KEMPALAN: Indonesia memiliki karakteristik ekonomi berbeda dengan komunisme seperti pada pembahasan sebelumnya, sehingga menjadikannya tertolak. Meski menolak komunisme, bukan berarti kemudian menerima kapitalisme.
Indonesia memiliki konsep ekonominya sendiri, ekonomi Pancasila yang mencerminkan ekonomi yang berlandaskan pada nilai Ketuhanan, kemanusiaan, sosial, keadilan, dan ke-Indonesiaan.
Hal tersebut karena memang sIstem ekonomi suatu wilayah itu menyesuaikan latar belakang setempat. Masing-masing wilayah memiliki raison d’être yang khas berdasarkan situasi dan kondisi yang melingkupinya dalam megembangkan sistem ekonominya.
Terbentuknya kapitalisme adalah sebuah keniscayaan sejarah di Barat pada umumnya, karena latar belakang sosial dan intelektualnya memungkinan demikian. Demikian juga dengan komunisme yang dikembangkan oleh Karl Marx (1818-1883) sebagai anti-tesis atas kapitalisme yang menghisap ekonomi kelas proletar, kelas buruh, hasil bentukan ekonomi kapitalisme.
Jika mencermati pada sejarah perkembangan kapitalisme, maka tidak bisa dilepaskan dari sejarah pergeseran paradigma (istilah dari Thomas S. Kuhn, 1922-1996) atau episteme (istilah dari Michel Foucault, 1926-1984) pengetahuan Barat kala itu, jelang akhir abad pertengahan, yang dikenal the dark middle ages. Pergesaran paradigma itu karena ditemukanya kondisi-kondisi anomali dari konteks yang memberi justifikasi atas pengetahuan pada umumnya. Banyak pengamatan para ilmuwan yang menemukan pertentangan fakta alam dengan doktrin Gereja yang menjadi rezim pengetahuan kala itu.
Astronom Nicolaus Copernicus (1473-1543) dan diperkuat oleh Galileo Galilei (1564-1642) menemukan fakta heliosentris yang bertentangan dengan doktrin geosentris dari Gererja. Berbagai temuan fenomena alam juga menjadikan keraguan orang Barat atas dokrin agama.
Sains pun kemudian berkembang sedemikian rupa hingga akhirnya menjadi dominan. Sains pun memunculkan pergeseran pengetahuan baru menuju era modern dan munculnya revolusi industri di Inggris, dan Eropa pada umumnya dengan mengembangkan sekularisme yang memisahkan wilayah dunia (publik) dan agama (privat).
Pada perkembangan sains itu pun di dalamnya mengembangkan salah satunya ilmu ekonomi, economics. Ilmu ekonomi ini cikal bakalnya adalah dari buku Adam Smith An Inquiry Into the Nature and Causes of the Wealth of Nations (1776). Buku ini disebut sebagai cikal bakal kapitalisme awal. Sehingga, Adam Smith dikenal juga sebagai tokoh yang disebut “bapak kapitalisme.”
Buku yang kemudian dikenal sebagai The Wealth of Nation itu mencerminkan ideologi kapitalisme klasik. Beberap ajarannya yang kuat adalah laissez faire dengan invisible hand. Kebijaksanaan laissez faire mencakup perdagangan bebas, keuangan yang kuat, anggaran belanja seimbang, bantuan kemiskinan minimum. Tak ada satu konsepsi baru pun tentang masyarakat yang dapat menandingi peradaban kapitalisme. Beberapa tokoh seangkatan seperti David Ricardo dan John Stuart Mills, yang sering dikenal sebagai tokoh ekonomi neo- klasik. Pada fase inilah kapitalisme sering mendapat hujatan pedas dari kelompok Marx.
Peristiwa besar yang menandai fase kapitalisme berikutnya, kapitalisme lanjut, adalah terjadinya Perang Dunia I. Kapitalisme lanjut sebagai peristiwa penting ini ditandai paling tidak oleh tiga momentum. Momentum yang pertama, pergeseran dominasi modal dari Eropa ke Amerika. Kedua, bangkitnya kesadaran bangsa- bangsa di Asia dan Afrika sebagai akses dari kapitalisme klasik, yang kemudian memanifestasikan kesadaran itu dengan perlawanan. Ketiga, revolusi Bolshevik Rusia yang berhasrat meluluhlantakkan institusi fundamental kapitalisme yang berupa pemilikan secara individu atas penguasaan sarana produksi, struktur kelas sosial, bentuk pemerintahan dan kemapanan agama. Dari sana muncul ideologi tandingan yaitu komunisme.
Penolakan komunisme terhadap kapitalisme bisa jadi ada kesamaan, bisa juga berbeda dengan Islam. Namun, penolakan masyarakat Muslim Idonesia terhadap keduanya pun jelas.
Kapitalisme dan komunisme sebenarnya adalah saudara kandung. Mereka adalah anak dari modernism yang oleh Friedrich Nietzche (1844-1900) digambarkan telah membunuh Tuhan. Ekonomi yang dikembangkan pun mendasarkan diri pada rasionalitas semata. Berkat kolonialisme, kemudian ekonomi kapitalisme menyebar ke seluruh dunia dan berusaha untuk mendominasi dimana pun dia dikenalkan. Bahkan hingga kini jika berbicara ekonomi maka secara otomatis adalah ekonomi yang dikembangkan kapitalisme, mengingat sinyal komunisme sendiri telah redup dari peredaran peradaban.
Beberapa poin yang kemudian menjadi penolakan Islam atas kapitalisme.
Pertama, subject centered atau manusia sebagai pusat. Dari sini kemudian memunculkan self interest, kepentingan pribadi dan mengabaikan sosial. Bahwa segala sesuatu tindakan manusia adalah untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Karenanya kemudian Rasionalitas menjadi ukuran pembenar dalam pemenuhan kebutuhan tersebut. Kebutuhan ini pun terbatasi pada hal-hal yang bersifat material.
Berbeda dengan Islam yang God centered atau Allah sebagai pusat, bahwa segala sesuat tindakan manusia adalah diorientasikan untuk meraih ridhaNya. Dan bahwa rasionalitas digunakan sesuai koridor yang ditetapkan dalam syariah. Juga rizki yang diraih oleh pribadi adalah milik pribadi, namun ada sebagian dalam harta itu milik orang lain yang harus dikeluarkan dalam bentuk sedekah.
Kedua, permasalahan ekonomi. Permasalahan ekonomi dalam kapitalisme adalah kelangkaan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan manusia yang tak terbatas. Ini berbeda dengan Islam yang mengajarkan bahwa sumber daya ini tak terbatas sedangkan kebutuhan manusia itu terbatas.
Alam semesta diciptakan Allah SWT adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dan masih begitu banyak sumber daya yang belum tergali dan tereksplorasi. Dan yang menjadi permasalahan ekonomi bagi Islam adalah bersyukur. Ketidakbersyukuran ini mengakibatkan tidak maksimalnya pemanfaatan sumber daya yang ada.
Ketiga, Kapitalisme tidak mengenal sisi keadilan ekonomi. Sehingga segala tindakannya adalah untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan mengabaikan prinsip-prinsip keadilan. Berbeda dengan Islam yang memerintahkan untuk berlaku adil. Bahwa berlaku adil akan mendekatkan diri pada ketakwaan (QS AlMaidah:8).
Ketidak adailan itu juga terindikasi dari prinisp ekonominya bahwa untuk ekonomi adalah untuk keuntungan sebanyak mungkin dengan pengeluaran sesedikit mungkin. Bagaimana mungkin kemudian ini terjadi jika tidak dengan eksploitasi maupun menipulasi. Sedangkan Islam mengajarkan keadilan bahwa seseorang meraih sesuai dengan apa yang diusahakannya (QS An Najm: 39).

Impilikasi dari ketiga prinsip dasar itu adalah orang menjadi kapitalis, yakni penumpuk modal secara akumulatif. Kapitalis tidak pernah puas dengan dengan apa yang telah diraih. Misalnya, kalau pertama modal yang dipunyai adalah Rp.1 juta maka si kapitalis akan berusaha agar bisa melipat gandakan kekayaannya menjadi Rp.2 juta dan seterusnya. Lebih jauh, untuk terus menumpuk yang kemudian dilakukan adalah mengeksploitasi.
Eksploitasi Ini berarti pengerukan secara besar-besaran dan habis- habisan terhadap sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia, seperti yang terjadi pada jaman penjajahan, bahkan sampai sekarang meskipun dalam bentuk yang tidak sama. Kaum kapitalis akan terus melakukan perampokan besar- besaran terhadap kekayaan alam kita and terus mengeksploitasi para buruh demi kepentingan dan keuntungan pribadi.
Eksploitasi tersebut termasuk didalamnya ekspansi. Ekspansi Ini berarti pelebaran sayap atau perluasan wilayah pasar, seperti yang pada kapitalisme fase awal. Eekspansi ini juga untuk semakin menambah capital. Yaitu dari perdagangan sandang diperluas pada usaha perkapalan, pergudangan, barang- barang mentah dan selanjutnya barang- barang jadi.
Dan yang terjadi sekarang adalah kaum kolonialis melakukan ekspansi ke seluruh penjuru dunia melalui modal dan pendirian pabrik – pabrik besar yang nota bene adalah pabrik lisensi. Yang semakin dimuluskan dengan jalan globalisasi. Di Indonesia kapitalisem itu dikembangan oleh peusahaan dagang Belanda VOC.
Kaum kapitalis selalu menggunakan segala cara agar kekayaan mereka berkembang dan bertambah. Sedangkan Islam mengajarkan prinsip qona’ah, Qanaah merupakan sikap yang merasa cukup atas segala nikmat yang telah diberikan dan selalu ridho atas hasil yang telah didapatkan.
Dan saat ini rezim ekonomi di Indonesia memang tidak didominasi oleh komunisme, tapi oleh model ekonomi kapitalisme. Kita tahu dari materi pelajaran ekonomi yang diajarkan di sekolah-sekolah menengah dan atas masih menggunakan ekonomi konvensional: Kapitalisme. Ekonomi yang tidak mendasarkan diri pada Pancasila: Ketuhanan, kemanusiaan, sosial, keadilan, dan Keindonesiaan.
(Dr. Kumara Adji Kusuma adalah dosen Ekonomi Islam pada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi