Yang perlu dikhawatirkan adalah bagaimana nasib Indonesia ketika perang Iran vs Amerika ini berlanjut. Karena, sulit untuk mendukung analisis kalau perang bisa dihentikan dalam jangka pendek ini.
Oleh: Tony Rosyid
KEMPALAN: Teorinya sederhana: “Jika ada dua pihak berada dalam kepentingan yang sama dan tidak bisa dikompromikan, maka akan terjadi konflik”.
Amerika Serikat punya kepentingan menguasai geopolitik Timur Tengah. Selain kepentingan politik, juga kepentingan ekonomi. Dua kepentingan yang tidak bisa dipisahkan.
Sementara itu Iran mengajukan opsi Amerika harus keluar dari Timur Tengah. Ini salah satu poin paling pokok dalam perundingan Iran dengan Amerika di Pakistan beberapa hari ini. Tidak sepakat. Konflik!
Sepuluh (10) poin yang diajukan Iran sebagian tidak mungkin akan bisa dipenuhi Amerika. Sebaliknya, 15 poin yang diajukan Amerika, sebagian tidak bisa dipenuhi Iran. Poin-poin yang tidak bisa dipenuhi itu adalah poin-poin krusial dan menjadi kebutuhan fundamental bagi masing-masing pihak.
Apakah negosiasi akan buntu? Pasti! Sebelum diadakannya perundingan di Pakistan, sudah bisa diprediksi bahwa perundingan akan buntu. Kalau begitu, kenapa diadakan perundingan? Ini pertanyaan paling menarik untuk dijawab.
Perundingan menjadi alasan bagi kedua belah pihak untuk gencatan senjata. Ah, itu maunya Amerika. Stop! Keduanya mau. Kalau Iran gak mau, gencatan senjata tidak terealisasi.
Dalam dua pekan gencatan senjata, masing-masing pihak menyiapkan diri untuk melakukan perang babak berikutnya. Kali ini, perang akan lebih dahsyat. Habis-habisan.
Ini menjadi suatu pertaruhan hidup dan mati. Jika Iran kalah, maka akan terjadi transformasi kekuasaan di negeri para mullah ini. Kalau Amerika yang kalah? Struktur geopolitik dan ekonomi dunia akan berubah.
Amerika tidak punya pintu untuk balik badan. Kalau ini dilakukan, pengaruh Amerika akan berangsur-surut, kemudian menghilang. Dolar akan kehilangan kedigdayaannya.
Pelan tapi pasti, Amerika akan kehilangan statusnya sebagai polisi dunia. Dan, kekuatan kontrol Amerika juga melemah dan tak lagi menjadi negara adidaya. Selanjutnya, dunia akan akan mengalami penataan ulang.
Bagi Amerika, No Point to Return. Amerika akan menyerang Iran. Habis-habisan. At all cost. Apapun taruhannya: meski ribuan nyawa prajurit, pengeluaran besar-besaran untuk logistik dan bahkan terjadinya gejolak politik di internal karena amburadulnya ekonomi global.
Tujuan Amerika satu: “mempertahankan status quo-nya sebagai penguasa dunia”. Inilah watak penguasa, di manapun dan kapanpun, akan selalu mempertahankan status quo dengan semua resourches yang dimiliki. Penguasa tingkat manapun. Mereka tak ingin “lengser keprabon”. Amerika tak ingin kehilangan pengaruhnya.
Lalu, jika perang berlanjut, dan semakin dahsyat, apa pengaruhnya bagi dunia, khususnya Indonesia? Krisis!
Dunia akan mengalami krisis. Dimulai dari krisis energi. Ketersediaan minyak terbatas. Jika pun ada, harganya selangit. Sejumlah pakar energi memprediksi, jika perang berlanjut, harga minyak mentah bisa tembus US $ 200 per barel.
Dari harga US $ 65 – 72 per barel, naik ke harga US $ 115 saja, banyak negara juga babak belur. Segala jalur penghematan ditempuh. Peredaran BBM dibatasi, WFH diberlakukan, jam kerja dikurangi. Hampir setiap negara melakukan efisiensi.
Banyak negara mengalami problem moneter dan inflasi. Belum lagi efek PHK akibat pabrik tak lagi bisa beroperasi. Keadaan ini akan mendorong naiknya jumlah pengangguran dan kemiskinan.
Kemudian, bagaimana jika harga minyak mentah melambung tinggi hingga US $ 200? Anda sulit membayangkan ekonomi dunia, khususnya Indonesia.
Jangan panik! Tentu ini narasi yang harus tetap terus diproduksi untuk meredam potensi gejolak. Negara harus membuat pernyataan seolah-olah baik-baik saja ke depan. Harus! Siapa tahu perang Iran vs Amerika segera selesai. Meskipun secara teoritis sulit diharapkan.
Jangan terjebak pada pertanyaan siapa yang akan menjadi pemenang dalam perang antara Iran vs Amerika? Gak penting untuk dijawab saat ini. Tunda dulu membahas siapa pemenangnya. Belum urgent untuk dikaji.
Yang perlu dikhawatirkan adalah bagaimana nasib Indonesia ketika perang Iran vs Amerika ini berlanjut. Karena, sulit untuk mendukung analisis kalau perang bisa dihentikan dalam jangka pendek ini.
Selamat membayangkan Indonesia untuk hari-hari ke depan. Jawabannya ada di kepala anda semua.
*) Tony Rosyid, Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi