Kamis, 23 April 2026, pukul : 21:34 WIB
Surabaya
--°C

Istana di Surga Bagi yang Mampu Membayar Harganya

KEMPALAN: Pekerjaan hati yang paling tinggi nilainya, adalah perkataan meminta maaf dan memberi maaf. Memang itu bukan perkara mudah. Gampang tapi sulit, apalagi jika emosi yang dikedepankan.

Butuh pengorbanan perasaan untuk tidak disebut nista saat meminta maaf, atau lantaran dendam hati jadi tersakiti, maka ia tak berharap memaafkan.

Karena itu tinggi nilai orang yang bisa melakukan perbuatan mulia, mau meminta maaf dan pihak lain sudi untuk memaafkan. Sekali lagi, butuh pengorbanan.

Pengorbanan itu menyangkut hati, disana berselimut rasa sombong-besar diri untuk mau mengakui kesalahan. Sedang yang lain keras hati tidak sudi mau memaafkan.

Ada kisah menarik, yang diriwayatkan Al-Hakim, dalam sebuah hadits dengan sanad shahih. Kisah tentang dua insan yang berselisih saat di dunia, maka urusannya dibawa menghadap pada Allah, ia mengadukan persoalannya.

Kisah ini diabadikan dengan begitu baiknya, kisah yang mampu menjadi ibrah: semasa hidup selesaikan persoalan-persoalan antar manusia, agar saat maut menjemput tidak ada beban dosa yang dibawa.

Ngabuburit pada Ramadhan hari ke-15, ingin berkisah akan kisah yang membuat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam tertawa hingga gigi-gigi putihnya tampak. Tapi tidak lama kemudian wajah beliau tampak muram bersedih. Gerangan apa yang terjadi?

Istana-istana Para Pemaaf

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam tengah duduk-duduk dengan para sahabatnya. Di tengah-tengah perbincangan santai itu, tiba-tiba Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam tertawa hingga terlihat gigi-gigi putihnya yang rapi.

Melihat kejadian itu, Umar Radhyallahu Anhum bertanya, “Demi engkau, Ayah dan Ibuku sebagai tebusannya, apa yang membuatmu tertawa, wahai Rasulullah?”

“Aku diberi tahu bahwa pada hari penghisaban nanti, ada dua orang yang bersimpuh di hadapan Allah sambil menundukkan kepala. Salah satunya mengadukan ihwalnya kepada Allah, “Ya Rabb, ambilkan kebaikan orang ini untukku, karena dulu di dunia ia pernah berbuat zalim padaku.”

Mendengar aduannya itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Mana mungkin saudaramu bisa melakukan ini, karena tidak ada sedikitpun kebaikan ada pada dirinya?” (Mendengar dialog ini Rasulullah tertawa).

“Kalau begitu, Ya Rabb, biarlah dosa-dosaku dipikul olehnya,” kata si pengadu.

Sampai di sini, mata Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam terlihat berkaca-kaca. Beliau tidak mampu menahan tangis, dan lalu air matanya tumpah.

Beliau, Rasulullah, berkata,  “Hari itu hari yang begitu mencekam, dimana setiap manusia ingin agar dosa-dosanya dipikul orang lain.”

Kemudian, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam melanjutkan kisahnya, Allah meminta kepada orang yang mengadu itu,  “Angkat kepalamu…!”

Orang itu mengangkat kepalanya, dan mengatakan, “Ya Rabb, aku melihat di depanku ada istana-istana megah terbuat dari emas, dan di dalam istana itu singgasananya terbuat dari emas bertahtakan berlian.

Istana-istana untuk para Nabi yang mana, ya Rabb? Untuk orang jujur yang mana, ya Rabb? Sedang untuk para syuhada yang mana, ya Rabb?”

Allah berfirman, “Istana-istana itu disediakan bagi siapa saja yang mampu membayar harganya.”

Orang itu lalu bertanya, “Siapakah orang yang mampu membayar harganya itu, ya Rabb?”

Allah berfirman, “Engkau pun mampu membayar harganya.”

Orang itu terheran-heran, sambil berkata, “Dengan cara apa aku bisa membayarnya, ya Rabb?”

Allah berfirman, “Caranya dengan engkau memaafkan kesalahan saudaramu yang duduk di sebelahmu itu, yang telah engkau adukan kezalimannya kepada-Ku.”

Orang itu berkata, “Ya Rabb, baiklah aku maafkan kesalahannya.”

Allah berfirman, “Kalau begitu, pegang tangan saudaramu itu, dan ajak dia masuk surga bersamamu.”

Setelah menceritakan kisah itu, Rasulullah bersabda:

“Bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaknya kalian saling berdamai, sesungguhnya Allah mendamaikan persoalan yang terjadi di antara kaum muslimin.”

***

Saudaraku, pesan apa yang bisa diambil dari kisah di atas? Ternyata memang benar, bahwa pekerjaan yang paling tinggi nilainya adalah minta maaf dan memberi maaf. Perkara mudah yang tidak mudah.

Jika itu bisa dituntaskan semasa di dunia alangkah nikmatnya. Istana-istana “para pemaaf” yang disediakan di surga itu bisa langsung dihuni. Karena kita pribadi yang telah “mampu membayar” di dunia dengan saling memaafkan.

Wallahu a’lam. (Ady Amar)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.