Senin, 27 April 2026, pukul : 11:26 WIB
Surabaya
--°C

Puasa Ramadhan dan Monster Leviathan

KEMPALAN: Pepatah lama mengatakan, mulutmu harimaumu. Pepatah milineal mengatakan medsosmu harimaumu. Komen dan unggahan di medsos bisa menerkam siapa saja, tapi bisa juga menerkam diri sendiri. Harimau yang lapar dan telat diberi makan bisa menerkam pawangnya sendiri.
Budayawan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun mengingatkan jangan meludahi wajah orang lain, karena wajah itu lambang muru’ah, kehormatan. Wajah adalah etalase, representasi manusia yang menjadi mahluk terbaik ciptaan Tuhan yang diangkat sebagai the great ambassador, khalifatullah fil ardhi, wakil Tuhan di bumi.

Orang Jawa, terutama Jawa Timur, menyebut wajah sebagai “dapur”. Dengan intonasi yang khusus penyebutan dapur bisa berkonotasi negatif. Entah apa hubungan etimologis antara dapur tempat memasak dengan dapur wajah. Menurut Cak Nun, dapur itu tempat memasak kebaikan yang tidak perlu dipamer-pamerkan di dapur wajah. Begitu juga kalau ada keburukan, sebaiknya disimpan di dapur belakang dan tidak perlu diudal-udal, dipamerkan, di dapur umum.

Dahnil Anzar bersama Prabowo dan Sandi pada Pilpres 2019.

Ini mungkin sejenis dramaturgi ala Cak Nun. Orang sering bersandiwara pamer kebaikan di dapur umun, padahal sebenarnya di dapur belakang orang itu memasak makanan busuk dan basi.

Ada nama Dahnil Anzar Simanjuntak yang hari-hari ini ramai di medsos gegara melepas harimau di medsos. Mungkin Dahnil keceplosan omong, atau mungkin dia lagi suntuk ikut-ikutan memikirkan resafel kabinet, sehingga di bulan Ramadhan ini dia lepas kontrol menyebut Habib Rizieq Shihab (HRS) sebagai bukan siapa-siapa.

Awalnya Dahnil mengunggah ucapan “Dirgahayu Kopassus. Berani, Benar, Berhasil”. Maklum, Dahnil sekarang menjadi orang kepercayaan Prabowo Subianto, yang pernah menjadi danjen Kopassus. Ketika netizen iseng mempertanyakan keterlibatan tentara dalam menurunkan spanduk Habib Rizieq beberapa waktu yang lalu, Dahnil langsung panas. “Dia siapa? Bukan siapa-siapa bagi saya, justru saya yang bantu dan bela imam-mu dulu, tapi sebaliknya dia tak pernah berkontribusi untuk membantu saya,” begitu sergah Dahnil.

Habib Rizieq seperti menjadi public enemy number one bagi rezim Jokowi. Semua anggota rezim seperti berebut mendiskreditkan dia. Atau bagi yang pernah dekat atau berhubungan dengan Habib, sekarang pura-pura tidak kenal atau menjauh untuk menghindar.

Semua masih ingat, pada pilpres 2019 HRS mendukung Prabowo-Sandi. Dekat sekali hubungan dua orang itu. Prabowo hadir di beberapa acara besar yang dibuat oleh HRS. Tapi setelah pilpres dua orang itu putus kongsi karena Prabowo dapat pewe, “posisi wenak” di kabinet dan Habib memilih tetap menjalankan dakwah amar makruf nahi munkar. Hal ini membuat posisi keduanya berseberangan atau malah berhadap-hadapan.

Ketika HRS menghadapi masalah hukum karena tuduhan prokes banyak netizen yang menanyakan respons Prabowo, banyak yang mengharapkan Prabowo setidaknya membisiki Jokowi supaya ada perlakuan yang tidak tebang pilih terhadap semua pelanggar prokes.

Tidak ada reaksi maupu  respons dari pihak Prabowo atas kasus ini. Hampir setengah tahun kasus bergulir tidak sepatah huruf keluar dari bibir Prabowo maupun dari Dahnil Anzar sebagai penyambung lidah Prabowo. Baru sekarang inilah keluar komen dari Dahnil dan baru terungkap bahwa HRS bukan siapa-siapa dan punya arti apa-apa bagi Dahnil.

Tentu pernyataan ini tidak bisa disebut sebagai pernyataan yang mewakili kubu Prabowo meskipun Dahnil adalah jurubicara resmi. Toh unggahan itu sudah langsung dihapus, meskipun jejak digitalnya sudah kadung menyebar dan viral.

Meski begitu setidaknya keceplosan komen Dahnil bisa menjadi indikasi sikap kubu Prabowo terhadap HRS.
Pernyataan Dahnil adalah slap on the own face, memercik air di dulang, yang membuka masker yang selama ini menutupi dapur muka.
Bagi HRS pernyataan itu bisa disebut sebagai meludahi muka, seperti yang digambarkan Cak Nun. Posisi Habib yang sedang sulit tidak malah ditolong tapi makin dinistakan dengan meludahi mukanya.

Pernyataan Dahnil  mencerminkan realitas politik, bahwa tidak ada pertemanan yang abadi dalam politik, hanya kepentingan abadi yang ada dalam politik.
Politik yang memburu kepentingan membuat manusia menjadi serigala satu sama lainnya. Bukan hanya meludahi muka, bahkan menerkam untuk saling memakan.

Thomas Hobbes menggambarkan politik kekerasan melalui contoh binatang monster Leviathan (1651). Binatang purba itu mengarungi samudera raya dengan perkasa, tanpa menghiraukan siapapun. Kekuasaannya mutlak. “Siapa yang diserahi kekuasaan tertinggi, tidak terikat pada hukum negara–karena itu akan berarti bahwa ia berkewajiban terhadap dirinya sendiri–dan tidak memiliki kewajiban terhadap seorang warga negara.

Leviathan juga menolak segala pembagian kekuasaan negara. Semua diringkus menjadi satu untuk dirinya sendiri. Kekuasan Leviathan mutlak dan berkehendak terhadap dirinya sendiri. Tidak ada faktor agama atau kehendak Tuhan, karena nasib manusia sepenuhnya tergantung pada  kekuasaan manusia. Hobbes menyebut manusia sebagai mahluk  jejadian, mahluk buatan, yang  juga disebut sebagai Deus mortalis, “Tuhan yang bisa mati”.

Negara itu manusia buatan karena hasil rekayasa manusia itu mirip dengan manusia:negara mempunyai kehidupan dan kehendak sendiri.  Ia memang bisa mati, artinya bubar. Tetapi selama ia ada, ia  menjadi tuan atas hidup dan matinya sendiri. Negara berwenang untuk menetapkan apa yang baik dan apa yang buruk, apa yang adil namanya dan apa yang tidak, dan terhadap siapapun negara tidak perlu memberikan pertanggung jawaban.

Ilustrasi Leviathan.

Menurut Hobbes, manusia tidaklah bersifat sosial. Manusia hanya memiliki satu kecenderungan dalam dirinya, yaitu keinginan mempertahankan diri. Karena kecenderungan itulah manusia bersikap memusuhi dan mencurigai setiap manusia lain: homo homini lupus!  manusia menjadi serigala bagi sesamanya. Pada akhirnya kondisi ini mendorong terjadinya “perang semua melawan semua” (bellum omnium contra omnes).

Pandangan suram ini lepas dari moralitas agama. Karena itu politik disebut sebagai permainan kotor, menghalalkan cara untuk mencapai kepentingan pribadi. The end justifies the mean, cara apa pun bisa dijustifikasi untuk mencapai tujuan. Itulah pandangan materialistis dari Marx yang tidak percaya kepada Tuhan dan agama yang dianggapnya sebagai candu yang memabukkan.

Agama adalah sumber nilai dan moralitas dalam politik. Tapi bagi komunisme ala Marx agama dianggap candu yang membuat orang melempem kehilangan semangat revolusioner.
Komunisme menghasut manusia untuk merebut kekuasaan dengan  cara apa saja. Jangankan cuma meludahi wajah, membunuh dan melakukan kanibalisme pun dihalalkan. Pragmatisme menjadi hal yang lumrah dan idealisme menjadi hal yang dijauhi.

Agama mengajarkan politik nilai, menghargai manusia sebagai makhluk utama ciptaan Tuhan dan sekaligus wakil Tuhan di bumi. Pragmatisme mengajarkan nilai politik. Semua dihitung dengan kekuasaan dan uang, NPWP, nomer piro wani piro.

Puasa Ramadhan sekarang ini adalah kesempatan terbaik untuk berkontemplasi mengenai politik nilai dengan cara  menghormati kemanusiaan dan menjaga tangan dan lidah agar tidak menyakiti orang lain, apalagi mempermalukan dengan meludahi wajah orang lain. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.