Selasa, 5 Mei 2026, pukul : 22:02 WIB
Surabaya
--°C

Dubang dan Teroris di Papua

KEMPALAN: Orang Jawa dulu punya tradisi nginang, menginang mengunyah sirih, pinang, gambir, tembakau, kapur, dan cengkih. Perempuan di desa-desa “nyusur” mengulum gumpalan tembakau sambil melakukan aktivitas memasak atau mengobrol dengan tetangga. Sesekali embok-embok itu meludahkan dubang, idu abang, ludah merah ke tanah. Ludah menjadi merah karena reaksi campuran tembakau dan bahan-bahan kinangan.

Tradisi nginang menjadi warisan budaya yang sudah berumur ribuan tahun. Konon sejak zaman Neolitik sekitar 3000 tahun yang lalu tradisi nginang sudah ada. Warisan budaya ini sekarang hilang dari tanah Jawa.

Tapi kalau kita terbang ke lima sampai delapan jam ke wilayah paling ujung timur Indonesia di Papua tradisi menginang masih banyak terlihat. Masyarakat Papua gemar mengunyah pinang karena menguatkan gigi dan gusi. Menikmati buah pinang punya sensasi tersendiri karena rasanya yang unik. Kombinasi manis, pahit, dan asam menjadi paduan yang unik. Banyak yang mengatakan bahwa tidak ada makanan atau bumbu lain yang rasanya menandingi buah pinang, kalau tidak mengunyah dalam sehari rasanya ada yang hilang dalam hidup. Menginang juga bagian dari tatakrama pergaulan untuk menghormati kerabat dan tetamu.

Jawa dan Papua, dua wilayah geografis yang berbeda, dipisahkan jarak beribu kilometer disatukan oleh budaya menginang yang sama. Papua adalah salah satu bukti kongkret keunikan dan keberagaman Indonesia, datanglah ke Papua. Sejak masuk Bandara Sentani, lalu menuju ibukota Jayapura melewati Danau Sentani yang luas dan cantik, lalu masuk ke kota Jayapura, kita akan menyaksikan dunia yang berbeda dari apa yang sehari-hari kita lihat di Jawa.

Dari jendela pesawat udara terlihat rangkaian pulau-pulau kecil bertebaran di sela-sela lautan yang biru. Gunung-gunung, bukit, dan ngarai membentuk mozaik yang unik dan cantik. Bung Karno dengan tepat menggambarkan mozaik indah itu sebagai “untaian ratna mutu manikam” rangkaian permata yang membentuk perhiasan kalung atau hiasan kepala wanita.

Penduduk Papua berbadan tegap berkulit legam dan berambut keriting. Masih banyak terlihat laki-laki yang  bergigi merah karena kebiasaan menginang. Di sana-sini masih terlihat dubang. Penduduk Papua adalah keturunan Melanesia yang masih berkerabat dengan manusia Afrika, sedangkan manusia Jawa keturunan Astronesia yang sekerabat dengan manusia di daratan China dan sekitarnya.

Dubang sebagai identitas budaya

Dua latar belakang sejarah yang beda, latar belakang budaya dan agama yang berbeda, disatukan melalui cita-cita bersama yang diikat melalui “komunitas bayangan” atau “Imagined Community” dalam istilah yang diperkenalkan Ben Anderson (1983). Papua bergabung dengan Indonesia pada 1945 dan tidak memilih menjadi negara sendiri seperti tetangganya di New Guenia yang membentuk negara Papua sendiri.

Papua bergabung dengan NKRI dalam sebuah persekutuan yang unik. Ibarat pernikahan, ini bukan pernikahan yang didasari oleh unconditional love, cinta tanpa syarat, tapi lebih seperti marriage of convenience, atau semacam kawin kontrak, yang dilakukan dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi. Karena jenis pernikahannya adalah kawin kontrak maka hubungan cintanya bisa gampang rapuh karena berbagai persoalan.
Begitulah hubungan Irian Barat, ketika itu, dengan Indonesia. Selama hampir 25 tahun hubungan itu direcoki oleh munculnya pria atau wanita idaman lain yang mengganggu rumah tangga. Belanda tidak pernah mengikhlaskan Papua lepas ke Indonesia. Perseteruan seperempat abad diakhiri pada 1969 dengan referendum untuk menentukan nasib sendiri di Irian Barat.
Masyarakat memilih untuk menjadi bagian dari Indonesia. Tapi, sebagaimana referendum di mana pun di dunia, pasti ada pihak yang tidak puas dengan hasilnya. Gerakan yang tidak puas kemudian membentuk organisasi politik OPM, Organisasi Papua Merdeka, untuk memisahkan diri dari Indonesia. Rezim Orde Baru merespons gerakan ini secara represif dengan melakukan ekspedisi militer dan menetapkan Irian Barat sebagai Daerah Operasi Militer.

Orde Baru juga menerapkan strategi asimilasi dan akulturasi melalui program transmigrasi besar-besaran sepanjang 1970an. Komunitas Jawa tumbuh berkembang menjadi kelas baru, tapi asimiliasi dan akulturasi tidak sepenuhnya terjadi karena program transmigrasi dianggap sebagai jawanisasi, menjawakan Irian Barat.

Gerakan separatisme Papua adalah fenomena umum yang terjadi di banyak negara di dunia sampai sekarang. Bahkan di Eropa pun masalah separatisme masih tetap menjadi problem yang belum terpecahkan. Di masa lalu  gerakan separatisme diwujudkan dalam gerakan bersenjata. Tapi, setelah Eropa mengalami kemajuan ekonomi setelah Perang Dunia Kedua gerakan separatisme mengambil bentuk yang beda menjadi gerakan politik untuk memisahkan diri sebagai negara mandiri, atau menjadi wilayah dengan status khusus.

Ketika dunia menjadi global dan seragam karena teknologi informasi, gerakan separatisme bukan menghilang tapi malah menjadi lebih kuat dan bermetamorfosa menjadi gerakan politik yang didasari oleh identitas. Ketika globalisasi sudah mendunia, identitas lokal dan etnis justru semakin kuat. Ketika seluruh dunia disatukan oleh jaringan yang membentuk network society, maka identitas lokal dan kelompok menjadi makin kuat dan militan.

Teknologi informasi melalui internet memungkinkan komunikasi yang semakin mudah dan lancar, informasi membanjir setiap detik, dan semua orang menjadi lebih sadar akan posisinya di dunia global. Jaringan kekerabatan, persaudaraan, dan bahkan persukuan sekarang menjadi lebih kuat karena jaringan internet. Inilah fenomena “The Rise of The Network Society” yang ditengarai oleh Manuel Castells (1996). Seluruh dunia menjadi desa kecil yang bisa dioperasikan dengan ujung jempol melalui gajet android selama 24 jam.

Suporter fanatik Barcelona

Pada saat itulah kesamaan identitas menjadi pengikat yang semakin kuat dan dijadikan sebagai semacam tameng untuk menlindungi diri dari kekuatan global. Kesamaan identitas muncul dari suku, ras, agama, dan bahasa. Kanada yang sudah sangat makmur masih punya problem identitas antara warga yang berbahasa Inggris dengan yang berbahasa Prancis. Inggris yang menjadi negara demokrasi tertua di Eropa sampai sekarang masih terancam oleh separatisme karena perbedaan identitas agama antara Katolik dan Protestan. Konflik identitas di Inggris raya ini tercatat sebagai salah satu yang paling keras dan berdarah dalam sejarah Eropa.

Manuel Castells mengungkap fenomena itu dalam sekuel “The Power if Identity” (1997) yang menelusuri kemunculan politik identitas yang makin kuat di seluruh dunia di tengah kemajuan globalisasi sekarang ini. Salah satu sumber identitas adalah teritorialitas atau kewilayahan. Kita mengidentifikasi diri dengan orang lain karena kesamaan asal usul kota, daerah, atau desa. Kesamaan teritorial menumbuhkan kesamaan identitas.

Bahasa, budaya, dan agama menjadi faktor yang paling penting dalam politik identitas. Di Belgia sampai sekarang masih terjadi ketegangan etnis antara orang-orang Wallonies yang berasal dari Belanda dan  orang Flemish yang berasal dari Prancis. Orang Wallonies yang berbahasa Belanda tidak mau menggunakan bahasa Prancis yang menjadi bahasa orang Flemish. Dalam hubungan kecil sehari-sehari pun orang Wallonies sering tidak mau berbicara bahasa Prancis meskipun ia tahu lawan bicaranya adalah orang Flemish yang tidak paham bahasa Belanda.

Konflik identitas di Spanyol yang paling keras adalah konflik di Katalan atau Catalunya yang sudah berlangsung ratusan tahun dan tetap panas sampai sekarang. Masyarakat Katalan yang beribukota di Barcelona merasa mempunyai identitas tersendiri dan selalu ingin memisahkan diri dari bang Spanyol yang menjadi penguasa negeri. Konflik berdarah masih selalu terjadi. Dan pertandingan sepakbola El Clasico antara Barcelona melawan Real Madrid adalah perang sepakbola paling besar di dunia karena di baliknya ada perang identitas politik.

Papua di Indonesia adalah bagian dari kemunculan politik identitas dunia yang sama dengan fenomena di Eropa dan seluruh penjuru dunia lainnya. Gerakan Papua Merdeka semakin mendapatkan momentumnya karena adanya network society. Pada saat bersamaan, politik identitas juga semakin kuat di Papua karena komunikasi dan aliran informasi yang semakin mudah karena internet.

Keputusan pemerintah Indonesia yang menetapkan gerakan kelompok kriminal bersenjata (KKB) sebagai kelompok teroris mempunyai implikasi geopolitik yang luas. Penetapan status terorisme terhadap KKB akan diikuti dengan tindakan militer. Mungkin tidak dalam skala DOM semasa Orde Baru, tapi trauma terhadap tindak represi itu masih melekat sampai sekarang.

Gerakan KKB tidak bisa  dianggap sebagai gerakan separatis semata. Gerakan ini adalah gerakan identitas, suku, ras, budaya, agama, dan teritorialitas. Karena itu, operasi militer bukan opsi yang efektif untuk menyelesaikannya. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.