MOSKOW-KEMPALAN: Israel adalah “Negara Yahudi” namun bukan berarti semua Yahudi mendukung Israel, adapula mereka yang mengkritik Israel, seperti Norman Finkelstein. Selain itu ada juga kelompok Yahudi layaknya Neturei Karta yang menyarankan pembubaran negara Israel sebagai penyelesaian konflik Palestina dan Israel.
Mereka merupakan bagian dari Yahudi Haredi, yang mana nama kelompoknya berarti ‘Pelindung Kota’, kota yang dimaksud di sini adalah Yerusalem. Salah satu tokohnya adalah Rabbi Yisroel Dovid Weiss. Kelompok tersebut memiliki sudut pandang yang kritis terhadap Israel.
“Zionisme adalah transformasi Yahudi, dari agama, dari ketundukan kepada Tuhan, menjadi konsep material nasionalisme. Ini tidak bisa diterima oleh orang-orang yang ingin melayani Tuhan. Untuk menciptakan nasionalisme ini, mereka menyingkirkan Tuhan dari persamaan,” ujar sang Rabbi ketika diwawancarai oleh Russia Today.
“Kami diperingatkan oleh para nabi bahwa kami akan diusir dari tanah air dan itu terjadi dengan penghancuran bait suci [di Yerusalem] 2.000 tahun yang lalu. Kami tidak boleh kembali secara massal – itu adalah pengasingan yang diperintahkan Tuhan – dan kami juga tidak akan memberontak melawan negara mana pun tempat kami tinggal,” tambahnya.
Ia juga menambahkan, orang Yahudi harus mendoakan kemakmuran atas tanahnya dan tidak berusaha untuk mengakhiri pengasingan yang sudah menjadi takdirnya. Maka dari itu kelompoknya beranggapan, agamanya memerintahkan diri mereka untuk secara terbuka memprotes apa yang mereka anggap sebagai pendudukan atas nama Yahudi. Mereka juga berupaya untuk memperlihatkan kepada masyarakat perbedaan mendasar antara Yahudi dan Israel.
“Tujuan [Zionis] adalah memiliki keadaan material mereka, dan apa pun yang menghalangi mereka tidak mengganggu mereka. Taurat mengatakan jangan mencuri, jadi setiap konsep Zionisme melanggar Taurat. Mereka tahu agama kami tidak meminta kami untuk mengangkat senjata dan mengambil alih tanah. Sebaliknya, kami dilarang,” tutur Rabbi Yisroel.
Ia menambahkan, Israel mencuri Bintang Daud dari umat Yahudi dan menyatakan kepada dunia bahwa mereka “melakukan kehendak Tuhan.” Hal itu, menurutnya, dilakukan untuk tujuan intimidasi sehingga siapa pun yang angkat bicara menentang mereka dituding anti-Yahudi. Bagi sang Rabbi, Israel tidak mewakili Taurat.
“Zionis terus-menerus mencoba memasukkan Taurat ke dalam monster mereka yang disebut negara Israel. Mereka memiliki seorang Kepala Rabi, seorang Rabi; semuanya adalah hiasan jendela, mereka memberi stempel pada apa pun yang dilakukan Israel dan menciptakan aura kesucian,” katanya.
Ia menyesalkan banyak mahasiswa yang terutama dari keluarga non-religius yang masuk ke dalam perangkap propaganda Zionis dan berbicara dengan emosi bahwa umat Yahudi telah diasingkan selama 2.000 tahun lalu mengklaim bahwa Tuhan memberikan kembali lahan yang dijanjikan.
“Orang-orang berpikir untuk menjadi pahlawan bagi Yudaisme, mereka harus kembali ke Israel dan pergi ke permukiman. Kami tidak memaafkan kekerasan, tetapi mereka menghasutnya dengan mengusir orang-orang Arab seperti yang mereka lakukan sekarang di Sheikh Jarrah. Suatu tindakan adalah reaksi; apa yang kamu harapkan? Itulah mengapa terjadi pertumpahan darah,” ujar agamawan tersebut.
Meskipun dituding pro-ekstremis karena mau bertemu dengan pemimpin Hamas dan Hizbullah, Weiss hanya mengatakan, baik Hamas maupun Hizbullah ingin pembubaran negara Israel secara damai dan menyebut bahwa sumber masalah bukanlah Hamas, apa yang dilakukannya hanya reaksi atas ketidakadilan akibat tindakan Israel.
“Setiap 10 tahun atau lebih negara Israel berperang, mereka tidak pernah memiliki kedamaian sejati. Kami percaya itulah yang Tuhan katakan kepada kami. Kami percaya Israel akan berakhir karena itu adalah pemberontakan langsung melawan Tuhan, kami dilarang memiliki negara Yahudi,” tambahnya.
Ia menyerukan kepada pemimpin dunia untuk berhentu mendukung pendudukan yang dilakukan Israel dan mencoba membawa bantuan untuk penduduk Palestina. Menurutnya, orang Yahudi bisa hidup bahkan tanpa Israel sekalipun yang baru lahir hanya 73 tahun yang lalu, sementara sejarah umat Yahudi sudah ribuan tahun.
Rabbi itu percaya bahwa Israel harus diganti namanya dan negara Palestina dibentuk sebagai gantinya. Dia kemudian merasa itu bisa menjadi rumah bagi orang-orang Yahudi dan Muslim, seperti ratusan tahun sebelumnya. (Russia Today, reza hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi