MELBOURNE-KEMPALAN: Pakar terorisme dan ekstrimisme di Indonesia sekaligus direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), Sidney Jones, diundang oleh kanal podcast Talking Indonesia untuk mengulas tentang Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan pengeboman Makassar dengan judul Terror and Extremism.
Dalam perbincangan itu, Sydney Jones menyampaikan bahwa JAD tidak lagi memiliki makna, karena organisasi yang dibentuk di Malang itu tidak pernah ada sebagai organisasi setelah gelombang penangkapan yang dilakukan oleh polisi mulai tahun 2017.
“Apa yang kita dapati adalah sekelompok pendukung ISIS di seluruh negeri, beberapa di antaranya pernah menjadi anggota dari kelompok tersebut, dan beberapa belum pernah. JAD digunakan baik sebagai rujukan untuk koalisi khusus ini, tapi juga (menjadi) istilah umum untuk semua yang mendukung Islamic State (ISIS),” tambah Jones.
Sang pakar terorisme itu berkomentar bahwa pelaku pengeboman Makassar memang pendukung ISIS dan mereka menyebut diri mereka JAD, namun hubungan pasti mereka dengan kelompok yang dibentuk oleh Aman Abdurrahman itu tidaklah jelas.
“Apa yang kita lihat di seluruh penjuru negeri adalah kemunculan sel otonom yang tidak berkoordinasi antara satu dengan lainnya dan tidak butuh berkomunikasi satu sama lain … ada banyak sel yang terpisah yang tidak ada hubungan apapun dengan kelompok di Jawa Timur yang aktif dengan sendirinya tanpa merujuk pada struktur lainnya,” tutur Direktur IPAC itu.
Adapun pada tahun 2020 ada dua serangan terhadap kepolisian yang mana pelakunya mengaku sebagai anggota JAD, namun menurut Sydney, tidak ada kaitan yang jelas dengan kelompok yang dibentuk Aman itu.
Ketika ditanya mengenai kenapa pengeboman di Makassar terjadi pada 28 Maret 2021, Jones mengatakan: “Waktunya berhubungan dengan semakin mendekatnya bulan Ramadhan, bulan puasa umat Islam, karena penyerangan di masa Ramadhan dilihat sebagai (serangan yang) lebih suci dan dapat pahala lebih banyak, tapi ada faktor lain yang ada dalam pengemboman Makassar ialah… Lukman (pelaku) adalah pengikut seseorang bernama Rizaldi,” ujar Sidney.
Ia menambahkan bahwa orang bernama Rizaldi ini tewas dalam operasi pemberantasan terorisme pada 6 Januari 2021 dan mempunyai kaitan dengan pelaku pengeboman di Jolo, Filipina.
Berkenaan dengan hubungan Rizaldi dan Lukman, sang pakar itu mengatakan bahwa pengeboman Makassar bisa saja bermotif balas dendam. Semua pengemboman yang terjadi di Gereja Katedral Makassar sama dengan pengeboman di Jolo, Filipina yakni serangan ke Katedral, di tengah massa pada hari Minggu dan dilakukan oleh suami-istri.
Ia menambahkan bahwa kelompok teroris di Indonesia sangatlah tidak profesional dibandingkan lainnya dan serangan mereka cenderung tidak kompeten. Hal ini dikarenakan para teroris itu tidak memiliki pengalaman bertempur dan tidak pernah mendapatkan pelatihan internasional.
“Kita menghadapi generasi sekarang yang sebagian besar tidak terlibat dalam konflik, seperti Poso atau Ambon atau wilayah lainnya yang mana generasi teroris sebelumnya mendapatkan pengalamannya dan tidak ada di antara mereka (yang baru) terlibat di Afghanistan… atau pelatihan di Mindanao,” tambah Jones.
Sang pakar menceritakan bagaimana seorang anggota JAD membeli senjata ke Mindanao pada 2015 dan awal 2016, salah satu kebingungannya adalah meskipun ia dapat membawa semua senjata itu masuk Indonesia, siapa yang akan bisa menggunakannya, karena mereka yang akan terlibat dalam aksi teror ternyata tidak pernah mendapatkan pelatihan mengenai bagaimana menembak dengan senjata api. (Talking Indonesia, reza m hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi