Sabtu, 16 Mei 2026, pukul : 10:31 WIB
Surabaya
--°C

Lia Eden Ketemu Malaikat Jibril

KEMPALAN: Suatu pagi di akhir 1990-an beberapa pria berpakaian serba putih berdiri di depan pintu kedatangan bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta. Mereka mengamati dengan cermat setiap penumpang yang keluar dari pintu bandara.

Banyak orang berjejer di depan pintu keluar untuk menjemput keluarga sanak saudara atau menjemput tamu yang belum dikenal. Biasanya para penjemput membawa poster kecil seperti mahasiswa demo bertuliskan “Welcome Mr X atau Mr Z”. Untuk lebih meyakinkan lagi, penjemput memasang foto sang tamu di posternya. Dengan melihat poster itu sang tamu bisa mengenali  penjemput dan keduanya bisa segera meninggalkan bandara menuju tempat tujuan.

Para penjemput tentu sudah diberi tahu pesawat apa yang akan dipakai sang tamu, nomor penerbangan berapa, dan ETD (estimation time of departure) perkiraaan berangkat jam berapa, serta ETA (estimation time of arrival) perkiraan mendarat jam berapa. Dengan begitu penjemput tidak perlu menunggu berjam-jam. Kalau ada keterlambatan pesawat pasti ada pemberitaan dari pihak bandara.

Tapi, para penjemput berpakaian serba putih ini terlihat menunggu lama sekali. Sejak pagi, beranjak siang, berubah sore, dan menjelang malam, sampai akhirnya pesawat terakhir mendarat. Tamu yang ditunggu tidak ditemukan. Para penjemput meninggalkan bandara. Mungkin mereka capai dan kesal. Tapi raut wajah mereka terlihat biasa saja, tak terlihat kecewa apalagi marah.

Siapa tamu yang akan dijemput itu? Bukan tamu biasa. Bukan tamu VIP atau VVIP. Tamu itu adalah Malaikat Jibril yang hari itu rencananya mendarat di Halim untuk bertemu Lia Aminuddin alias Lia Eden di rumahnya di kawasan Senen.

Lia Eden pasti sudah membriefing para penjemput mengenai ciri-ciri Malaikat Jibril, termasuk pesawat yang bakal ditumpangi. Tapi bisa saja para penjemput tidak mengenali sang malaikat, atau sang malaikat tidak mengenali para penjemput. Kalau saja para penjemput membawa poster bertuliskan “Welcome, Malaikat Jibril” disertai foto atau gambarnya, mungkin malaikat bisa langsung mengenali si penjemput. Atau, jangan-jangan Malaikat Jibril turun melalui pintu VVIP di terminal yang terpisah dari penumpang reguler dan langsung naik taksi menuju rumah Lia Eden.

Tapi ternyata hari itu tidak ada tamu Malaikat Jibril di rumah Lia Eden. Dan Lia memberi tahu kepada para penjemput bahwa malaikat membatalkan jadwalnya secara mendadak. Para penjemput itu adalah murid-murid kepercayaan Lia Eden yang patuh total terhadap gurunya, tidak pernah bertanya apalagi membantah. Para murid percaya bahwa Malaikat Jibril sudah memberi tahu kedatangannya kepada Lia, dan kemudian membatalkannya pada detik terakhir. Para murid tetap setia dan percaya kepada Lia meskipun harus menunggu sehari penuh di bandara.

Awalnya Lia Aminuddin mendirikan kelompok yang terlihat seperti pengajian atau majlis taklim. Salah satu materi yang menjadi inti pengajian adalah bahwa Lia Aminuddin bisa berkomunikasi dengan Jibril, malaikat kepercayaan Allah yang bertugas mengirim wahyu kepada Nabi, maka Lia pun juga sering mendapatkan bocoran kabar-kabar ghoib. Salah satunya adalah kabar mengenai datangnya hari kiamat.
Sebagaimana para nabi, Lia merasa diperintah untuk menyebarkan berita datangnya hari kiamat itu kepada masyarakat melalui para muridnya. Kemudian para murid itu pun menyebarkan kabar itu lengkap dengan hari dan jam berapa kiamat akan tiba. Umumnya para murid menyampaikan kabar itu dengan mendatangi langsung keluarga dan sejawat, tidak melalui telepon. Ada juga, atas perintah Lia, yang menyampaikan kabar kiamat itu dengan naik kuda lalu meniup terompet ala Malaikat Israfil, sambil berkeliling di pusat kota Jakarta. Tentu polisi menghentikan penunggang kuda yang mirip karnaval tunggal itu.

Sama dengan kedatangan Malaikat Jibril yang batal pada menit akhir, kiamat yang dikabarkan Lia juga batal pada saat-saat terakhir. Mungkin Lia diberi tahu oleh Jibril soal pembatalan itu serta alasannya, tapi Lia tidak memberitahukannya kepada pengikut yang sudah telanjur membuat woro-woro hari kiamat.

Karena pengajian Lia makin banyak pengikut dan masyarakat mulai gerah atas ajarannya dia lalu ditangkap oleh polisi pada 2005 dan dihukum karena dianggap melakukan penodaan agama. Tapi Lia tidak kapok. Dia mendirikan agama baru Salamullah yang merupakan agama gado-gado campuran Islam, Kristen, Budha, dan Hindu. Lia mengaku sebagai titisan Bunda Maria dan menasbihkan anak kandungnya Ahmad Mukti sebagai Isa Al-Masih.

Lia Aminuddin meninggal dunia Jumat (9/4) dalam usia 77 tahun dan berwasiat agar jenazahnya dikremasi secara Budha. Ajarannya mungkin akan diteruskan oleh anaknya bersama para murid setianya.

Dimas Kanjeng.

Para murid itu bukan orang-orang bodoh. Banyak di antara mereka orang pandai dan intelektual bergelar doktor. Ada dokter dan ada juga penulis novel terkenal.  Dimas Kanjeng di Probolinggo yang punya kesaktian menggandakan uang dan punya pengikut ribuan. Salah satu pengikut setianya adalah seorang profesor terkenal.

Kepercayaan kultus ala Lia Eden dan Dimas Kanjeng tidak mengenal tingkat pendidikan. Secara psikologis setiap manusia mempunyai kecenderungan untuk memenuhi permainan fantasinya dalam sebuah konvergensi simbolik bersama kelompoknya. Sebuah kelompok yang mempunyai tema fantasi yang sama akan melakukan ritual untuk memperkuat keyakinannya mereka terhadap tema fantasi yang dibangunnya.

Ajaran Hakekok Blakasuta yang dibubarkan polisi di Jawa Barat beberapa waktu yang lalu, punya kemiripan dengan Jamaah Salamullah Lia Eden, dan kelompok Dimas Kanjeng di Probolinggo. Mereka mengembangkan fantasi kelompok dengan ritual-ritual khusus untuk memperkuat keyakinan bersama.

Ernest Bormann (1986) menyebutnya sebagai “konvergensi simbolik” untuk menggambarkan motif yang bisa merekatkan kelompok itu menjadi sangat solid.

Konvergensi simbolik terjadi ketika simbol pribadi dari dua orang atau lebih saling bertemu, saling mendekati satu sama lain, dan kemudian saling berhimpitan karena kesamaan.

Proses simbolik adalah kecenderungan manusia untuk memberikan penafsiran dan menanamkan makna kepada berbagai lambang, tanda, kejadian yang tengah dialami, atau bahkan sesuatu yang akan terjadi di masa depan.

Densus 88 menangkap salah seorang terduga teroris. -ist-

Konvergensi simbolik adalah perkumpulan yang memunculkan simbol  fantasi yang ditanggapi oleh kelompok-kelompok lain, sehingga penerima dan pemberi pesan satu sama lain mengerti maksud pesan yang disampaikan dan memiliki tujuan yang sama. Dalam ritual itu mereka memunculkan tema-tema fantasi atau fantasy theme yang diyakini bersama.

Bormann mengartikan tema fantasi sebagai sebagai  pesan yang didramatisasi hingga menciptakan rantai fantasi yang dipahami bersama. Konvergensi simbolik bisa tercipta di antara anak-anak milenial yang punya hobi nongkrong, atau anak-anak muda yang suka clubbing, sampai ke para jihadis yang fanatik.

Mereka mengembangkan fantasy game masing-masing. Anak-anak milenial itu punya bahasa gaul yang isoterik yang hanya dipahami oleh lingkungan mereka sendiri. Para jihadis mengembangkan fantasy game bahwa mereka akan masuk surga sebagai syahid.

Fantasy game ini menjadi fantasy chain, rantai fantasi, yang menyambungkan dan mengeratkan mereka menjadi kesatuan yang kuat yang tidak mudah dipatahkan. Karena itu kelompok Hakekok akan tetap tumbuh meskipun ditangkap polisi. Kelompok jihadis tidak bisa hilang begitu saja oleh operasi anti-teror oleh Densus 88. Kelompok Dimas Kanjeng tetap jalan meskipun si Kanjeng sekarang dipenjara.
Jamaah Salamullah Lia Eden bisa jadi akan makin besar sepeninggalan Lia Eden.

Jangan-jangan pengikut jamaah Salamullah yakin Lia Eden tidak mati, tapi naik ke langit bertemu Jibril dan nanti akan turun lagi menjadi Imam Mahdi penyelamat dunia. Siapa tahu. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.