuatu banget untuk dibahas. Maka yang absen melihatnya malam itu, seolah merasa rugi serugi-ruginya.

Ikatan Cinta dan Mahfud MD (TribunKaltara)

Sinetron jika tidak disikapi dengan benar, bisa jadi racun yang merusak otak penontonnya, yang tidak punya filter penyaring. Dan biasanya mereka yang larut dalam kisah-kisah cinta demikian, tanpa disadari akan membentuk karakternya dalam mengelola kehidupan di alam nyata. Maka kisah absurd yang tidak nyata, itu coba diangkat di alam nyata.

Tidak sedikit dari emak-emak naif itu, yang lalu ingin laku romantis suaminya seperti aktor yang diidolakan dalam sinetron yang digemarinya. Semua kehidupannya ingin dirubahnya seolah kehidupan dalam kisah sinetron. Maka terjadi protes-protes kecil bahkan besar, tuntutan pada suami untuk memperlakukannya sebagaimana sinetron yang ditontonnya.

Tidak persis tahu apakah Prof Mahfud yang menggemari sinetron Ikatan Cinta, itu memang sudah sampai taraf kecanduan sebagaimana emak-emak “pengabdi cinta”. Tentu yang tahu cuma ia sendiri, dan setidaknya orang dekatnya. Tetapi sampai ia memuat di Twitter sinetron yang ditontonnya, itu setidaknya menandakan bahwa ia memang penggemar beratnya. Tidak ada yang salah sih, tapi memang aneh kok sekelasnya punya selera tidak umum.

Jabatan Itu Berat, Tapi Nikmat

Prof Mahfud setidaknya ingin menyampaikan satu pesan, bahwa pejabat sekelasnya itu juga manusia biasa. Karenanya, ia boleh juga menonton sinetron, bahkan sinetron ecek-ecek, yang disukainya. Memang tidak ada larangan buatnya.

Maka ia ingin tampakkan pada publik, bahwa meski masa PPKM, ia tetap enjoy bisa menikmati tontonan televisi yang disukainya. Prof Mahfud setidaknya ingin jujur, bahwa bukan cuma emak-emak “pengabdi cinta” yang menyukai sinetron Ikatan Cinta itu, ia pun boleh dong menyukainya.

“PPKM memberi kesempatan kepada saya nonton serial sinetron Ikatan Cinta. Asyik juga sih, meski agak muter-muter…,” lewat akun Twitternya, dikutip Kompas.com, Jumat (16 Juli).

Asyik juga sih, pengakuan Prof Mahfud, meski (ceritanya) agak muter-muter. Kisah jadi muter-muter, itu karena sinetron itu masih disukai khalayak, maka kisah tidak akan dihentikan. Kisah akan disambung-sambung terus, tampak muter-muter, sebagaimana yang dirasakan Prof Mahfud. Tapi penggemarnya merasa asyik-asyik saja.

Bahkan Prof Mahfud memberi kritikan yang tampak tidak tepat dalam penerapan hukum pidana dalam sinetron itu, tentu sesuai dengan kepakarannya.

“…Tp pemahaman hukum penulis cerita kurang pas. Sarah yg mengaku dan minta dihukum krn membunuh Roy langsung ditahan. Padahal pengakuan dlm hukum pidana itu bkn bukti yg kuat.”

Bagi Prof Mahfud ini sesuatu banget, dan karenanya ia wajib memberi masukan pada penulis cerita, juga sutradara tentunya, bahwa ada yang salah dalam penegakan hukum. Meski itu dalam sinetron, tidak boleh terjadi. Apalagi tentu dalam kehidupan nyata, bahwa orang tidak boleh dihukum yang tanpa bersandar pada hukum sebenarnya.

Prof Mahfud karena kepakarannya, ia mampu melihat hukum yang ditempatkan tidak tepat dalam sinetron itu, ia perlu mengoreksinya. Meski cuma dalam sinetron Prof Mahfud tidak menolerir adanya kesalahan penerapan hukum pidana.

Tentu apalagi penerapan hukum pidana di alam nyata, mestinya Prof Mahfud akan bersikap yang sama, mampu mengoreksi kesalahan penerapan hukum yang dikenakan pada seseorang. Apalagi ia punya jabatan sebagai Menko Polhukam, dimana ia bisa dengan serta merta meluruskan jika ada penerapan hukum yang tidak sesuai dengan asas keadilan.

Tapi sayang Prof Mahfud justru kritikannya tidak tampak dalam berbagai persoalan hukum, yang mengadili dan menghukum seseorang yang tidak semestinya,

Bagaimana dengan kasus Habib Rizieq Shihab, yang cuma punya kesalahan administratif, lalu ditarik pada kasus pidana. Bagaimana pula kasus yang dianggap “bohong” dalam hasil swab di RS Ummi, lalu harus dikenakan dengan pasal membuat keonaran. Ini kisah hukum di alam nyata yang lebih gak nyambung, masa Prof Mahfud gak melihatnya.

Terkadang di alam khayali hukum dituntut berlaku adil, tapi tidak di alam nyata. Prof Mahfud banyak mengajarkan pelajaran hidup, yang bisa diingat sepanjang masa. Sebuah pelajaran, bahwa jabatan itu memang berat tapi nikmat, maka ia harus menjaga “alur ceritanya” agar jabatan itu bisa langgeng, seperti juga sinetron Ikatan Cinta yang disukainya, kisahnya dibuat tidak selesai-selesai… Wallahu a’lam. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.