Minggu, 24 Mei 2026, pukul : 14:22 WIB
Surabaya
--°C

Perempuan dan Pemulihan Sosial Ekonomi

KEMPALAN: Women are one half of the society and give birth to the other half

~ Ibn Qayyim al-Jawziyya

 Memanfaatkan momen Ramadan dan peringatan Hari Kartini, “Srikandi Ekonomi Syariah Bersinergi Mendukung Pemulihan Ekonomi” menjadi tajuk seminar nasional Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (DPP IAEI) berkolaborasi dengan Bank Indonesia (BI), Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), dan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) tepat pada 21 April.

Kegiatan yang juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Road to Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2021 ini menghadirkan Menteri Keuangan Republik Indonesia yang juga menjadi Ketua Umum DPP IAEI, Gubernur Bank Indonesia, dan sejumlah perempuan pelaku bisnis syariah.

Pilihan tema ini tepat. Pandemi tidak hanya menambah beban ganda perempuan. Pandemi nyatanya juga meningkatkan bahaya dan risiko bagi perempuan dan anak perempuan di rumah dan di masyarakat. Momen Ramadan dan Hari Kartini menjadi waktu yang baik untuk perempuan mendukung perempuan.

Dampak Pandemi bagi Perempuan

The United Nations Entity for Gender Equality and the Empowerment of Women (UN Women) melaporkan pandemi Covid-19 mengurangi pendapatan perempuan dari usaha keluarga hingga 82 persen dan laki-laki sebesar 80 persen.

Pandemi mempengaruhi kesehatan mental dan emosional perempuan secara tidak proporsional. Sebanyak 57 persen perempuan mengalami peningkatan stres dan kecemasan. Sedangkan laki-laki sebesar 48 persen.

Kebijakan untuk belajar dan bekerja dari rumah juga turut berdampak bagi perempuan.

Sekitar 19 persen perempuan mengalami peningkatan intensitas pekerjaan rumah tangga, kerja perawatan, dan pengasuhan tak berbayar. Sedangkan laki-laki sebesar 11 persen.

Dampak penutupan sekolah telah mengalihkan tanggung jawab pendidikan anak kepada orang tua. Sebanyak 39 persen perempuan dan 29 persen laki-laki menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengajar anak di rumah.

Selanjutnya, 36 persen perempuan pekerja informal mengalami kerentanan terhadap guncangan di pasar tenaga kerja karena harus mengurangi waktu kerja berbayar mereka dan laki-laki sebesar 30 persen.

Selama pandemi, kekerasan terhadap perempuan juga meningkat.

Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) menyebut himpitan ekonomi dan beban mental yang berat membuat perempuan menjadi sasaran kekerasan.

Sepanjang 29 Februari-27 November 2020, Simfoni PPA melaporkan kekerasan terhadap perempuan mencapai 4.477 kasus dengan 4.520 korban. Mayoritas korban kekerasan terhadap perempuan atau 59,8 persen adalah korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Berlanjut hingga 31 Desember 2020, kekerasan terhadap perempuan kembali meningkat  menjadi 5.551 kasus. Ketidakpastian ekonomi, kehilangan pekerjaan, kondisi tempat tinggal yang terlalu padat hingga beban rumah tangga lebih tinggi menjadi determinannya.

BACA JUGA  Gubernur Khofifah Lepas 3.600 Lulusan SMK dan LKP Kerja di Luar Negeri

Perempuan dan Pemulihan Sosial Ekonomi

Meski pandemi membawa sejumlah kisah yang memperpuruk perempuan, namun pandemi juga menjadi pembuktian bahwa perempuan menjadi aktor penting dalam penanganan Covid-19 maupun dalam pemulihan sosial ekonomi.

Dalam kegiatan isolasi mandiri, perempuan ikut terlibat dalam penentuan bantuan paket yang tidak hanya memenuhi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak dan bayi. Pengadaan konsumsi bergizi dan tempat tinggal yang bersih, perempuan menjadi garda terdepan.

Dalam menjaga ketahanan pangan keluarga dan lingkungan, perempuan menjadi pelopornya. Tidak sekedar mencari bahan pangan substitusi untuk keluarga, tetapi juga ikut mengupayakan diversifikasi pangan bagi sekitarnya, mendorong penggunaan bahan pangan lokal, dan menginisiasi pemanfaatan pekarangan untuk budidaya dan bercocok tanam.

Eksistensi perempuan dengan pekerjaan yang tidak dibayar tidak kalah besar dengan perempuan yang menjadi pekerja formal dalam berkontribusi. Seruan Perhimpunan Bangsa-Bangsa (PBB) kepada pemerintah dan dunia usaha untuk mengakui peran perempuan dalam pekerjaan yang tidak dibayar sepatutnya mendapat perhatian.

Sejatinya kehadiran perempuan dengan pekerjaan yang tidak dibayar ini adalah jaring pengaman sosial ekonomi masyarakat yang memungkinkan orang lain untuk bekerja formal, berkegiatan produktif, dan memiliki penghasilan.

Selama pandemi, PBB mengungkap sebagian besar negara di dunia gagal melindungi perempuan dan anak perempuan dari kekerasan, gagal mengamankan ekonomi perempuan, dan gagal mendukung para pekerja perempuan yang tidak dibayar.

Jelas, tanpa harus ada dikotomi, perempuan adalah aset bangsa dan perempuan berdaya adalah kekuatan bangsa.

Dengan jumlahnya yang nyaris 50 persen dari total penduduk Indonesia, maka kekuatan perempuan adalah hampir setengah dari kekuatan sumber daya insani negeri ini yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Demikian pula dengan para perempuan di seluruh dunia. Dengan berbagai kerentanan yang dihadapinya, perempuan adalah mata air peradaban.

Tepat kiranya yang disampaikan para pengulas terpilih dalam sebuah artikel berjudul ’Women-sufficiency’ may be the Funnel Performance Metrics Contributor in the Coming Cycle of Economy and Demography yang dipublikasi Academia Letters.

Isaac Owusu Nsiah dari University of Ghana, Accra, Legon, menyebutkan “…It reflects thoroughly a bit of structuration and post structuralist (feminist theory) in projecting women’s relevance and agency in development discourse…”.

Omona David dari Uganda Christian University menyebutkan, “…women can contribute in social progress of people. Indeed, if women are given the platform to contribute to economic development, the impact of their effort will push humanity to another level…”.

Pradeep Gupta dari Gautam Buddha University menyebutkan singkat, “…logical presentation of contemporary issues…”

C. A. Saliya dari Fiji National University menyebutkan, “Empirical studies show that there is lack of female presence on corporate boards in public companies, although some companies have a single female director (known as a ‘pink unicorn’) who, like a unicorn, might look nice but who is, in fact, only a fiction…”.

Paulo Tiago Cabeça dari Universidade de Évora menyebutkan, “….The reality is that the case of evolutionary success of the human being has always gone through the collaboration female-male, whether the tasks of hunting, protection, care of descendants, separated between sexes or not…”.

Dan saya menyebutkan dalam ulasan terpublikasi tersebut, “……evidence that women are also agents of change and agents of civilization. Including at this time when the crisis was happening due to a pandemic… women should be involved in various recovery decisions and actions. Not to help men, but to become equal partners with men to be at the forefront, not only in the household but also in the public sphere.”

Dalam WOMANi Colloquy on International Women’s Day 2021 yang dihadiri oleh penggiat ekonomi, bisnis, dan keuangan syariah dari berbagai negara dengan berbagai latar belakang profesi pada Maret lalu, Yasmina Francke, Chief Executive Officer (CEO) of the South African National Zakah Fund (SANZAF), menyampaikan, “We should never apologize for being women because we bring a different perspective, not just to the boardroom, but to all spheres of life…. continue learning and engaging with each other to ensure we move forward and not backward!”.

Dan saya ikut menyampaikan dalam forum tersebut, “Women are a home to the whole family. Women must also provide benefits to others, including helping other women to improve the lives of women who suffer from abuse, poverty, and lack of opportunity.”

Wallahua’lam bish showab.

(Dr. Khairunnisa Musari, Dosen Tetap Prodi Ekonomi Syariah Pascasarjana UIN KH Ahmad Shiddiq (KHAS)/IAIN Jember; Wakil Koordinator Indonesia Bagian Tengah DPP IAEI; Lead Independent Associate Ambassador of Ventureethica)

BACA JUGA  Komando Perang Atau Pidato Ketakutan

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.