OPINI

La Nyalla, It’s Now or Never!!

  • Whatsapp
Ketua DPD RI La Nyalla Mahmud Mattalitti berbincang dengan Istri Almarhum Presiden ke-4 Gus Dur, Sinta Nuriyah Wahid di Pondok Pesantren Al Fatimah Bojonegoro, 22 Desember 2019.

Catatan: Prof Dr Sam Abede Pareno, MM,MH

KEMPALAN: Generasi seusia saya (di atas 70 tahun) yang di masa mudanya menyukai lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Elvis Presley, tentu mengenal salah satu lagu penyanyi pop Amerika tersebut berjudul “It’s Now or Never”. Lagu tersebut pada hakikatnya lagu kasmarannya seorang pria terhadap sang kekasih agar segera mengikat janji dengannya. Karena “tomorrow will be too late”, katanya. It’s now or never” artinya “sekarang atau tidak sama sekali”, dan “tomorrow will be too late” artinya “besok akan terlambat”.

BACA JUGA

Lirik lagu tersebut menunjukkan begitu pentingnya waktu, sekarang sudah waktunya, jangan besok, besok lagi, dan besok-besok terus.

Apabila lagu tersebut dianalogikan dengan keinginan para pendukung dan simpatisan La Nyalla, maka tahun 2024 adalah waktu yang tepat baginya untuk maju sebagai presiden. Tidak boleh menanti kesempatan berikutnya (2029), tomorrow will be too late, besok akan sangat terlambat. Selain usia La Nyalla di tahun 2024 sudah mencapai 65 tahun, sudah termasuk tua untuk ukuran manusia Indonesia, meskipun justru dibutuhkan bagi seorang pemimpin nasional karena kedewasaan dan kematangan berpikir yang arif bijaksana, saat ini La Nyalla menjabat ketua DPD RI yang punya akses luas ke daerah-daerah di seluruh Indonesia, yang tentunya merupakan peluang untuk mendulang suara bagi seorang ketua DPD RI. Manuver La Nyalla yang akhir-akhir ini rajin berkunjung ke hampir seluruh provinsi seraya berorasi di beberapa perguruan tinggi merupakan ajang silaturrahim sekaligus memperkenalkan diri dan investasi pribadi. Momentum tersebut tidak akan terjadi apabila tidak sedang menjabat ketua DPD. Ini boleh dibilang sebagai “kampanye” gratis bagi La Nyalla ditambah oleh statementsnya yang layak dikutip oleh media massa dan media sosial. Nampak kecerdasan La Nyalla ketika berorasi di pelbagai event dalam setiap kesempatan kunjungannya.

La Nyalla lahir di Jakarta pada 10 Mei 1959 dari pasangan H.Mahmud Mattalitti alm. dan Hj Fauziah almh. Sang ayah menuntut ilmu di FH UI, tapi tak lama kemudian pindah ke Surabaya dan jadi dosen di FH Unair. Ibunya (Hj Fauziah,alm.) pernah bercerita bahwa La Nyalla sejak kanak-kanak sudah agresif, aktif, dan nakal, tapi cerdas. Ketika SD La Nyalla naik kelas belum waktunya karena kecerdasannnya itu. “Tapi saya sering dipanggil kepala sekolah karena kenakalannya itu,” kata sang ibu seraya menambahkan bahwa ketika SD La Nyalla pernah membawa sangkur untuk membela temannya. “Kalau sudah begitu urusannya saya serahkan pada pamannya yaitu Hatta Ali adik saya,” tutur Hj Fauziah. Hatta Ali mantan ketua Mahkamah Agung RI.

La Nyalla cerdas dan cermat. Dalam memimpin perusahaan-perusahaan dan organisasi kecerdasan dan kecermatannya menonjol sebagaimana yang ditunjukkan olehnya saat ini dalam memimpin DPD. Di masa kepemimpinan La Nyalla, DPD hidup dan dinamis.

Banyak ide yang dilontarkannya terutama untuk meningkatkan fungsi DPD agar setara dengan DPR. Itulah sebabnya saya ikut mendorong agar La Nyalla sekarang saatnya maju sebagai bakal calon presiden. It’s now or never. Tomorrow will be too late, friend.

Surabaya, 27 Mei 2021.

Berita Terkait