Minggu, 10 Mei 2026, pukul : 09:35 WIB
Surabaya
--°C

Larangan Mudik dan Ancaman Tsunami India

KEMPALAN: Indonesia dan India banyak kemiripan. Budaya India banyak diadopsi di Indonesia sejak berabad-abad yang silam. Agama Hindu yang berasal dari India membawa pengaruh besar terhadap budaya Indonesia. Kisah-kisah Mahabrata dan Ramayana yang asli India diadopsi di Indonesia menjadi versi pewayangan yang sangat memengaruhi filsafat hidup manusia Indonesia.

India dan Indonesia sama-sama masuk ke empat besar negara dengan jumlah penduduk besar di dunia. China ada di urutan teratas dengan 1,4 miliar penduduk. Disusul India menjadi runner up dengan 1,3 miliar kepala, kemudian Amerika Serikat di posisi ketiga dengan 330 juta jiwa, dan Indonesia di ranking keempat dengan 270 juta kepala.

Demografi penduduk dua negara itu juga sama saja. Banyak orang miskin dan sangat miskin, tapi dari satu persen orang kaya di dua negara itu ada para super crazy rich yang tajirnya minta ampun.

Dalam soal kasus pandemi Covid 19, Indonesia banyak kesamaan dengan India karena berbagai kesamaan budaya itu. India termasuk tiga besar negara dengan jumlah kasus dan korban di dunia bersama Amerika dan Brazil. Indonesia–sementara ini–tidak masuk dalam empat besar terburuk, tapi potensi ke arah sana sangat terbuka. Dalam hal penanganan pandemi, Indonesia dimasukkan dalam kategori sebagai penganut mazhab “anti-scientism”, tidak percaya kepada pendekatan ilmu pengetahuan, bersama-sama dengan India, Brazil, dan Amerika Serikat di bawah Donald Trump.

Peneliti Australia, Marcus Mietzner (2019), menggolongkan kepemimpinan Indonesia dan tiga negara itu sebagai kepemimpinan populis yang lebih cenderung memprioritaskan pendekatan ekonomi daripada kesehatan dalam mengatasi pandemi.

Perkembangan terbaru menghadapi mudik lebaran di Indonesia menunjukkan bahwa anti-scientism itu masih ada.

Mudik lebaran dilarang tapi tempat wisata dibuka. Kepala dilepas tapi ekor digandoli. Begitu kata orang Jawa untuk mengggambarkan keputusan yang mendua dan tidak tuntas.
Mudik lebaran dilarang karena dikhawatirkan akan membawa gelombang migrasi virus dari kota ke desa. Karena itu akses perjalanan dari kota besar ke daerah ditutup total selama sepuluh hari 6-17 Mei. Tidak ada moda transportasi yang boleh meninggalkan kota besar, baik darat, laut, maupun udara. Semua diawasi dengan superketat. Semut pun tidak bisa lewat, akan ditutup total, karena Semut adalah stasiun kereta api di Surabaya yang biasanya menjadi pintu gerbang keluar masuk kota.

Jokowi dan PM India Narendra Modi. -ist-

Pengalaman menunjukkan bahwa setiap kali ada libur panjang dan terjadi kerumunan di berbagai tempat maka dua minggu kemudian akan panen pasien baru. Salah satu penyebab utamanya adalah kerumunan di tempat wisata. Karena itu, selain melarang mudik, tempat wisata juga harus ditutup kalau mau serius menghindari ledakan penularan baru.

Indonesia harus belajar dari India yang hari ini tengah menghadapi krisis besar karena diterjang gelombang tsunami besar. Bukan tsunami air bah akibat gempa bumi yang meluapkan air laut, tapi tsunami Covid 19.
Kasus virus Corona COVID-19 di India mengalami ledakan beberapa waktu belakangan. Bukan cuma kasus positif, negara ini juga melaporkan rekor kasus kematian harian.

India melaporkan adanya 256.947 kasus baru harian dan 1.757. Jumlah ini menambah banyaknya kasus positif COVID-19 di India, dengan total keseluruhan mencapai 15.321.089. Saat ini, terdapat 2.031.957 kasus aktif, dengan 13.108.581 orang sudah sembuh dan 180.550 orang meninggal.

Dengan perkembangan ini India diperkirakan akan menjadi hotspot titik panas penyebaran pandemi yang tidak terkendali dan bisa menyebabkan krisis nasional yang bisa membawa pengaruh berantai terhadap ekonomi dunia.

India baru saja mengklaim akan mencapai herd immunity, kekebalan kelompok, dalam waktu dekat. Tapi ternyata harapan itu kolaps karena kesalahan sendiri.

Sama dengan Indonesia, faktor budaya dan even agama menjadi pemicu krisis.
Di India, kurang disiplinnya penerapan protokol kesehatan disebut menjadi penyebab meningkatnya kasus COVID-19. Masyarakat abai dalam penerapan prokes, tidak memakai masker, tidak menetapkan jarak sosial, dan kurangnya disiplin di tempat kerja dan ruang publik terutama di pedesaan. Hal yang sama terjadi di Indonesia. Di perkotaan penerapan prokes cukup ketat, tapi di wilayah pinggiran dan pedesaan penerapan prokes tidak maksimal karena pengawasan dan disiplin yang longgar.

Di India, hotspot terjadi paling banyak di daerah kumuh yang padat. Di tempat seperti ini banyak penduduk setempat yang tidak memiliki toilet di tempat tinggalnya, sehingga penularan terjadi di tempat-tempat toilet umum yang kotor dan tidak terawat. Sanitasi yang buruk ini memberi kontribusi besar dalam ledakan penularan. Indonesia relatif lebih baik dibanding India dalam fasilitas sanitasi, tetapi di daerah pedesaan masih banyak fasilitas sanitasi yang memprihatinkan.

Faktor paling mengerikan dari ledakan ini adalah terjadinya mutasi virus yang lebih ganas.
Peningkatan kasus harian yang tinggi mencerminkan infeksi menyebar pada tingkat yang jauh lebih cepat dibandingkan dengan pemulihan. Di India varian baru yang disebut dengan mutasi ganda diduga menjadi pemicu gelombang baru infeksi di beberapa wilayah negara bagian. Ancaman yang sama terjadi di Indonesia. Varian virus baru yang lebih ganas dilaporkan telah muncul di beberapa wilayah.

Korban Covid-19 di India. -ist-

Faktor penting yang harus diwaspadai oleh Indonesia adalah faktor even keagamaan seperti Lebaran tahun ini. Di India even keagamaan menjadi salah satu faktor penyebab tsunami pandemi. Lebih dari 1.000 orang dinyatakan positif Corona setelah perayaan ritual mandi di sungai atau Kumbh Mela yang dilaksanakan selama beberapa hari, pekan lalu.

Kebanyakan peserta yang melakukan ritual ini tidak menerapkan protokol kesehatan saat mandi di Sungai Gangga, India. Dari sekitar 50 ribu sampel yang diambil, 408 dinyatakan positif Senin (19/4) dan 594 pada Selasa (20/4). Jumlahnya terus bertambah setiap hari dan menunjukkan gejala yang tidak terkendali.

Indonesia harus benar-benar waspada. Pembukaan tempat wisata selama libur Lebaran berpotensi menjadi pusat penularan, terutama di wahana wisata air yang sekarang paling populer di berbagai wilayah di Indonesia. Tempat wisata wahana air yang longgar prokes berpotensi menjadi sumber penularan seperti pada ritual mandi bareng di Sungai Gangga.

Penyebab lainnya adalah positivity rate yang sangat tinggi. Dari mereka yang menjalani tes, lebih banyak orang ditemukan positif sekarang dibandingkan dengan waktu sebelum epidemi. Dalam satu minggu terakhir, misalnya, lebih dari 13,5 persen tes menghasilkan tes yang positif. Rata-rata pergerakan tujuh hari dari tingkat kepositifan tidak pernah lebih tinggi.

Angka positivitas merupakan tolak ukur penyebaran penyakit di masyarakat. Penyakit yang lebih luas akan menyebabkan tingkat kepositifan yang lebih tinggi dalam tes. Tingkat positif selama gelombang pertama mencapai puncaknya pada minggu terakhir bulan Juli tahun lalu, dan terus menurun bahkan saat kasus positif terus meningkat di bulan Agustus dan September.

Selain faktor-faktor teknis itu faktor kepemimpinan politik Perdana Menteri Narendra Modi juga kontribusi besar dalam kasus ini. Modi dianggap setengah hati dalam menerapkan aturan. Di tengah kondisi darurat seperti sekarang ia masih tetap menolak menerapkan lockdown karena alasan ekonomi. India berada pada posisi darurat akibat kepemimpinan Modi.

Di Indonesia kebijakan yang maju mundur bisa menjadi ancaman pemulihan. Jangan sampai kebijakan poco-poco ini menjadi penyebab munculnya tsunami pandemi ala India. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.