KEMPALAN: Para perempuan simpatisan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang menjadi martir terus bertambah. Mati adalah suatu tujuan mencapai surga bagi mereka.
Padahal, perempuan dan terorisme sejatinya adalah dua hal yang bertolak belakang. Perempuan adalah simbol kelembutan, kasih sayang, juga pembawa kehidupan. Dan terorisme adalah simbol kekerasan dan ancaman terhadap hidup dan kehidupan.
Lalu apa yang membuat seorang gadis muda, sendirian, tanpa perlindungan sama sekali, lalu menembaki markas besar Polri hanya dengan sepucuk pistol angin? Gadis muda itu, pelaku atau justru korban terorisme?
Perekrutan perempuan termasuk anak-anak dalam aksi terorisme sudah menjadi sorotan sejak satu dekade terakhir. Namun karena jumlahnya relatif sedikit, dan karakter perempuan yang lemah dan pasif, lebih cocok dipandang sebagai korban daripada pelaku, maka perempuan seringkali luput dari pangawasan.
Awal 2011, pakar terorisme Sidney Jones sudah mengingatkan tentang maraknya radikalisasi yang menargetkan perempuan di Indonesia. Utamanya dilakukan oleh organisasi terorisme dunia semacam ISIS.
Dan rekrutmen itu akan makin dimudahkan pada era siber seperti sekarang.
Kalau dulu indoktrinasi seputar kekerasan dan kebencian banyak dilakukan melalui pertemuan berkedok pengajian, saat ini justru lebih agresif melalui virtual.
Sidney Jones mengungkapkan, 5 tahun terakhir telah terjadi pergeseran peran perempuan dalam terorisme. Sebelumnya, perempuan lebih banyak berperan secara invisible, di belakang layar, sebatas fasilitator atau pembawa pesan. Saat ini perempuan tampil sebagai inisiator bahkan eksekutor dalam aksi terorisme.
Para perempuan itu terpapar bukan lagi hanya karena masalah ikut-ikutan tanpa agenda. Namun sudah pada tahap ideologi.
Karena kini, para perempuan tidak perlu keluar rumah untuk melihat dunia, dan berkenalan dengan aneka macam ideologi yang bertebaran di internet.
Berbagai ketidakadilan yang terpampang secara vulgar juga menjadi “bahan bakar” bagi penyebaran paham radikalisme.
Dan ini sangat berbahaya. Karena di balik kelembutannya, sesungguhnya perempuan adalah sosok yang memiliki kekuatan hati dengan kesetiaan dan militansi yang luar biasa. Insting alamiah perempuan tidak suka pada ketidakadilan. Dan membenci semua bentuk penindasan.
Perempuan juga adalah sosok yang selalu siap berkorban, termasuk demi sebuah ideologi. Dan ideologi ini bisa apa saja, juga agama mana saja.
Mungkin sebagian akan menilai itu karakter yang naïf. Namun, kekuatan yang tersembunyi inilah yang dimanfaatkan oleh para teroris.
Bagi mereka, perempuan adalah “alat” paling ideal untuk melakukan teror dengan tingkat keberhasilan tinggi.
Perempuan pun mampu melakukan banyak hal yang justru tidak mampu dilakukan laki-laki. Perempuan mampu melakukan regenerasi doktrin radikal pada anak-anak dan keluarga mereka, dan menanamkan kebencian dan kekerasan sejak dini.
Kecantikan yang Mematikan
Meski jumlahnya kalah jauh dari laki-laki, namun dunia mencatat beberapa nama perempuan yang membuktikan jika sosok feminin pun bisa sangat berbahaya.

Leila Khaled salah satunya. Perempuan kelahiran 1944 ini adalah anggota Garda Popular Pembebasan Palestina (Popular Front for the Liberation of Palestine/PFLP).
Leila adalah teroris yang terlibat dalam pembajakan pesawat Trans World Airline (TWA) 840 pada 1969 dengan rute Roma-Tel Aviv.
Setahun kemudian, tahun 1970, Leila terlibat aksi terorisme lagi dengan membajak pesawat Israel, Al El 219, yang berute Amsterdam ke New York City.
Pembajakan ini gagal karena salah satu rekannya berhasil ditembak mati salah satu awak pesawat. Leila kemudian ditahan oleh polisi Inggris dan dibebaskan setelah ada pertukaran tawanan.
Aksi dengan keberanian di luar nalar ini mengguncang dunia. Foto Leila yang memegang senapan AK-47 dan memakai kafiyeh berhasil diambil fotografer pemenang Pulitzer, Eddie Adams.
Wajah Leila sendiri dikabarkan telah mengalami 6 operasi plastik di hidung dan dagu untuk menyamarkan identitas aslinya demi kepentingan aksi-aksi pembajakan. Dia dijuluki ‘Gadis Poster Militan Palestina’.
Tak kalah menggemparkan adalah sosok Fusako Shigenobu, seorang perempuan pendiri dan pemimpin Tentara Merah Jepang (Japanese Red Army/JRA).
Organisasi ini berideologi komunis dan bermotif memperjuangkan kesejahteraan proletar alias rakyat jelata.
JRA terkenal kejam. Tiga anggotanya pernah melakukan penembakan di Bandara Internasional Lod (kini Bandara Internasional Ben Gurion, red) di Tel Aviv pada Mei 1972. Penembakan ini menewaskan 26 orang dan 80 orang luka.
JRA juga melakukan pembajakan pesawat Japan Air Lines (JAL) 351 dan Malaysia Airlines 653, dan serangkaian pembajakan lain yang meminta tebusan.

Fusako sendiri digambarkan seorang perempuan yang sangat cantik. Bahkan sempat dijuluki teroris tercantik di dunia.
Karena jelitanya, dia dikenal sebagai ‘Mata Hari Modern’. Julukan lainnya adalah ‘Ratu Teror Merah’ serta ‘Teroris Perempuan Paling Ditakuti’.
Hal ini karena dibalik kecantikannya, Fusako yang perjalanan hidupnya keras dan kelam ini memang terkenal kejam pada anak buahnya.
Pernah membunuh anak buahnya yang perempuan karena hamil atau salah meletakkan tisu.
Fusako dikenai penjara 20 tahun setelah tertangkap pada 2001 dan organisasinya dibubarkan.
Sosok Fusako inilah yang menjadi inspirasi dari film Kill Bill besutan Quentin Tarantino.
Dalam film yang dibintangi Uma Thurman itu, ada salah satu karakter bernama O-Ren Ishii yang merupakan representasi dari Fusako. Cantik, kuat, tangguh dan berbahaya.
Karakter itu diperankan Lucy Liu, bintang Amerika Serikat yang memang terkenal dengan kemampuan seni bertarungnya yang ciamik.
Dari Bom Panci sampai Pistol Angin
Di Indonesia sendiri, aksi terorisme yang melibatkan perempuan mulai terendus pada 2016.
Dian Yulia Novi ditangkap setelah diketahui akan melakukan aksi bom bunuh diri dengan membawa sebuah bom panci berdaya ledak tinggi di Istana Presiden Jakarta.
Apa yang dilakukan Dian, mantan buruh migran di Taiwan ini menghentak semua pihak. Perempuan yang mengaku dibaiat suaminya sendiri menjadi anggota ISIS ini, adalah bomber perempuan pertama di Indonesia yang divonis penjara karena aksi terorisme.
Dian mengaku mendapat pemahaman tentang ISIS di dari media sosial facebook. Dari facebook lah dia banyak berkenalan dengan istilah-istilah seperti jihad, Daulah Islamiyah, dan ISIS.
Dian yang penasaran dengan ideologi ISIS lalu menjalin kontak dengan sejumlah simpatisan ISIS, baik di Suriah maupun Indonesia.
Tak berhenti pada Dian, sejumlah peristiwa ledakan bom di Surabaya dan Sidoarjo pada Mei 2018 juga melibatkan perempuan.
Tiga bom pertama yang meledak di tiga gereja di Surabaya dilakukan satu keluarga. Dita Oeprianto mengajak istrinya, Puji Kuswati, dan empat anaknya untuk melakukan aksi pengeboman.
Sebanyak 18 orang tewas dari tiga kejadian pada Minggu pagi itu.
Aksi terorisme yang melibatkan perempuan maupun keluarga kembali terjadi keesokan harinya di Surabaya. Kali ini yang disasar adalah Mako Polres Surabaya.
Tri Murtono bersama istrinya, Tri Ernawati, dan ketiga anaknya, meledakkan diri di pintu gerbang Mapolresta. Pasangan suami-istri tersebut dan dua anaknya tewas, sedangkan satu anak mereka yang lain terluka.
Aksi terorisme terakhir yang melibatkan perempuan terjadi pekan lalu di depan Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan. Dan beberapa hari kemudian, Mabes Polri giliran diserang seorang perempuan.
Pelaku, Zakiah Aini, 25 tahun, lolos penjagaan dan menyerang sejumlah petugas di pos jaga utama dengan bersenjatakan airgun.
Tapi, jangan dibayangkan jika para perempuan yang terlibat terorisme di Indonesia adalah sosok perempuan berkemampuan tinggi layaknya Fusako dan Leila Khaled.
Mereka adalah perempuan biasa yang justru tampak tidak punya bekal sama sekali menjadi seorang teroris profesional.
Zakiah Aini misalnya, dalam aksinya lebih terlihat seperti orang bingung daripada mau menyerang.
Dia memang menembak sebanyak enam kali namun satupun tidak ada yang kena pada targetnya.
Senjatanya pun hanya sebuah airgun, pistol angin yang dikatakan bisa melukai namun tidak mematikan.
Dan setelah menembak pun, Zakiah sama sekali tidak berusaha berlindung. Posisinya sangat terbuka sehingga saat sebuah peluru (asli) aparat menembus jantungnya, perempuan malang ini langsung roboh ke tanah. Masih sambil memeluk sebuah map kuning.
Hal ini cukup disayangkan. Karena seandainya perempuan itu bisa dilumpuhkan tanpa harus kehilangan nyawanya, setidaknya masih ada kesempatan untuk menggali lebih dalam proses perekrutannya dan bagaimana asal mula gadis itu terpapar radikalisme.
Banyak yang menduga, melihat caranya melakukan serangan, Zakiah justru adalah korban indoktrinasi terorisme.
Mungkin saja ini akan menyelamatkan para perempuan lainnya yang saat ini masih dalam proses indonktrinasi.
Pesan Malala

Mau tidak mau, kita harus menerima kenyataan jika radikalisasi yang melibatkan perempuan trennya makin meningkat di negeri ini.
Dalam kurun waktu sepuluh tahun (2001-2020), jumlah tahanan perempuan terkait aksi terorisme di seluruh Indonesia mencapai 39 orang.
Sidney Jones menekankan, sudah saatnya Indonesia melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) atau kepolisian membuat program deradikalisasi khusus bagi perempuan dan anak-anak.
BNPT maupun polisi juga jangan gagap menghadapi aksi teror yang dilakukan perempuan. Karena penanganannya tentulah harus berbeda.
Terhadap para perempuan ini, dia menekankan perlunya pendekatan yang feminis. Perempuan yang terpapar paham radikal tidak akan bisa diradikalisasi jika langsung menyerang ideologinya. Namun deradikalisasi harus dimulai dari hati mereka.
Terhadap terorisme dan perempuan ini. Malala Yousafzai, gadis muda Pakistan penerima Nobel Perdamaian 2014 memiliki pemikiran yang agak berbeda.
Dia berpendapat, pendidikanlah yang menjadi senjata paling ampuh untuk melawan terorisme. Dan suara perempuan-perempuan terdidiklah yang paling ditakuti para teroris.
Pada 2013, Malala yang baru pulih karena ditembak kepalanya oleh Taliban yang tidak suka akan kritikannya terhadap terorisme, berbicara di depan Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Di hadapan para pemimpin dunia, Malala mengatakan, jika dia tidak dendam dengan teroris yang menembaknya.
Hanya saja dia berpesan, senjata mungkin akan bisa membunuh seorang teroris. Namun pendidikanlah yang akan membunuh terorisme.
Gadis pemberani ini juga berkata, yang paling ditakuti oleh para teroris adalah buku, pena, dan seorang guru yang mencerahkan. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi