KEMPALAN: Tidak lama sebelumnya ada pertempuran sengit antara dua negara di wilayah Kaukasus, Armenia dan Azerbaijan yang memperebutkan daerah bernama Nagorno-Karabakh. Daerah tersebut sebenarnya secara administratif masuk ke wilayah kedaulatan Azerbaijan, namun didominasi oleh etnis Armenia selama 30 tahun.
Gesekan kedua negara ini sebenarnya sudah bermuara sangat lama, tapi tak kunjung usai karena permasalahan sudah menyebar ke segala lini, tidak hanya politik tapi juga etnis dan kebudayaan, geografis maupun sosial. Seperti racun, konflik bisa menyebar dengan cepat baik secara harfiah maupun metafora.
Demi menyelesaikan pertengkaran Armenia dan Azerbaijan, Rusiapun harus turun tangan dan menengahi sekaligus membantu membuatkan perjanjian di antara keduanya yang bermuara pada penurunan 2.000 pasukan Rusia di wilayah yang terjadi konflik. Kemenangan ada di tangan Azerbaijan yang masih mempertahankan Nagorno-Karabakh sebagai wilayah kedaulatannya.
Rejeki Nomplok bagi Azerbaijan
Kisah ceria Azerbaijan tidak berhenti pada kemenangan pertempuran Nagorno-Karabakh. Azerbaijan sekarang memiliki serangkaian rencana untuk membangun kembali daerah terdampak konflik dan berada di atas angin dengan berbagai kerjasama yang mereka bangun dengan negara lain, notabene Turki.
Pada Sabtu (11/4), Presiden Ilham Aliyev memberikan penghargaan kepada Duta Besar Turki untuk Azerbaijan, Erkan Ozoral berupa Order of Friendship. Aliyev sendiri menyampaikan terima kasihnya kepada Ozoral atas upayanya dalam membangun hubungan baik antar kedua negara sekaligus dukungan Turki terhadap Azerbaijan dalam peperangan di Karabakh.
Turki dan Azerbaijan memang memiliki kedekatan tersendiri, bahkan salah satu pejabat negara Turki sempat mengatakan apabila ada negara yang berusaha mengganggu kedaulatan atau menyerang Azerbaijan maka mereka harus bersiap-siap menghadapi dua negara sekaligus.
Tidak hanya dibidang keamanan dan politik, hubungan keduanya juga dikembangkan dalam ranah kebudayaan, dimana organisasi kebudayaan Turki juga menyanjung dan ikut berkontribusi dalam peringatan besar yang dilakukan oleh Azerbaijan. Tidak hanya dengan Turki, Azerbaijan juga dikunjungi oleh Majelis Umum PBB dan sejumlah negara lainnya.
Bergerak ke masalah peringatan, semenjak 2021, Ilham Aliyev pun mengumumkan tahun itu sebagai “Tahun Nizami Ganjavi” untuk memperingati 880 tahun penyair besar dari negara tersebut. Demi memperingati sang penyair, kedutaan besar Azerbaijan di sejumlah negara (salah satunya Indonesia) maupun Nizami Ganjavi International Center yang berisikan banyak mantan kepala negara berusaha untuk memperkenalkan karya dan pemikiran Ganjavi ke seluruh dunia. Mereka melaksanakan konferensi internasional secara daring, mengadakan lomba, dan bahkan pameran buku untuk memperingati Nizami Ganjavi.
Azerbaijan, The Land of Fire, nampaknya memang menang secara politik maupun non-politik. Mereka memiliki hubungan yang baik dengan berbagai negara lainnya dan muncul sebagai pemenang yang bahagia, Aliyev pastinya mendapat durian jatuh.
Armenia yang Jatuh Tertimpa Tangga
Di sisi lain dari kebahagiaan dan keberhasilan Azerbaijan, ada tetangganya yang murung dan menyedihkan, dilanda berbagai permasalahan baik internal maupun eksternal, tapi tidak mampu menyelesaikannya sekaligus.
Namanya Armenia. Sebagai negara Kaukasus, nampaknya peperangan Nagorno-Karabakh tidak membawa kesenangan terhadap Armenia yang sekarang justru terlihat seperti orang kebakaran jenggot yang melontarkan segala tudingan dan selalu menyalahkan pihak pemenang, Azerbaijan. Sekalian menyalahkan Rusia berkaitan dengan Rudal Iskandar yang katanya mereka pesan, namun tudingan itu ditampik oleh Rusia.
Di dalam negeri, Armenia lebih nahas daripada hubungan luar negerinya. Usai peperangan Nagorno-Karabakh, Perdana Menteri Nikol Pashanian langsung kena cerca karena dianggap tidak becus dalam mengelola negara hingga bermuara pada kekalahan Armenia dalam pertempuran itu. Hal ini bahkan diperpanas dengan tanggapan Onik Gasparyan, Panglima Angkatan Bersenjata Armenia yang menyarankan Nikol untuk mengundurkan diri dari posisinya.
Nikol yang tidak terima langsung menuding permintaan tersebut sebagai upaya kudeta yang dilakukan oleh militer dan mengajak pendukungnya turun ke jalan untuk membelanya dan justru meminta untuk memecat Onik dari jabatannya, sebuah tindakan yang dianggap inkonstitusional oleh Armen Sarkissian selaku Presiden Armenia.
Negara tetangga Azerbaijan itu terpecah menjadi dua kubu, para pendukung Nikol dan kubu oposisi yang terus-menerus larut dalam krisis politik semenjak kekalahan Armenia. Krisis ini berusaha diselesaikan dengan menyelenggarakan pemilu awal pada Juni 2021, dimana Nikol pada akhirnya harus berkompromi dengan permintaan kubu oposisi, yang tidak hanya meminta pemilu awal, tapi juga meminta Nikol untuk mengundurkan diri dari posisi Perdana Menteri Armenia sebelum pemilihan umum tersebut dimulai.
Kesimpulan
Kesimpulan sebenarnya milik pembaca sendiri, namun nasib nahas Armenia dan kemujuran Azerbaijan memperlihatkan bagaimana negara yang kuat dapat bertahan dikancah politik, meskipun banyak berita yang memperlihatkan bagaimana Azerbaijan adalah negara yang kurang didukung secara politik di media, namun yang terpenting adalah daerah Nagorno-Karabakh tetap masuk ke wilayah kedaulatannya. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi