Sabtu, 16 Mei 2026, pukul : 15:00 WIB
Surabaya
--°C

Sesatnya Barat, Hilangnya Muslim: Gambaran Umat Islam di Layar Lebar

KEMPALAN: Meskipun hampir seperempat populasi dunia adalah Muslim, perwakilan mereka di pasar bioskop utama hanya 1,6%, dan peran mereka sering terdistorsi (menyesatkan) dengan cara yang berbahaya dan menghina, menurut sebuah studi baru yang inovatif.

200 film terpopuler yang diproduksi pada 2017-2019 di AS, Inggris, Australia, dan Selandia Baru diperiksa oleh Annenberg Inclusion Initiative dari University of Southern California dalam laporan “Missing & Maligned: The Reality of Muslims in Popular Global Movies,” kata para peneliti dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat (11/6).

Menurut penelitian, karakter Muslim mendapat 5,6% dari durasi tayang di film-film Australia. Sementara AS dan Inggris sama-sama memberikan 1,1%, Selandia Baru – tempat pembantaian mengerikan terhadap 51 Muslim pada Maret 2019 – tidak memasukkan satu pun Muslim dalam film mereka yang diproduksi selama periode tiga tahun.

Shalahuddin Al-Ayyubi dalam film Kingdom of Heaven besutan Ridley Scott.

Muslimah di Layar Lebar

Dalam hal kehadiran wanita Muslim di layar lebar, Inggris memiliki tingkat tertinggi, dengan 36,7%, diikuti oleh AS (25,5%), Australia (15,9%), dan Selandia Baru (0%). Persentase keseluruhan representasi perempuan Muslim di layar lebar sejumlah 23,6%, dengan laki-laki mengambil 76,4% dari peran yang ada.

“Ini adalah rasio 3,2 karakter Muslim laki-laki untuk setiap 1 karakter Muslim perempuan,” kata penelitian tersebut seperti yang dikutip Kempalan dari Anadolu Agency. Studi tersebut juga menemukan bahwa “90,5% dari 200 film tidak menampilkan satu pun karakter berbahasa Muslim,” atau 181 film dari total 200 film.

Bagaimana Muslim Diperlihatkan

Mengenai cara Muslim diperlihatkan dalam film-film itu, para peneliti mengatakan bahwa mereka diprofilkan secara rasial, karena tidak seperti identitas agama atau etnis lainnya, “karakter Muslim terkait dengan kekerasan.” Yang mengejutkan, penelitian itu mengatakan: “19% karakter utama dan figuran Muslim meninggal pada akhir film. Lima dari delapan meninggal dengan cara kekerasan.”

Dalam film-film yang diteliti, para peneliti juga menemukan bahwa karakter Muslim modern sangat langka. Hal ini menjelaskan: “73,1% dari karakter Muslim yang ditampilkan dalam konteks masa kini muncul hanya dalam dua film. Lima dari enam karakter Muslim utama ditampilkan dalam film-film yang berlatar masa lalu.”

Dalam hal representasi Muslim dalam genre film yang berbeda, studi tersebut mengatakan: “Penonton muda akan menemukan beberapa karakter Muslim dalam film.” Penelitian itu menambahkan juga, “dari 23 film animasi, tidak ada satupun yang memiliki karakter Muslim. Dari 8.965 karakter yang berbicara dalam 200 film top, hanya tujuh yang merupakan anak-anak Muslim.”

Halaloween, festival film horror Muslim disponsori bersama oleh Departemen Studi Timur Tengah, Kurikulum Studi Islam Digital, dan Departemen Film, Televisi, dan Media, Universitas Michigan, Amerika Serikat.

Keanekaragaman Hilang, Penghinaan Hadir

Apalagi, menurut penelitian tersebut, karakter Muslim yang digambarkan tidak mencerminkan komunitas yang beragam.

“Dari 200 film dan 8.965 karakter, satu pria Muslim adalah LGBTQ. Seorang pria Muslim digambarkan dengan disabilitas dari 200 film dan 8.965 karakter,” tulis laporan tersebut. Film menggambarkan Muslim sebagai “asing,” menurut temuan penelitian.

“Dari 41 karakter Muslim utama dan figuran, 58,5% adalah imigran, migran atau pengungsi, 87,8% tidak berbicara bahasa Inggris atau berbicara dengan aksen (yang berbeda), dan 75,6% mengenakan pakaian yang berkaitan dengan iman mereka,” tambah kajian itu.

Para peneliti mengatakan pemeriksaan mereka terhadap 200 film populer secara global menemukan bahwa karakter Muslim “masih ditampilkan sebagai penurut.”

“Wanita Muslim terutama ditampilkan sebagai pasangan romantis dan anggota keluarga. Karakter Muslim digambarkan dalam peran sekunder yang menjadi pemeran utama kulit putih,” kata penelitian tersebut.

“Penghinaan diarahkan pada karakter Muslim,” kata laporan itu, yang membuat katalog daftar kata-kata dan kalimat kasar yang ditujukan pada atau tentang karakter Muslim, termasuk penghinaan yang berkaitan dengan kemampuan bahasa, kelas, dan penyakit, cercaan, dan asumsi terkait dengan teroris. (Anadolu Agency, reza hikam)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.