JAKARTA-KEMPALAN: Pendidikan menjadi pondasi utama dalam pembangunan sebuah bangsa. DI era disrupsi seperti sekarang, teknologi acap kali dimanfaatkan sebagai instrumen pembantu dalam proses transmisi ilmu di dunia pendidikan. Untuk mengetahui tingkat kebutuhan dari teknologi di sektor pendidikan, maka Lembaga Arus Survei Indonesia (ASI) melakukan survei.
Hasil survei ini dirilis oleh Ali Rif’an selaku Direktur Ekesekutif Lembaga Arus Survei Indonesia. Dimana ia menjelaskan bahwa sekitar 66% masyarakat berpendapat bahwa teknologi merupakan sebuah kebutuhan yang harus terintegrasi dengan proses edukasi atau pendidikan. Hal ini akan selaras dengan eskalasi pada kualitas pendidikan Indonesia.
“Sementara 17,2 persen mengatakan bukan merupakan kebutuhan penting. Adapun 16,8 persen mengaku tidak tahu atau tidak jawab,” ujar Ali Rif’an selaku Direktur Eksekutif ASI melalui keterangan tertulis, pada Kamis (29/4).
Dalam riset dari hasil survei ini, Arus Survei Indonesia (ASI) melihat bahwa kebutuhan teknologi dalam sektor pendidikan yang cukup vital. Dalam artian, jika pendidikan sudah dilaksanakan secara tata muka atau offline, teknologi tetap harus digunakan dalam proses pembelajaran.
Dapat diketahui dari hasil survei yang secara data memperlihatkan sekitar 64,7% masyarakat memiliki pendapat bahwa optimalisasi teknologi digital tetap dibutuhkan untuk proses pembelajaran. Kemudian, sekitar 66% masyarakat sangat sepakat bahwa teknologi harus terintegrasi dalam setiap proses pembelajaran. Teknologi menjadi variabel yang sangat penting dalam menunjang proses transmisi ilmu.
Sementara itu, Arus Survei Indonesia (ASI) juga memotret harapan publik terkait upaya membangun visi pendidikan nasional ke depan. Sebanyak 24,4% responden ingin pendidikan nasional harus mampu membangun sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Lalu, 23% lainnya berharap visi pendidikan nasional bisa mencerdaskan anak bangsa.
Ada 12,2% publik ingin visi pendidikan nasional bisa membuat SDM Indonesia mampu bersaing di kancah global. Sedangkan, ada 10,4 persen responden berharap visi pendidikan di Tanah Air mengutamakan inovasi.
“Kebijakannya benar-benar pro rakyat (10,4%), menggunakan teknologi sebagai sarana meningkatkan mutu pendidikan (4,6%), dan bervisi Pancasila (2,2%),” tuturnya.
Survei dilaksanakan pada 21-25 April 2021 di 34 provinsi di Indonesia. Metode yang dilakukan dengan cara telesurvei, yaitu responden diwawancara melalui kontak telepon menggunakan kuesioner. Metode penarikan sampel yakni Multistage Random Sampling. Survei melibatkan 1.000 responden dengan margin of error sekitar 3,1 persen, pada tingkat kepercayaan 95 persen. (Rafi Aufa Mawardi)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi