Rabu, 22 April 2026, pukul : 02:53 WIB
Surabaya
--°C

Fitnah Para Buzzer, dan Tarian Sunyi Anies

KEMPALAN: Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta, itu selalu jadi berita. Menjadi biasa jika diberitakan yang tidak sebenarnya. Anies langganan untuk diserang berita hoax, bahkan berita fitnah. Siapa pelakunya, dan kenapa fitnah itu didiamkan, tidak dilaporkan saja pada Kepolisian.

Usulan melaporkan itu banyak bermunculan memintanya. Tapi Anies memilih tak melaporkan. Pastilah Anies punya alasan-alasannya sendiri. Dan memang haknya untuk melaporkan dan tidak melaporkan. Mungkin pikir Anies belum waktunya untuk lapor melaporkan, buang-buang waktu saja. Padahal pekerjaan yang mesti ditangani menumpuk. Janji-janji kampanye pada warga Jakarta lebih penting ia kerjakan tinimbang lapor melaporkan akun-akun tidak jelas.

Mendapat serangan fitnah tidak sedikit yang geram. Dan biasa yang geram itu tahu konsekuensi perbuatan jahat itu, bahkan lebih jahat dari pembunuhan. Jangan main-main dengan fitnah, harusnya faham soal tuntutan dosa atas laku fitnah. Tapi terkadang tak berdaya oleh tuntutan perut dan keluarga di rumah yang menanti, yang lalu pekerjaan nista itu pun mesti ia lakukan.

Kasihan sebenarnya mereka itu. Sangat patut dikasihani. Inilah manusia yang hidup mengandalkan orderan untuk melakukan fitnah dan pembunuhan karakter seseorang. Tidak banyak cuan yang bisa didapat, tidaklah sebanding dengan dosa yang ditanggung.

Apakah Anies dengan berita-berita hoax dan fitnah, itu lalu terpukul dan lunglai. Tidak juga. Tidak ada pengaruhnya. Bahkan elektabilitasnya makin kokoh di puncak hampir semua lembaga survei yang merilis hasil surveinya. Setidaknya selalu ada di tiga besar.

Tentu hasil lembaga survei itu lebih banyak di order/pesanan, mirip para buzzerRp, itu pun masih menempatkan Anies di posisi 2 atau 3. Sedang Prabowo Subianto, Capres yang gagal dua kali (2014 dan 2019) dan sebelumnya gagal sebagai Cawapres berpasangan dengan Megawati Soekarnoputri (2009), lebih sering di nomor 1 tingkat keterpilihannya.

Tapi itu juga nantinya dilihat dari variabel pendukung lainnya. Misal, siapa Cawapresnya. Tentu masih banyak variabel lainnya, dan yang lebih pasti adalah siapa rival yang dihadapi nanti. Masih sekitar tiga tahun lagi perhelatan Pilpres, segala kemungkinan bisa saja terjadi.

Tidak Menggubrisnya

Fitnah paling anyar yang disasarkan para buzzerRp, itu adalah Anies menerima rumah mewah 2 lantai, di kawasan elit Kebayoran Baru. Rumah bercat putih, dengan pagar hitam dengan aksentuasi cat warna emas menambah artistik. Adalah Denny Siregar yang pertama menulis di Twitter nya. BuzzerRp senior satu ini memang tidak jera-jera buat berita fitnah terhadap Anies Baswedan.

Fitnah mengatakan, bahwa Anies dapat rumah itu sebagai suap karena telah meloloskan pengembang dengan memberi izin reklamasi. Entah yang di foto itu rumah siapa, diedarkan sebagai rumah Anies hasil gratifikasi.

Jika bukan Anies yang difitnah, itu pasti akan teriak-teriak geram. Itu tidak pada Anies, yang tenang-tenang saja dengan tidak menghiraukan fitnah jahat itu. Memberi klarifikasi pun tidak. Anies seperti biasa, tidak hirau dengan berita demikian. Cukup pihak-pihak berkompeten disekitarnya yang lalu memberi klarifikasi bahwa itu fitnah.

Pilihan Anies dengan tidak memperdulikan berita-berita hoax dan fitnah terhadap dirinya, itu pilihan dan sikap yang tepat. Meladeni para pengecut, yang hanya berani tampil dengan nama anonim bahkan akun-akun palsu, itu sama dengan “goyangan” yang ditabuh dengan tabuhan tak berirama.

Anies terus tampil dengan kerja-kerjanya yang terukur dan fokus untuk membuat sejahtera warganya, warga Jakarta yang mengamanahinya untuk bekerja dengan sungguh-sungguh.

“Menggoyang” Anies yang dilakukan para buzzerRp, itu sepertinya akan terus dilakukan, meski tingkat akurasi keberhasilannya nol. Terpenting buat narasi-narasi buruk dan hoax buat Anies, dan itu akan sampai tahun 2024. Mungkin pikirnya, masa sih ditebar berita hoax dan fitnah tidak satupun ada yang nyantol mengena.

Sejauh ini memang tidak efektif, bahkan para buzzerRp itu makin belingsatan, bisa jadi pihak yang mengorder tidak melihat hasil yang dicapai. Maka yang disasar bukan lagi kerja Anies, tapi hal-hal personal, yang bahkan terkesan rasis.

Ada semacam adagium yang populer dikalangan para buzzerRp, itu berkenaan dengan Anies, bahwa setiap kejadian yang tidak mengenakkan di DKI Jakarta, jadikan itu kesalahan Anies Baswedan. Sedang jika ada pengakuan atas prestasi yang dibuat Anies Baswedan, maka katakan bahwa keberhasilan itu tidak berdiri sendiri.

Masyarakat bisa melihat itu dengan amat jelas. Goyangannya amat mudah ditebak. Semakin para buzzerRp itu menggoyang Anies, maka Anies pun akan menari, dan itu yang dinanti. Dan “tarian sunyi” Anies itu akan diingat khalayak terus sampai 2024. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.