RUU Anti Teknologi China

RUU Anti-teknologi China Disahkan di Amerika Serikat, Apa Alasannya?

  • Whatsapp
Ilustrasi persaingan Amerika Serikat dengan China

WASHINGTON-KEMPALAN: Baru-baru ini, Senat Amerika Serikat yang memiliki otoritas untuk mencanangkan sebuah undang-undang serta mengesahkannya, membuat kontorversi jagat konstelasi internasional. Dikarenakan, Senat Amerika Serikat mengesahkan terkait rancangan undang-undang (RUU) yang substansinya melarang masuknya teknologi dari China ke negeri Paman Sam.

Dalam hal ini, Senat Amerika Serikat berhasil memenangkan RUU ini dengan rinician suara, 68-32 suara pada Selasa (8/6) waktu setempat. Disahkannya RUU ini adalah guna untuk meningkatkan eskalasi kemampuan negera Amerika Serikat dalam bersaing secara sehat dengan teknologi dari China yang menjamur.

Setelah disahkannya RUU ini, makan ada dana segar sekitar USD 190 miliar yang didistribusikan untuk memperkuat sektor teknologi dan penelitian Amerika Serikat. Dan secara tidak langsung, juga akan menyepakati gelontoran dana kisaran USD 54 miliar untuk keperluan produktivitas penelitian ke semikonduktor dan alat telekomunikasi.

Anggaran ini juga sudah termasuk USD 2 miliar yang difokuskan dalam pembuatan chip dalam sektor produksi otomotif yang secara gamblang mengalami defisit dan membuat pengurangan pada sektor produksi yang cukup signifikan.

Dalam proses perjalannya, RUU ini telah melewati pengecekan dari pihak Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk disalurkan ke pemerintah eksekutif di Gedung Putih. Yang mana akan ditandatangani secara legal oleh Presiden Amerika Serikat, Joe Biden.

RUU ini seara kontekstual memiliki beberapa ketentuan terkati regulasi dari berbagai produk teknologi China. Misalnya yang tertera adalah, pada perangkat pemerintah dilarang untuk mendownload aplikasi TikTok yang sedang booming. Lalu juga akan melakukan banned pada pembelian drone yang diperdagangkan oleh perusahaan yang ada dibawah pemerintahan negara China.

Regulasi ini juga akan menciptakan sanksi wajib baru yang luas terhadap entitas China yang terlibat dalam serangan siber AS atau pencurian kekayaan intelektual dari perusahaan AS, dan memberikan tinjauan kontrol ekspor pada barang-barang yang dapat digunakan untuk mendukung pelanggaran hak asasi manusia.

Dalam forum yang secara substansi membahas mengenai RUU Anti Teknologi China ini, Chuck Schumer selaku Pemimpin Mayoritas Senat mengingatkan, bahwa pasti akan ada konsekuensi menakutkan mengenai tidak didanainya penelitian untuk bersaing dengan China sebagai kompetitor.

“Jika kita tidak melakukan apa-apa, hari-hari kita sebagai negara adidaya yang dominan mungkin akan berakhir. Kami tidak bermaksud membiarkan hari-hari itu berakhir begitu saja. Kami tidak bermaksud melihat Amerika menjadi negara menengah di abad ini,” ujar Chuck Schumer seperti dikutip dari Channel News Asia, Rabu (9/6). (Rafi Aufa Mawardi)

Berita Terkait