Sabtu, 2 Mei 2026, pukul : 12:01 WIB
Surabaya
--°C

Periksa Kesehatan Presiden Prabowo

Bukan hal mengada-ada jika kesehatan Prabowo harus diperiksa. Ada berbagai keanehan dalam bersikap yang tentunya mengundang tanda tanya besar. Yakni: Presiden itu harus ajeg dan fit baik fisik maupun psikis.

Oleh: M Rizal Fadillah

KEMPALAN: Sebagai Presiden yang memimpin 280 juta rakyat Indonesia tentu Prabowo Subianto harus rutin memeriksa kesehatan baik fisik dan psikis untuk menjaga keamanan dan kelancaran dinamika tugas beratnya.

Ketika terlihat ada kejanggalan maka pemeriksaan kesehatan insidental menjadi  tuntutan. Presiden tidak boleh sakit berat atau pikun atau juga terkena gangguan mental lainnya.

Emosi tidak terkendali merupakan ciri dari sebuah gangguan. Pikiran bisa tidak mampu menjaga emosi beserta dampak yang diakibatkannya.

Sesungguhnya tiidak perlu pidato meledak-ledak jika efeknya justru membuat perasaan publik yang meledak karena tersinggung, bingung, kaget, atau tidak percaya.

Seperti saat publik mengktitisi pemerintahan Joko Widodo, tiba-tiba Prabowo teriak lantang  “Hiduup Jokowiii..”. Lantang dan menantang.

Beberapa hari ke belakang, tak ada angin tidak ada hujan, pidato Prabowo juga menyentuh secara simbolik pengusiran “orang pintar” dengan narasi “silahkan kabur” kemana? “mungkin ke Yaman”. Semua tahu arahnya.

Presiden yang menjadi pemenang ternyata tidak bisa “move on” dan tetap merasa sebagai pecundang. Sindiran itu jelas saja kampungan. Dalam sejarah dan konteks keagamaan, Yaman itu negeri yang penting dan bukan tempat sampah.

Setelah melakukan operasi gelap pada 1998 dengan menggelapkan TNI, Prabowo dipecat dari TNI dan kabur ke Yordania. Status kewarganegaraan menjadi tidak jelas (stateless). Adalah Megawati Soekarnoputri yang telah membantu urusan kewarganegaraan gelap Prabowo tersebut.

Sebelumnya, pidato untuk menjamin keamanan Israel dan siap mengakui Israel dalam kerangka “two state solution” menuai kontroversi.

Apalagi dengan kebijakan konkrit masuk BoP pimpinan Presiden Donald Trump yang berlanjut ART dan MDCP. Perang Iran melawan AS Israel membuat Prabowo terpuruk. Kesan pro Zionis Israel sulit untuk dihindari.

Rekam jejak sewaktu pidato menegur wanita bercadar sungguh melecehkan. Kebencian yang ditujukkan dengan menyebutnya sebagai intel adalah kebodohan Prabowo dalam aspek keagamaan. Apakah sebagai muslim ia rajin menunaikan shalat? Ataukah memiliki moral keagamaan yang dikategorikan munafik?

Ini urusan seorang Presiden bukan orang yang “bertampang Boyolali” seperti dahulu ia pernah menyakiti warga Boyolalidengan ucapannya tersebut.

Sapaan kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang dikomentari candaan “makin kurus kau ya, kenapa makin kurus, stress“. Entah kaget entah tidak Listyo.

Ada masalah desakan kuat untuk ganti Kapolri, reformasi Polri yang juga masih menggantung, kasus otak atik ijazah palsu, multi fungsi Polri. Sebutan Parcok belum hilang terkait kiprah politik aparat penegak hukum. Prabowo pun ikut terjebak dalam keruwetan, stress?

Bukan hal mengada-ada jika kesehatan Prabowo harus diperiksa. Ada berbagai keanehan dalam bersikap yang tentunya mengundang tanda tanya besar. Yakni: Presiden itu harus ajeg dan fit baik fisik maupun psikis.

Bila sudah tidak memenuhi syarat lagi, Presiden dan atau Wakil Presiden menurut Konstitusi dapat dimakzulkan. Itu saja.

*) M Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.