Rabu, 22 April 2026, pukul : 02:54 WIB
Surabaya
--°C

Konflik Tanpa Kesudahan, Sengkarut Kepentingan di Bumi Palestina

KEMPALAN: Joe Biden, Presiden AS, pastilah tidak bisa berbuat apa-apa jika itu menyangkut kepentingan Zionis Israel. Ia yang tampil simpati pada persoalan dan kepentingan umat Islam, khususnya di AS, menjadi tampak melempem jika menyangkut kepentingan Zionis Israel.

Memang banyak kebijakan yang diambil Trump, yang “represif” menyangkut Islam dibatalkan Biden. Menjadikan muslim di belahan dunia manapun bersimpati padanya. Setelah sebelumnya, Trump bersikap diskriminatif dan rasis pada muslim dan kaum pendatang lainnya.

Sekali lagi, kebijakan yang diambil itu tidak menyangkut kepentingan Zionis Israel. Jika menyangkut kepentingan Zionis Israel, maka Biden kembali ke watak asli pemimpin AS, baik berasal dari kubu Partai Demokrat maupun Republik, sikapnya pastilah membela kepentingan sekutu utamanya itu (Israel).

Ini hal yang memang sudah pasti, bahkan semacam persyaratan yang harus dipenuhi Capres AS dari kedua kubu, bahwa siapa pun yang terpilih akan bersikap sama jika itu menyangkut kepentingan Zionis Israel.

Presiden Amerika Serikat Joe Biden (kanan) bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Siapappun presiden AS harus sepakat untuk mendukung Israel. (foto:ist)

Maka siapa pun Presiden AS, baik dari kubu Demokrat maupun Republik yang terpilih, sama-sama bekerja untuk kepentingan zionis Israel. Jadi buat Palestina khususnya, bahwa politik luar negeri AS tidak akan berpengaruh atau berubah, siapa pun yang terpilih dari dua kubu itu.

Semua lalu tersadar bahwa ternyata Joe Biden juga seorang Zionis Radikal. Justru jika tidak berwatak demikian, mustahil ia akan terpilih menjadi presiden, bahkan menjadi kandidat presiden pun rasanya mustahil. Presiden yang terpilih dari dua kubu yang ada pastilah berwatak Zionis Radikal.

Kebijakan politik luar negeri AS memang selalu berkhidmat pada Zionis Israel, itu nyata. Maka jika muncul pendapat, bahwa sebenarnya Amerika itu ada dalam jajahan Israel, itu pendapat yang tidak terlalu salah. Yahudi Amerika yang berwatak zionis, memang mengendalikan hampir seluruh kebijakan pemerintah AS, baik ekonomi, politik dan seterusnya. Dan memberi sokongan penuh pada Israel.

Itulah sebab mengapa Zionis Israel berani bertindak sewenang-wenang tanpa kemanusiaan di Palestina, itu karena dukungan AS yang tanpa reserve. Maka Biden tutup mata dengan korban berjatuhan di jalur Gaza, dan bukannya prihatin tapi justru sikapnya menyalahkan, bahwa yang mengawali kemelut itu karena dipicu adanya penyerangan roket dari Gaza ke Israel.

Menurutnya, Israel tidak melakukan reaksi yang berlebihan dalam menanggapi tembakan roket dari Gaza itu. Walau nyata respon Zionis Israel itu berlebihan dengan melakukan serangan bertubi-tubi, merontokkan bangunan dan merusak fasilitas umum lainnya, dan dengan korban terbunuh dan luka-luka tidak kecil. Itu dianggap Biden dengan “reaksi tidak berlebihan”.

Biden mustahil bisa fair dengan melihat mula kejadian tidak pada tembakan roket dari Gaza. Itu hanyalah reaksi setelah terjadi bentrokan serdadu zionis Israel dengan muslimin di Syaikh Jarrah, Jerusalem. Adalah hal mustahil jika roket itu ditembakkan tanpa sebab. Jika sudah demikian, maka AS mencari alibi seolah yang dipersalahkan adalah yang memulai dengan tembakan roket dari Gaza.

Ultimatum Abu Ubaidah

Perkampungan Syaikh Jarrah dan Masjidil Al-Aqsa, itu pada tanggal 6 Mei, mulai bentrokan itu berawal. Serdadu Israel melakukan perampasan rumah-rumah milik muslim Arab, maka muslimin melawan dengan mempertahankan aset-asetnya. Tidak kurang dari 180 warga sipil muslim menjadi korban.

Setelah itu, keesokan harinya, Jum’at (7 Mei), eskalasi bentrokan makin menjadi dan brutal, baik di Syaikh Jarrah maupun di Masjid Al-Aqsa, dimana penduduk muslim tetap mempertahankan tempat tinggal mereka, dengan pedoman syariat, “Siapa yang terbunuh karena membela hartanya, maka ia syahid.” Pedoman itu menguatkan mental mereka menghadapi kebrutalan serdadu Israel.

Pasukan Brigade Al Qassam, sayap militer Palestina yang sangat ditakuti Israel. Pasukan tempur ini memiliki kemampuan perang dan sumber daya yang mampu membuat militer zionis kocar-kacir. (Foto: Arabnews).

Melihat eskalasi kebrutalan serdadu zionis itu, juru bicara Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas, Abu Ubaidah, muncul memberi pernyataan dan sekaligus mengultimatum pada serdadu zionis untuk mundur dari Al-Quds, serta menghentikan agresinya.

“Jika sampai pukul 13.00 (pukul 1 siang) ultimatum ini tidak diindahkan, maka roket-roket Hamas akan mentarget aset-aset militer dan pemerintahan Israel,” ancamnya.

Bukannya menghentikan agresinya, malah jet-jet tempur Israel dikerahkan menghantam sasaran sipil di kota Gaza dengan membabi buta. Dan Israel, makin merasa panik saat melihat kenyataan bahwa rudal Ayyas yang ditembakkan militer Hamas, bisa mencapai Kota Ramon, membuat sebagian warga yahudi di kota itu memilih mengungsi. Makin histerislah Israel melakukan serangan dengan membombardir kota Gaza.

Tepat di hari raya Idul Fitri, 13 Mei, Abu Ubaidah muncul menyampaikan pernyataan pers yang disiarkan secara langsung.

“Wahai saudara kami dan barisan pertahanan kami, terima kasih dan tahniah kepada kalian, walaupun ada yang terluka di Idul Fitri ini. Perang “Pedang Al-Quds” Jerusalem adalah untuk meraih kebebasan dan kemenangan untuk Palestina dan Syaikh Jarrah.”

Lanjutnya, dan pernyataannya bagian dari psywar yang dimainkannya, dan itu mengaduk-aduk perasaan warga Israel mencapai ketakutan yang mencekam.

“Percayalah kami mempunyai senjata cukup yang kalian tidak sangkakan. Maka angkatlah tangan dan senjatamu, banggakan barisan pertahananmu, pejuangnya dan para syuhada, dan semua kekuatan yang melawan Israel.”

Entab kenapa justru warga Israel lebih percaya dengan pernyataan dari Abu Ubaidah ketimbang dari pemerintah dan pejabat Israel sendiri.

“Wahai Israel, menyerang Tel Aviv, Al-Quds, Demona, Ashkeloa, Ashdod, dan Bi’r Al-Sabi’ baik sebelum maupun sesudah ini adalah lebih mudah buat kami daripada meneguk air minuman.”

Apa yang disampaikan Abu Ubaidah, itu sudah cukup buat warga Israel untuk bersiap-siap menyelamatkan diri, bahwa perang akan berjalan panjang. Dan itu akan mencekam berkepanjangan.

Abu Ubaidah menutup pesan ultimatum “horornya”, demikian:

“Silahkan turunkan pasukan kalian, kami telah siapkan jalan kematian yang akan membuat kalian mengutuki diri kalian sendiri. Tidak ada yang kalian dapatkan dari kami kecuali Pedang Al-Quds atau neraka.”

Bisa Berharap Sedikit pada Erdogan

Israel membombardir Gaza dengan tidak ada rasa ketakutan akan kemarahan negara-negara Arab di sekitarnya. Negara-negara Arab tidak jadi halangan buatnya untuk “menghabisi” bangsa Palestina di negerinya sendiri.

Negara-negara Arab dan OKI sekalipun dibuat tak berdaya, yang hanya bisa mengutuk dan mengutuk aksi Israel itu. Juga Dewan Keamanan PBB, seperti biasanya, tidak akan bisa berbuat apa-apa. Paling-paling hanya buat resolusi dan banyak resolusi sebelumnya yang diabaikan Israel. Lewat Hak Veto, Amerika selalu melindungi Israel.

Presiden Turki Tayip Recep Erdogan menunjukkan peta Palestina yang dicaplok Israel sejak 1947 hingga hari ini. (foto:ist)

Hanya Presiden Turki, Erdogan, yang aktif menggalang solidaritas Palestina. Menelpon beberapa kepala negara di Timur Tengah. Menelpon Biden dan bahkan mengajak Putin untuk memberi pelajaran Israel. Tentu itu hanya sebuah upaya, belum ada bantuan riil pada Palestina, setidaknya sampai sekarang.

Arab Saudi sunyi, tidak tampak sikapnya. Semacam sudah terikat kakinya, tidak bisa bergerak. Iran yang biasanya cuma berani bicara di wacana, kali ini pun tidak terdengar suaranya. Erdogan memang tidak menghubunginya, mungkin pikirnya percuma saja. Dan lagian hubungan Turki dengan Iran tidak harmonis.

Qatar sebuah negeri mini yang masih punya ghirah berdiri bersama Turki. Juga Kuwait, Yordania. Tapi bisa apa negara-negara itu menghadapi Israel dengan sokongan penuh Amerika. Mustahil bisa mengirim bantuan persenjataan buat Palestina. Mungkin hanya bisa diharapkan bantuan kemanusiaan berupa pasokan makanan, obat-obatan dan sejenisnya.

Semua tidak tahu, seberapa lama perang ini akan berlangsung, dan seberapa kuat persenjataan Hamas untuk bisa bertahan. Tapi jika perang ini akan berlangsung lama, maka sinyalemen mantan Menteri Luar Negeri Amerika paling fenomenal, Henry Kissinger, bahwa Israel akan punah di tahun 2022, akankah jadi kenyataan?

Sinyalemen dengan Tanpa Analisa

Entah kenapa Henry Kissinger, di tahun 2012, mengatakan bahwa Israel akan punah sepuluh tahun kedepan (2022). Kissinger tanpa memerinci apa penyebabnya. Mustahil ia asal bicara. Pasti ada sesuatu menurut pengamatannya, setidaknya, yang akan buat Israel punah.

Henry Kissinger adalah menteri luar negeri AS di zaman Presiden Nixon, juga di masa Presiden Gerald Ford (1973-1977). Nixon ditumbangkan dalam kasus Watergate, dan lalu digantikan Wapresnya Gerald Ford. Hanya empat tahun Kissinger menjadi Menlu, tapi banyak prestasi yang dicapai. Ia melobi Soviet, dan juga berhasil melobi dua negara utama di Timur Tengah yang kuat dalam persenjataan, yaitu Mesir dan Syria, untuk duduk bersama menandatangani perjanjian dengan Israel: Perjanjian Yom Kipur (1973).

Maka selanjutnya, di era Presiden AS, dijabat Jimmy Carter (Demokrat), memuluskan Carter mengajak dua negara pada perjanjian bilateral, antara Israel dan Mesir, Perjanjian Camp David (1978). Setelah itu Mesir yang di zaman Presiden Gamal Abdel Nasser, paling lantang pembelaannya atas Palestina, menjadi melempem. Perjanjian Camp David dianggap penghianatan Mesir, lebih tepat Anwar Sadat, pada perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina.

Mesir lalu menjadi mesra dengan Israel, dan menjadikan kemarahan kelompok ekstremis yang lalu memunculkan terbunuhnya Anwar Sadat, saat perayaan hari Angkatan Perang Mesir. Sadat meninggal tragis. Lalu digantikan Wapresnya, Husni Mubarok, dan berdasar warisan perjanjian Camp David, Mesir menikmati milyaran dollar Amerika setiap tahun, sogokan untuk diam, duduk manis dan untuk tidak mengusik Israel.

Satu persatu pemimpin kharismatis Arab ditumbangkan. Presiden Irak, Saddam Hussein, dijatuhkan dengan invasi Amerika ke negaranya (2003), yang menuduh Irak mengembangkan senjata kimia. Tidak terbukti, dan Irak dilumat dan Saddam ditangkap, dan meninggal diadili rakyatnya sendiri di tiang gantungan.

Lalu satu persatu negara-negara Arab “dihipnotis” dengan istilah yang dikenal dengan al-Tsaurah al-Arabiyah, atau Arab Spring. Itu bermakna revolusi yang akan mengubah tatanan masyarakat dan pemerintahan Arab menuju sejahtera.

Revolusi di mulai dari Tunisia, yang terkenal dengan nama Revolusi Melati (2011), yang dimulai dari aksi bakar diri ( self immolation) seorang pemuda Tunisia, Muhammad Bouazizi. Itu bentuk keputusasaan Baouazizi atas sikap represif dan kediktatoran rezim Zainal Abidin Ben Ali.

Lalu Arab Spring terus menggelinding ke negara-negara Arab lainnya. Muammar Khadafi, Presiden Libya, ditumbangkan dan dibunuh rakyatnya sendiri dengan sadistis, yang sulit itu bisa terjadi pada masyarakat beradab.

Arab Spring muncul sejak 2011 di Tunisia yang ke seluruh jazirah Arab. Arab Spring penuh dengan kepentingan (foto: ist)

Dan Syria ditinggal dengan perang berkepanjangan yang didalamnya ada Rusia, Iran dan bahkan Turki. Menjadi ajang perebutan perang Sunni-Syiah. Sedang negara-negara lain, khususnya negara monarki di Timur Tengah memilih diam, jika tidak ingin digulung Amerika. Saudi Arabia ada didalamnya. Jika tidak, maka Bani Saud hanya akan tinggal dalam kenangan sejarah.

Memecah belah negara-negara Arab di Timur Tengah dengan dalih demokrasi (Arab Spring), tidak membuat kondisi lebih baik, tapi justru melemahkan. Semua itu dilakukan Amerika semata untuk menjadikan kawasan Timur Tengah aman buat Israel. Tentu juga ada alasan lainnya, yaitu sumber minyak yang melimpah.

Maka yang digagas Turki dibawah Erdogan adalah upaya menghimpun negara-negara yang masih punya gairah sebagai kekuatan di Timur Tengah, meski tidak terlalu bisa diharapkan berlebih. Setidaknya ada empati terhadap bangsa dan rakyat Palestina.

Melihat konflik Palestina dengan Israel, ini bisa cepat diakhiri, tapi bisa juga berkepanjangan. Jika berkepanjangan, maka bisa dipastikan sarana dan prasarana publik di kota Gaza akan hancur. Karena sepertinya Israel sengaja menyasar sasaran sipil. Akankah roket-roket Hamas juga akan menyasar warga sipil Israel. Jika itu yang terjadi, maka “ramalan” Henry Kissinger, bisa jadi akan menuai kebenaran. Setidaknya bisa saja terjadi demo besar-besaran warga Israel sendiri untuk menumbangkan Benyamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, yang paling bebal dan keras kepala. Semua kemungkinan bisa terjadi dan bahkan bisa menyeret pada medan konflik yang lebih luas. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.