KOLOM

Anak Pak Lurah dan The Sultan

  • Whatsapp
Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan, Menpora Zainuddin Amali, Raffi Ahmad, dan Kaesang di Kongres PSSI

KEMPALAN: Raffi Ahmad The Sultan, siapa tidak kenal. Dia selebritas-entrepreneur paling ngetop di Indonesia sekarang ini. Kiprahnya di dunia entertainment sangat dikenal publik. Aktivitasnya di media sosial diikuti jutaan pengikutnya yang fanatik. Karena tajir melintir itu Raffi dijuluki sebagai The Sultan.

Tapi, belum banyak yang tahu bahwa Raffi sekarang juga menjadi pemilik klub sepakbola profesional. Ia baru saja membeli klub sepakbola Cilegon United yang berlaga di Liga 2 kompetisi profesional PSSI.

Sabtu (29/5) Raffi menjadi bintang ketika muncul pada acara Kongres PSSI di Jakarta. Sebagai pemilik baru klub, Raffi hadir untuk mengikuti kongres, sekaligus mengikuti proses peresmian klubnya menjadi anggota PSSI dan berganti nama menjadi Rans Cilegon FC.

Masuknya Raffi ke dunia sepakbola membawa perubahan dalam pola pengelolaan sebuah klub. Dalam perjalanannya, sepakbola di Indonesia pernah dikelola dengan mengandalkan dana dari APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah).

Meskipun kompetisi Indonesia sudah disebut sebagai kompetisi profesional tapi pengelolaan klub masih tidak profesional karena sumber utama pendanaan berasal dari APBD. Klub-klub yang sebelumnya dikenal sebagai perserikatan rata-rata mendapatkan dana utama dari APBD dengan berbagai macam skema langsung maupun tidak langsung.
Ada juga klub yang didanai dari anggaran BUMN seperti Petrokimia Putra dan Semen Padang. Model ini tidak jauh beda dari model pendanaan APBD, sama-sama kurang profesional karena sumber dana sama-sama didapat dari uang negara.

Hal ini menjadi keanehan atau paradoks dalam sepakbola Indonesia. Harusnya kompetisi profesional dikelola secara profesional. Berbeda dengan kompetisi amatir yang dikelola secara amatiran. Mungkin karena paradoks itu maka PSSI menamakan kompetisinya sebagai “kompetisi non-amatir”.

Pada 2020 pemerintah melalui Depdagri dan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) mengeluarkan edaran yang melarang penggunaan anggaran negara APBD dan APBN untuk membiayai sepakbola. KPK ikut turun tangan karena ada beberapa kepala daerah yang dianggap menyelewengkan anggaran sepakbola sampai akhirnya ditangkap dan masuk penjara.

PSSI merespons dengan memperkenalkan format kompetisi profesional. Klub peserta kompetisi harus menjadi klub profesional dengan bentuk perseroan terbatas (PT). Karena itu sumber dana juga tidak boleh lagi mengambil dari APBD.

Klub-klub perserikatan pun berubah menjadi klub profesional. Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, Persib Bandung, Persipura Jayapura, adalah klub perserikatan yang berubah menjadi profesional dan berlaga di kompetisi tertinggi Liga 1.

Suporter fanatik sepakbola Indonesia

Ada klub yang lebih kecil seperti Persela Lamongan yang juga bisa bertahan dan tetap eksis di kompetisi Liga 1. Tanpa sumber dana langsung dari APBD Persela ternyata sangat ulet dan cerdik mengelola sumber anggaran sehingga bisa bertahan di Liga 1. Klub besar seperti PSMS Medan gagal bertransformasi menjadi klub profesional dan belum bisa menembus kompetisi Liga 1.

Meskipun sudah menjadi profesional, tetapi klub-klub Liga 1 masih belum sepenuhnya menjadi motor  industri olahraga. Rata-rata klub sepakbola profesional di kasta teratas Liga 1 masih belum sepenuhnya mampu menjadi entitas bisnis yang bisa menarik minat investor dan sponsor.

Beberapa klub profesional sudah mulai menapak ke pengelolaan yang profesional. Klub Bali United dikelola dengan manajemen modern dan sudah menawarkan sahamnya di lantai bursa dengan melakukan IPO (initial public offering). Sebagai klub yang relatif baru, Bali United bergerak lebih cepat mendahului klub-klub lain yang lebih tua.

Basis suporter yang kuat dan fanatik di Bali membuat klub ini punya ‘’fans equity’’ yang menarik untuk para investor. Pengelolaan yang profesional dengan gelontoran dana investor yang besar membuat Bali United mampu menarik minat pemain-pemain yang berkualitas. Pada kompetisi Liga 1 musim 2019 Bali United berhasil menjadi juara. Dengan bekal ini Bali United terjun ke bursa saham.

Klub-klub lain juga sudah dikelola secara lebih profesional. Persebaya Surabaya yang terkenal dengan suporter Bonek yang fanatik sekarang juga dikelola dengan sangat profesional. Tapi sampai sekarang Persebaya belum go public untuk menjual saham kepada umum.

Persib Bandung dan Persija Jakarta, dua klub lama warisan era perserikatan, sekarang sudah dikelola dengan profesional dan mempunyai basis suporter yang kuat. Di luar Jawa, klub eks era perserikatan yang masih eksis adalah Persipura Jayapura. PSMS Medan yang duku dikenal sebagai kekuatan utama di wilayah barat sekarang masih terseok-seok di Liga 2.

Klub-klub itu punya sejarah yang panjang dan catatan prestasi yang hebat. Tetapi, untuk bisa melangkah lebih cepat ke arah profesionalisme penuh masih banyak kendala internal yang harus diatasi. Peralihan status dari perserikatan menjadi profesional tidak serta merta menyelesaikan persoalan internal organisasi. Karena itu upaya go public untuk mengumpulkan modal masih belum bisa ditempuh.

Persija Jakarta sudah pernah menyatakan akan go public, tapi sampai sekarang niat itu belum bisa diwujudkan. Persib Bandung yang juga punya basis suporter kuat sampai sekarang belum punya niat untuk melepas saham di lantai bursa.

Klub profesional non-perserikatan, seperti Arema FC, harusnya punya kebebasan yang lebih besar untuk go public. Tapi, terbukti sampai sekarang klub kebanggaan arek-arek Malang itu belum juga masuk lantai bursa.

Persebaya Surabaya dikelola secara profesional

Masuknya entrepreneur muda seperti Raffi Ahmad akan membawa angin segar bagi sepakbola Indonesia. Sebagai entertainer yang punya follower belasan juta di medsos, klub milik Raffi dipastikan akan mendapat dukungan yang besar setiap kali berlaga di kompetisi. Dukungan lewat medsos dari para suporter digital yang fanatik terhadap Raffi akan menjadi basis suporter yang bisa dijual kepada sponsor pemasang iklan.

Tiap kali Rans Cilegon FC berlaga hampir pasti akan menjadi trending topic dan menyedot penonton langsung ke stadion atau menonton melalui live streaming. Di tengah kondisi pandemi yang belum menentu, suporter masih akan dibatasi kehadirannya di lapangan. Karena itu, siaran langsung televise, maupun live streaming melalui kanal klub, akan menjadi revenue streaming penting yang mengalirkan pendapatan untuk klub.

Selain Raffi, bintang lain yang menjadi pusat perhatian pada Kongres PSSI adalah Kaesang Pangarep, Sang Anak Pak Lurah. Kaesang, yang selama ini banyak mengelola bisnis kuliner, mulai merambah bisnis sepakbola dengan membeli saham mayoritas Persis Solo yang berlaga di Liga 2.

Sebagai anak presiden, Kaesang mendapat support yang mudah untuk mengumpulkan modal. Keterlibatan Menteri BUMN Erick Thohir di Persis menjadi jaminan bagi Persis untuk mendapatkan dukungan modal. Erick tidak terjun langsung, tetapi anaknya, Mahendra Thohir, sudah didapuk sebagai presiden komisaris mendampingi Kaesang sebagai presiden direktur.

Tak pelak, Kaesang dan Raffi menjadi bintang pada kongres PSSI. Menpora Zainuddin Amali yang membuka kongres langsung menyapa dua anggota baru itu. Peserta kongres pun memberi aplaus meriah, dan kemudian berebutan selfie bersama Raffi atau Kaesang.

Warganet mempertanyakan, ini kongres atau jumpa fans. Apalagi kasus putus cinta Kaesang dengan Felicia Tissue menjadi viral lagi setelah muncul video Felicia yang menceritakan kronologi hubungannya dengan Kaesang. Jadilah Kaesang bintang yang jadi rebutan untuk berselfie.

Dengan pengaruh Kaesang yang besar dan dukungan dana yang melimpah, Persis Solo bisa merekrut pemain-pemain kelas tim nasional. Beberapa pemain dari Bali United sudah diperbantukan ke Persis. Rizal Torres top skor Piala Menpora asal Persiraja Banda Aceh juga bergabung. Terbaru ada kabar bintang tim nasional Evan Dimas juga akan boyongan ke Persis.

Pemain naturalisasi Beto Gonsalvez sudah resmi bergabung. Dua pemain naturalisasi lain yang disebut-sebut bakal bergabung adalah Greg Nwokolo dan Ezra Walian. Dengan kualitas pemain seperti ini Persis Solo menjadi tim bertabur bintang yang lebih moncer dari tim Liga 1.

Raffi dan Kaesang menjadi ikon baru sepakbola Indonesia. Keduanya akan membawa perubahan pada tatakelola sepakbola di Indonesia. Raffi mewakili generasi baru yang benar-benar profesional, sementara Kaesang masih membawa bau nepotisme dalam pengelolaan klubnya.

Menteri Pemuda dan Olahraga  Zainuddin Amali memperkenalkan Kaesang kepada peserta Kongres PSSI. Kaesang naik ke panggung dan langsung berteriak “Persis Solo, Liga 1 harga mati”.
Peserta kongres bertepuk tangan. Mereka paham bahwa Persis Solo sudah booking tempat untuk promosi ke Liga 1.
Ada dua slot untuk promosi ke Liga 1. Kaesang sudah membooking untuk Persis Solo, yang lain harus berjuang keras merebut satu tiket yang tersisa (*)

Berita Terkait