Cerbung Prof Budi Santosa PhD & Dra Hersis Gitalaras (Seri 52)

Sebuah Pertaruhan

  • Whatsapp

KEMPALAN: Danang dan Hera pulang naik bus dari Halte Milo. Hera pernah juga naik bis bersama Danang dengan suasana yang berbeda, suasana yang kurang enak dan tidak sreg karena Hera menganggap Danang sudah memutuskan hubungan walau itu kehendak orang tuanya. Lalu menghilang lama tanpa kabar, lalu mencarinya lagi ketemu di Semarang. Dari Halte Milo ini juga Hera pernah pulang ke kampung bersama Larso,   ketika pulang dari survei  di Pemalang lalu mereka janji ketemu di Semarang. Dengan Larso suasananya cukup romantis walau waktu itu Hera nyaris mabuk perjalanan dan masuk angin. Kini Larso,  seperti  juga Agung,  sudah menjadi masa lalu bagi Hera. Di samping Hera saat ini ada Danang yang  datang sekonyong-konyong ingin  melamarnya. Hera masih belum percaya tidak ada firasat  apa-apa sebelumnya. Di lubuk hati Hera ada rasa senang sekaligus salut dengan keberanian Danang. Tetapi di sisi lain, Hera berpikir, bagaimana dengan orang tuanya? Apakah mau merestui?? Atau masih bertahan dengan arogansinya atau ketakutannya?

Sebenarnya orang tua Danang bukan arogan tetapi justru tipe orang yang ketakutan akan masa depan. Orang-orang yang tidak mampu melepaskan diri dari masa lalunya. Mereka percaya hidup akan sesempit dan selurus masa lalu. Masa depan itu terlalu luas dan bervariasi untuk hanya dipikirkan seperti jalannya masa lalu. Kekerasan usaha, kreatifitas, kesungguhan dan ketekunan adalah hal-hal yang akan mengubah masa depan.

Di dalam hati  Hera merasa kasihan dan trenyuh kepada Danang. Apa jadinya jika orang tua Danang tetap tidak merestuinya? Hera khawatir terjadi hal-hal yang tidak baik, dan Hera menjadi tumpuan kesalahan. Hera sendiri sejak peristiwa Larso memutuskan sikapnya, hatinya sudah kuat dan keras tidak lagi mempersoalkan, nothing to lose saja. Direstui ya syukur,  tidak pun juga tidak apa-apa. Yang membuat Hera heran, kenapa Danang tidak memilih gadis lain saja toh banyak pilihan, seperti  yang dilakukan Agung dan pasti seperti Larso nantinya. Dalam hati Hera bertanya-tanya,  pertimbangan apa yang membuat Danang tetap ngotot mempertahankan pilihannya. Sudah dilarang keras, sudah dicarikan jodoh yang dianggap  sesuai dan sepadan dengan jabatannya sebagai camat, dan yang jelas tidak mambu. Kenapa dan kenapa, sudah sembilan tahun Danang tidak menemukan gadis yang cocok?

Kenapa selama itu Hera dibuatnya menggantung?? Kenapa tidak kunjung diputuskan?! Inilah hal yang membuat Hera sangat mengapresiasi perjuangan Danang. Hera berkeyakinan jika Danang memang jodohnya pasti Tuhan akan meridhoi dan melancarkan jalannya. Demikian renungan Hera. Dalam pikiranya berkecamuk berbagai macam persoalan. Hera menahan kantuknya, bis jurasan Semarang- Solo, yang ditumpanginya tidak terasa sudah hampir sampai terminal Kartosuro. Dari Kartosuro, tidak terlalu lama Hera dan Danang mendapatkan bis jurusan Jogya untuk turun di Delanggu. Danang dan Hera dalam 15 menit sudah berada di stanplat Delanggu. Toko-toko sudah banyak yang tutup terutama toko mas.

“Dik, jadwal beli cincin besok ya. Saya jemput ke rumah agak pagi”, kata Danang menyampaikan rencananya.

“Baik. Berarti sekarang tidak perlu mampir ke rumah simbah ya. Kita ngojek masing-masing”, jawab Hera.

“Iya dik, tapi tolong malam ini harus rasan-rasan ke simbah tentang niatku melamarmu ya”, kata Danang menegaskan.

“Ya pasti mas. Tapi kalau simbah menjawab dengan syarat yang datang melamar harus orang tua, gimana mas?”  tanya Hera serius. Karena Hera sudah tahu jalan pikirikan simbahnya.

“Ya aku juga akan rasa-rasan ke bapak-ibu, sekarang aku sudah percaya diri dik. Disetujui atau nggak aku nekat”, kata Danang tandas dan tegas.

“Ah aku nggak mau seperti itu mas. Pasti simbah dan bapak ibuku tidak setuju. Oh ya aku jadi ingat harus telpon interlokal kepada bapak ibu tentang rencanamu ini mas. Setidaknya aku harus bercerita tentang mas itu siapa, walau mungkin sudah tahu sedikit dari simbah” , jelas Hera agak terperanjat baru ingat kepada orang tuanya untuk urusan sepenting ini. Sejauh ini Hera tidak pernah cerita tentang hubungannya dengan Danang. Siapakah Danang, kerjanya apa dan lain-lain. Bapak- ibunya tidak paham. Kok tahu-tahu mau melamar, Hera harus menjelaskan.

” Yowis, ayo dik, aku antar ke kantor telpon di prapatan pasar persis di sebelah lor nya lampu bangjo “, ajak Danang. Hera sudah paham letak kantor telpon itu karena sering melakukan interlokal untuk hal-hal penting kepada ibunya sejak dulu. Hera beranjak menuju kantor telpon. Seorang petugas menyambungkan ke nomor yang Hera berikan .

Lalu Hera bicara  dengan ibunya lewat telepon, tanya kabar dan bercerita tentang Danang secara komplit dan Hera memohon kehadiran ibu bapaknya untuk hadir di acara lamaran. Ibunya menjawab akan menyampaikan kepada bapak untuk mewakilinya, mungkin ibu tidak bisa hadir. Lalu Hera berkata lagi akan telpon untuk hari kepastiannya. Dalam hati Hera masih ada keraguan apakah jadi atau tidak. Hera tidak memperlihatkan keraguannya kepada Danang.

Hera naik ojek sampai desanya. Simbahnya kaget dengan kehadiran cucunya. Begitu pun orang tua Danang, betapa kagetnya melihat kehadiran Danang yang tiba-tiba. Simbah Hera lebih kaget lagi ketika Hera bercerita kalau Danang dan mungkin dengan orang tuanya akan melamarnya.

“Mbah, besok mas Danang mau njemput ngajak beli cincin “, kata Hera memulai pembahasan rencana Danang.

“Lha kok sudah nau beli cincin, memang mas Danang sudah yakin nduk, kalau bapak ibunya akan mengijinkan?” tanya simbah.

“Katanya mas Danang yakin kok mbah”,jawab Hera ngayem-ayemi.

“Yo syukur alhamdulillah kalau sudah direstui”, jawab mbah putrinya.

Mendengar percakapan itu mbah kakung menimpali dan membuat kaget Hera,

“Nduk, apa wis mbok pikir tenanan kanggo nerima lamaran nak Danang?”

Pertanyaan yang mendasar mbah kakung langsung menusuk jantung Hera.

“Waduh mbah kakung pertanyaannya kok seperti itu? Hera  sudah nggak sempat mikir lagi mbah. Ujung dari sebuah hubungan yang sekian lama  kan akhirnya ngelamar to mbah??” jawab Hera bingung mendapat pertanyaan itu.

“Lha simbah ki terus terang heran lho nduk, pilihan yang lain yang masa depannya lebih baik yo ono, kan malah ada beberapa?” kata mbah kakung pelan. Hera dan mbah putri bingung. Dengan setengah menangis Hera bilang.

“Mbah banyak yang susah Hera jelaskan tentang mas Danang ini. Dia gigih tidak tergoyahkan oleh pilihan-pilihan lainnya, penuh perhatian, mau mengalah dan sudah memberi peluang Hera untuk yang lain tapi yang lain itu tidak gigih mbah”,  Hera menjelaskan sambil tersedu.

“Yo wis kalau kamu sudah mantep simbah hanya bisa mendoakan, semoga Gusti selalu  memberikan kekuatan pada kalian terutama padamu”,  kata mbah kakung lagi.

“Iyo mbah doakan saja ya, memang mbah kakung ada firasat apa kok ngendika seperti itu?” tanya Hera penasaran.

“Ora popo, simbah akan melu sedih yen uripmu mengko susah sebab awit bayi tekan saiki uripmu wis susah”,  kata simbah kakung yang tidak banyak bicara tapi six sensenya jalan.

“Aku Insya Allah kuat mbah, masalah sing aneh-aneh ra mutu iku akan kulawan, aku wis janji pengin membuktikan” , Hera bicara seperti ada yang yang melecut.

“Lha yo kuwi mergo cita-citamu sing koyo ngono kuwi, menjadikan kamu kerja keras pontang panting, diluar ukuran wong normal. Lha kalau Nak Danang seperti  ini mungkin wis pol, lha kowe keinginanmu werna-werna gitu lho”,  kata mbah kakung lagi.

“Aku ngerti watakmu. ”

Hera membenarkan komentar mbah kakungnya.

“Aku janji mbah semua cita-citaku akan kuwujudkan sendiri mbah, semoga aku kuat dan semangat” jawab Hera optimis.

“Emang cita-citamu ki opo wae to nduk kok jare werna-werna”, tanya mbah putri ikut penasaran.

“Pengin jadi wong sugih mbah, ben isoh jalan- jalan nyang Holland, Paris, Jerman, Rusia, Amrika, Jepang, China dan nyang Arab hahaha” , Hera menjawab sambil bercanda.

“Tapi yang jelas Hera pengin kerja di swasta. Lalu sebelum usia 40 tahu keluar kerja membangun usaha dan punya perusahaan sendiri”, jawab Hera tegas. Semua target dan cita-cita Hera sudah tercatat dalam buku besar di angan-angannya. Namanya juga cita- cita kalau tidak tercapai itu lain soal. Yang penting tetap diusahakan. Anak cucunya akan dia warisi usahanya bukan harta atau aset tetap. Begitu pikiran Hera jauh ke depan. Yang mungkin tidak terpikirkan oleh orang lain.

“Lha yo kuwi nduk, cita-citamu sing abot iku butuh pendamping yang kuat juga. Paling ora yo seimbang dalam segala hal”, tambah mbah kakung lagi.

“Gampang mbah,  dengan usaha yang sungguh-sungguh, sabar,  pantang menyerah cita-cita pasti tercapai. Gusti Allah pasti memberi tambahan kekuatan pada orang yang sungguh-sngguh”, Hera menjelaskan kepada mbah kakungnya dengan semangat.

“Yo wis nduk yen wis mantep yo tak restui”, kata simbahnya. Hera senang dan lega mendengar restunya simbah.

Semalaman Hera nggak bisa tidur. Ada  benarnya juga apa yang dikatakan simbah kakungnya. Sekarang malah sebaliknya,  simbahnya menjadi ragu. Ada semacam eman-eman kepada cucunya. Mungkin simbah menginginkan Hera hidup nyaman seperti putrinya pakde. Yang suaminya mapan bahkan bisa bantu biaya sekolah adik-adiknya yang jumlahnya delapan. Tapi Hera sudah berketetapan ingin hidup bersama Danang. Asal orang tuanya merestui.

Keesokannya,  pagi-pagi Danang sudah datang menjemput Hera untuk pergi ke kota Delanggu. Memesan cincin untuk mereka berdua. Pada kesempatan itu, Hera bertanya kepada Danang, apakah sudah matur kepada bapak ibunya. Danang bilang sudah. Katanya bapaknya bertanya apakah Hera sudah lulus ? Danang menipu bapaknya bilang sudah lulus Sarjana tinggal menunggu wisuda. Pak Camat berbinar. Maklum anaknya sendiri belum ada yang sarjana, mungkin tidak ada. Danang melanjutkan ngibulnya bilang kepada bapak ibunya, bahwa dia khawatir Hera keburu dilamar orang. Danang mengarang lagi menyampaikan nama-nama yang berencana melamarnya, Danang sembut saja yang dia ketahui. Bapak-ibunya tahu nama-nama itu dan bisa mengecek jika mau. Tapi menurut Danang tidak mungkin mengeceknya untuk apa, malah dapat malu. Pikiran bapak-ibu Danang  bukan kepada pesaing Danang. Tapi kepada Hera yang anake wong mambu itu sudah Sarjana, sementara anaknya wong tidak mambu Camat pisan malah kalah. Mungkin kesadaran itulah yang menggugah hati bapak-ibu camat.

“Dik, dari Delanggu terus pulangnya ke rumahku ya, bapak – ibu pengin ketemu pengin ngobrol”,  kata Danang.

“Wah mau ngobrol apa ya mas kira-kira, kasih bocoran biar aku lancar jawabnya”, tanya Hera penasaran.

“Tanya sekolahnya apakah sudah selesai, nanti dik Hera jawab sudah ujian pendadaran dan ujian skripsi, tinggal tunggu wisuda, gitu ya, biar sama sebab aku jawabnya begitu”,  kata Danang.

“Oke. Terus kira-kira akan tanya apa lagi? ”  Hera mengejar.

“Paling tanya apa rencana selanjutnya mau bekerja dimana? Ceritakan saja mau nglamar kemana, kemana…sebut aja perusahaan asing yang besar dan susah- susah namanya”, kata Danang.

“Wah ide bagus mas,  nanti Hera akan menyebut  sudah melamar ke perusahaan- perusahaan yang namanya susah misal sudah ngelamar ke Schlumberger, terus ke Schnaider, HMR perusahaan industri farmasi Host Marion Russel, terus ngelamar ke perusahaan Rogge Marine Consulting GmbH, dan lain-lain”,  Hera senyum- senyum. Inilah kesempatan baik, Hera bisa berhadapan dengan tuan camat yang selama ini meremehkan anakke wong mambu. Asyik juga jadi terlampiaskan secara tidak langsung rasa kesal yang terpendam lama.

Lalu ibu camat akan bilang ” Biyuh biyuh bocah iki hebat tenan jadi selama ini kita ini salah sangka pak”, demikian bayangan Hera menerka apa yang dikatakan bu camat.

“Ngapa dik kok senyum-senyum ada yang lucu? ” tanya Danang.

“Iya mas idemu itu tadi lucu aku jadi bikin nama-nama perusahaan- perusahaan yang susah dilafalkan, biar bapak ibu gumun hahaha”  kata Hera gak bisa nahan tawa.

“Waah riang banget yang mau ngerjain orang tuaku, silahkan dik mumpung ada kesempatan”, kata Danang.

“Mas sejatinya aku sudah nothing to lose lho mas. Jika bapak- ibu tetap pada pendiriannya saya nggak apa-apa tenan, kita tetap bersaudara dan bersahabat”, kata Hera mengalir tanpa rencana sejujurnya itulah isi otaknya.

“Waduh jangan begitu dik, kamu nggak papa aku yang papa bisa terjun aku dari pesawat gak ada gunanya aku hidup tanpamu”,jawab Danang entah serius atau tidak. Tapi sepertinya serius. Karena ada teman dekatnya yang dicurhati katanya pingin bunuh diri aja saat dipaksa memutus hubungannya dengan Hera.

“Lha kok cupetmen nalarmu to mas, wong perempuan banyak, dunia tidak selebar daun kelor kok”, canda Hera sambil mencubit Danang dengan mesra.

“Kalau sama yang lain, buat apa aku harus lari ke Sumatera, lalu ke Kalimantan.”

Hera dan Danang menuju parkir motor dan mampir membeli sosir kiwir yang besarnya sejari kelingking dan membeli roti cake di toko tempat parkir motor. Mereka dengan riang menuju rumah Danang. Hera sengaja berpenampilan apa adanya dengan celana jeans baju kemeja casual sporty tapi tetap feminin.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Berita Terkait