KEMPALAN: PETANI tanaman hias Begonia sangat optimis mampu menembus pasar ekspor. Sebab, kualitas Begonia yang dibudidayakan mereka –khususnya jenis Rex– diyakini lebih unggul dibandingkan Rex dari negara lain.
“Warna daun Begonia Rex di Indonesia lebih cetar. Pertumbuhan daunnya juga sangat baik,” komentar Martalina Br Ginting, pemilik Kebun Begonia Moms Rafael di Desa Dolat Rayat- Tongkoh, Kecamatan Dolat Raya, Kabupaten Karo (Sumatera Utara).
Hal yang sama diungkapkan oleh Shelly S Ginting, pembudidaya yang tinggal di Raya Brastasi, Karo. “Kami melakukan budidayanya dengan cara yang sudah tepat. Jadi, Begonia yang keluar dari kebun kami memang sangat layak dikirim ke luar negeri,” tuturnya.
Alibin Sarman Saragih, pembudidaya Begonia yang masih bertetangga dengan Martalina, pernah mendapat kontak calon pembeli dari Filipina dan Malaysia. “Dua bulan yang lalu saya mendapat kontak via internet agar mengirimkan Begonia ke Malaysia dan Filipina. Tetapi, pada akhirnya saya tolak tawaran tersebut, karena saya tidak paham birokrasinya,” kata Alibin.
Shelly dan Martalina menyoroti standar kualitas pengemasan Begonianya. “Selama ini kami melakukan pengemasan sesuai feeling kami saja, plus pengalaman dari melayani orderan dari luar Karo,” jelas Martalina.
Shelly setali tiga uang dengan Martalina. “Kami tak punya standar, bagaimana mengemas Begonia agar tetap dalam kondisi baik, meskipun menempuh perjalanan hingga 5-7 hari, misalnya,” ungkap Shelly.
Karena itulah Shelly dan Martalina merasa perlu memiliki pengetahuan tentang pengemasan yang benar. “Andaikan pemerintah melakukan pembinaan terhadap kami soal ini, tentu kami menyambutkan dengan senang hati. Sebab, masalah tersebut menjadi problem utama kami dalam mengembangkan pasar,” ucap Shelly.
Jika sudah memiliki keterampilan mengemas sesuai standar yang baku, maka mereka merasa lebih optimis bakal mampu mengembangkan bisnisnya.
Jika kualitas pengemasan sudah tak menjadi problem khusus lagi, sambung Martalina, maka mereka berharap mendapatkan pembinaan terkait prosedur ekspor.
Kalau Shelly optimis mampu menjual 500 batang Begonia per bulan ke pasar luar negeri, Martalina bersikap lebih optimis lagi. “Kaminsanggup menyediakan 1.000 batang Begonia untuk melayani pembeli asing,” katanya.
Namun, sambung Martalina dan Shelly, mereka lebih dulu harus paham pengemasan berkelas internasional, dan sudah melengkapi dokumen resmi tentang tata-niaga ekspor tanaman hias.
“Untuk sementara waktu kami menunggu uluran tangan pihak yang berwenang saja,” kata Shelly.
Setiap bulan Shelly, Martalina dan Alibin rata-rata menjual Begonia dari puluhan varian yang dibudidayakan di kebunnya, hingga 300 batang.

Perhatian Ekstra
Keluhan Shelly dan Martalina tersebut mendapat tanggapan dari jurnalis senior Moch Taufiq yang memimpin komunitas BEGONIA CLUB. Dia berpendapat, standarisasi pengemasan mutlak dimiliki oleh pembudidaya tanaman hias.
Dengan demikian Martalina dan kawan-kawannya perlu mendapat perhatian ekstra dari pemerintah, khususnya Pemerintah Kabupaten Karo. “Bupati Karo seyogyanya jeli melihat potensi tersebut dengan menggandeng beberapa pihak yang mampu meningkatkan perekonomian asli Karo,” usulnya, serius.
Kalau pun untuk sementara waktu belum mencapai tahap ekspor, lanjut Taufiq, namun geliat petani Begonia di Karo bisa lebih ditingkatkan dengan menggelar pelatihan khusus pengemasan berstandar internasional.
“Sehingga ketika petaninya sudah terbiasa melayani pesanan dalam negeri dengan cara pengepakan yang berstandar khusus, tentu akan lebih mudah untuk mengoptimalkan kesempatan ekspornya,” ungkap mantan jurnalis senior di Grup Jawa Pos ini. (moch taufiq)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi