Kamis, 14 Mei 2026, pukul : 11:29 WIB
Surabaya
--°C

Kisah Tentara Perempuan di Ukraina

KYIV-KEMPALAN: Banyak perempuan ingin diposkan di garis depan, namun ketika sampai di sana, mereka justru mendapati seksisme dan serangan seksual.

Di dekat garis depan Donbas, Anastasia yang berumur 24 tahun adalah operator radio yang ditugaskan memastikan tentara di garis depan mampu berkomunikasi satu sama lain.

Ia ditempatkan di dekat Kota Mayorsk, di mana sejumlah tentara telah tewas dalam beberapa bulan terakhir, ia masuk ketentaraan enam bulan yang lalu, tanpa restu dari orang tuanya.

Ia menyampaikan, dirinya bergabung karena diharuskan seraya menanyakan jika bukan dirinya lalu siapa lagi.

“Saya bangga berjuang di ketentaraan. Ini adalah tujuan saya. Saya tahu bahwa keluarga saya tidak akan menyukainya jika saya bergabung (dengan tentara), jadi saya tidak memberitahu ibu saya dan langsung saja mendaftar. Setelah itu, tidak ada kata kembali,” ujarnya seperti yang dikutip Kempalan dari Euronews.

Selain itu, ada Alla Akimova yang berumur 38 tahun, ia bekerja di dapur untuk mempersiapkan makanan para tentara dan memutuskan bergabung dalam peperangan agar dekat dengan suaminya.

“Saya biasanya di rumah dengan anak-anak,” tutur Akimova di pos militer dekat Zolote.

“Tapi mereka semua sudah dewasa sekarang, dan saya ingin membantu membuat perubahan di sini. Saya tidak bisa pergi berperang ketika masih punya anak kecil,” tambahnya.

Menurut data yang dikeluarkan Kementerian Pertahanan, sebanyak 23% dari ketentaraan Ukraina adalah perempuan, angka itu adalah kenaikan 15 kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir. Setengahnya adalah tentara yang berperang, sementara lainnya sipil dengan peranan pendukung.

Peningkatan yang sangat cepat itu dikarenakan konflik dengan Rusia usai tindakan pencaplokan mereka atas Krimea dan dukungannya atas kaum separatis di Donbas.

Meskipun perempuan lebih mudah berkarir di ketentaraan, namun masih ada tantangan di sana.

Warisan Soviet

“Peran tradisional gender masih ada, dan hal itu susah untuk diubah. Hal itu bukanlah satu urusan saja, karena ia adalah tradisi,” tutur Hanna Hrytsenko, peneliti independen dan bagian dari proyek Batalion Tak Kasat Mata Ukraina yang meneliti peranan perempuan dalam ketentaraan.

Ia menuturkan, orang terbiasa akan kehidupan pada umumnya dan berpandangan tidak perlu ada perubahan.

Hrytsenko mengatakan bahwa peran gender adalah sisa-sisa dari era Soviet ketika prioritas demografis negara adalah untuk mendorong perempuan untuk fokus pada persalinan dan mengasuh anak.

Sebagai hasil dari pandangan itu, perempuan cenderung di dorong untuk bekerja ke pekerjaan kantoran atau medis.

Namun, menurutnya, permasalahan itu perlahan sedang berubah.

Hrytsenko sendiri telah mendokumentasikan sejumlah pelecehan seksual, seperti nama panggilan, godaan, penyentuhan, juga insiden pemerkosaan tentara perempuan oleh kolega lelakinya.

“Perempuan hanya bisa melakukan sejumlah hal secara fisik atau harus meninggalkan dinas ketentaraan ketika sesuatu terjadi,” tambahnya.

“Meskipun ratusan perempuan bekerja di ketentaraan, sistem patriarkis dan konservatif ini masih bertahan. Sistem ini biasanya tidak di desain untuk menjaga perempuan, yang seringkali tidak bisa komplain,” tutur peneliti independen itu.

Seperti Anastasia di atas yang ingin diposkan di garis depan, ia tetap bersiap menghadapi tantangan.

“Ada hal-hal yang mana perempuan tidak serta-merta diperbolehkan untuk melakukannya, seperti berada di garis depan. Tidak semua perempuan diperbolehkan di sana, karena banyak lelaki tidak suka dengan hal itu,” ujarnya.

Pemimpin gerakan perempuan di Ukraina, Iryna Suslova yang pernah menjadi anggota parlemen dan memimpin subkomite diskriminasi dan kesetaraan gender, mempercayai bahwa keadaan perempuan di ketentaraan membaik seiring waktu berjalan.

“Lima tahun yang lalu, perempuan […] tidak bisa mengendarai tank, menjadi sniper, terlibat dalam sabotase dan pasukan pengintai, serta bekerja sebagai infanteri,” katanya.

Tapi memerangi kekerasan seksual tetap menjadi tantangan besar, tidak hanya di Ukraina.

“Masalah ini sangat umum di seluruh dunia dan di negara-negara di mana terjadi konflik militer. Sayangnya, Ukraina tidak terkecuali. Perlu untuk menyiapkan hotline, membuat jalur kepercayaan, bekerja, menyelidiki dan menuntut, yang sayangnya tidak terjadi sekarang, meskipun faktanya kasus seperti itu ada. Mereka terbuka untuk umum, tetapi kasusnya tidak diselidiki dengan baik,” tambahnya.

Iryna Bazykina yang bekerja sebagai tim medis ketentaraan adalah salah satu yang maju ke media dan menyampaikan pengalamannya. Baru-baru saja ia mengatakan kepada Radio Freedom bahwa ketika ia meminta untuk diposkan di garis depan, seorang komandan memintanya untuk datang kerumahnya guna membahas ke depannya bagaimana.

Ia mengaku, ketika sampai di rumah sang komandan, lelaki tersebut menyerangnya. Bazykina mengaku bahwa dinas ketentaraan berusaha menghalangi dirinya untuk melaporkan hal itu, dan ketika ia melapor, kasusnya mendadak ditutup.

Membawa Perubahan

Victoria Arnautova, penasehat Panglima Angkatan Bersenjata Ukraina, mengomentari pada bulan Maret lalu mengenai pemerkosaan di dalam dinas ketentaraan Ukraina dengan mengatakan bahwa pemerintah sedang mengembangkan mekanisme internasional untuk menghadapi pelecehan seksual.

“Kami sedang mempelajari undang-undang, menganalisis dokumen internal, cara terbaik untuk mengembangkan mekanisme ini, yang akan mencakup cara mengajukan pengaduan, melindungi hak-hak peserta dalam proses tersebut,” kata Victoria.

Ia menambahkan perlunya untuk melancarkan mekanisme semacam kerahasiaan dan anonimitas, kemampuan untuk menyelesaikan kasus tanpa perlu publisitas.

Menurutnya, permasalahan ini memiliki tingkat stigmatisasi yang tinggi, tidak hanya di ketentaraan namun juga di masyarakat. (Euronews, reza m hikam)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.