KEMPALAN: Bagaimana membayangkan uang Rp 4,58 Triliun? Sebagian besar orang dewasa pasti sulit menggambarkan uang sejumlah itu. Bahkan banyak yang kesulitan memastikan jumlah nol pada angka itu.
Tapi orang Surabaya tak kehabisan akal untuk bisa membayangkan uang sejumlah itu, dan apa yang bisa dilakukan dengan uang sebanyak itu. Caranya, dengan menganalogikan uang triliunan itu dengan harga segelas es cendol atau es dawet. Kalau uang itu dipakai untuk membeli es dawet, maka semua penduduk Surabaya, yang jumlahnya sekitar tiga juta orang, bisa mandi pakai es dawet. Begitu cara orang Surabaya membayangkan betapa banyaknya uang itu.
Jumlah itu adalah jumlah dana BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) yang diduga digelapkan oleh konglomerat Sjamsul Nursalim dan istrinya Itjih Nursalim. Beberapa hari belakangan ini orang heboh karena kasus yang ditangani KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) resmi dihentikan dengan keluarnya SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan). Dengan demikian, case closed, dan Sjamsul bersama istri, yang semula jadi tersangka di KPK, boleh melenggang kangkung.
Sebelum Undang-Undang KPK direvisi pada 2019 yang lalu, lembaga anti-rasuah itu ibarat truk yang tidak punya presneleng mundur dan tidak bisa atret. Sekali jalan truk itu tidak pernah jalan mundur lagi karena memang tidak punya gigi mundur. Gigi mundur itu adalah SP3 yang tidak dipunyai KPK. Tapi sekarang setelah undang-undang direvisi, KPK bisa atret karena sudah dipasang gigi mundur.
Sjamsul Nursalim dan istri beruntung menjadi penumpang pertama truk atret itu.
Sjamsul Nursalim alias Lim Tek Siong alias Liem Tjoen Ho lahir 19 Januari 1942 di Lampung. Ia masuk pada urutan ke-35 daftar 50 orang paling tajir di Indonesia pada 2020 dengan kekayaan sebesar USD 755 juta, atau berkisar Rp 10,9 triliun. Sumber kekayaannya berasal dari bisnis ban, properti, batu bara, dan ritel.
Setiap kali melihat orang-orang kaya dengan harta triliunan seperti itu, muncul rasa penasaran darimana dan bagaimana orang bisa mendapatkan harta karun sebanyak itu. Ilmu pesugihan apa yang dia pakai, dan Tuyul macam apa yang dipelihara.
Pada masyarakat tradisional Jawa orang-orang kaya dari kalangan pedagang selalu dicibir karena dianggap punya pesugihan atau perewangan yang membuatnya cepat kaya.
Dalam tradisi masyarakat Jawa yang masih percaya pada klenik dan mistik, diyakini bahwa pesugihan adalah ilmu yang didapat dari laku spritual, misalnya puasa, tapa, atau semedi yang membuat seseorang punya kemampuan linuwih, lebih dari orang lain, dalam hal perdagangan. Pesugihan bisa berupa ilmu, jimat, atau pusaka berbentuk keris, cincin, kalung, atau sabuk kendit. Perewangan adalah mahluk halus yang menjadi rewang, teman seseorang dalam mencari kekayaan.
Sejarawan Ong Hok Ham mengungkapkan dalam buku “Dari Priyayi sampai Nyi Blorong: Refleksi Historis Nusantara” (2002), bahwa pada struktur masyarakat feodal para pedagang tidak dimasukkan pada kelas sosial yang terhormat. Para pedagang kaya berada pada strata sosial di bawah kesatria, dan dianggap sebagai orang biasa sekelas sudra.
Orang-orang kaya yang mengumpulkan harta melalui perdagangan dicurigai punya ilmu pesugihan dan perewangan sehingga bisa cepat kaya. Di antara perewangan yang paling banyak dikenal adalah tuyul. Meskipun mahluk ini masuk dalam kategori jin dan setan tapi tuyul digambarkan sebagai anak kecil berkepala plontos dan imut.

Sebagian penggemar sinetron bisa menemukan gambaran persahabatan tuyul dengan seorang gadis cantik bernama Mbak Yul. Jin yang jahat yang suka mencuri uang, digambarkan sebagai anak yang lucu dan baik di sinetron Indonesia.
Di Jawa Tengah masyarakat mengenal Nyi Blorong sebagai danyang pesugihan yang paling sakti. Di Jawa Barat nasyarakat mengenal babi ngepet yang beroperasi seperti tuyul.
Nyi Blorong merupakan legenda yang berwujud wanita cantik, bertubuh manusia dari pinggang ke atas, dan berwujud ular dari pinggang ke bawah. Ia merupakan panglima terkuat yang dimiliki oleh Kanjeng Ratu Kidul dan sering dianggap sama dengan Nyi Roro Kidul.
Menurut kepercayaan masyarakat, Nyi Blorong adalah penguasa keraton pantai selatan yang memiliki kesaktian luar biasa, memiliki pengikut berbagai macam makluk halus. Ia konon memang ditugaskan untuk menyesatkan manusia agar terjerumus pesugihan dan menjadikan manusia budak-budaknya yang menuruti semua perintahnya.
Nyi Blorong tampil mengenakan kebaya berwarnahijau dengan rajutan emas. Kain panjang berwarna emas tersebut konon merupakan perwujudan sosok aslinya, yaitu ular raksasa. Pada saat bulan purnama, kacantikan dan kesaktian Nyi Blorong mencapai puncaknya, tetapi saat bulan mengecil, ia akan kembali ke wujudnya yang semula yaitu ular raksasa.
Orang-orang yang meminta pesugihan kepada Nyi Blorong dianggap membuat pakta dengan setan. Ia akan diberi kekayaan tapi ia harus memberi sesajen dalam bentuk tumbal nyawa dari anak maupun keluarganya. Perjanjian dengan setan ini mirip dengan kisah Faust di Jerman pada abad ke-16 yang menceritakan perjanjian mengerikan antara manusia dengan Iblis.
Ong Hok Ham membedakan klenik dan mistik itu dengan magi, yaitu sejenis ilmu parapsikologi yang mempunyai unsur ilmiah meskipun kecil, dan karenanya disebut sebagai pseudo-ilmiah. Ada pertautan ilmu magi yang masih bercampur mistik dengan ilmu pengetahuan modern. Orang Jawa tradisional yang agraris mempelajari astrologi untuk menentukan hari baik dan mujur untuk memulai menanam padi, membangun rumah, atau sekadar bepergian. Pada perkembangannya kemudian ilmu modern menemukan astronomi yang mempelajari ilmu perbintangan untuk memahami cuaca yang bermanfaat dalam ilmu pertanian dan pelayaran. Ilmu kimia juga semula merupakan perpaduan klenik dan magi untuk memahami logam-logam mulia yang dianggap punya kekuatan gaib. Tapi dalam perkembangannya ilmu kimia bisa menemukan campuran kemistri yang bisa menghasilkan logam mulia yang bernilai tinggi.
Pesugihan dan perewangan masuk dalam kategori klenik dan mistik, tetapi ada unsur magi yang kemudian bisa dijelaskan secara nalar rasional dalam ilmu bisnis maupun marketing modern.
Ketika Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13, kepercayaan terhadap klenik dan mistik ini coba dihapuskan. Tetapi Islam yang masuk ke Indonesia adalah Islam sufistik, yang lebih toleran terhadap praktik klenik dan mistik yang sudah mengakar pada ajaran Hindu dan Budha yang dipeluk masyarakat Nusantara. Akhirnya Islam menjadi agama eklektik dan sinkretis yang masih bercampur baur dengan praktik kepercayaan klenik dan mistik ala Hindu dan Budha.
Praktik itu sampai sekarang masih dilakukan oleh banyak orang yang ingin dapat pesugihan dan perewangan. Gunung Kawi di Jawa Timur, Gunung Kemukus, Gunung Lawu, dan Klenteng Sam Poo Kong di Semarang adalah tempat-tempat populer untuk mencari pesugihan. Mulai dari pedagang asongan, pejabat yang minta naik jabatan, politisi yang ingin menang pemilihan, sampai konglomerat kelas taipan bisa dijumpai di tempat-tempat seperti itu.

Tentu kelas tuyul dan pesugihan yang dipelihara berbeda antara pedagang kecil dengan para taipan. Para pedagang kecil cukup memelihara tuyul kelas kecil yang cukup diberi sesajen kemenyan dan bunga. Para taipan besar memelihara Tuyul-Tuyul besar yang ada di pusat-pusat kekuasaan strategis di Jakarta. Sesajennya bukan kemenyan dan bunga biasa, tapi bunga bank yang wangi dan memabukkan.
Bukan cuma Tuyul yang jadi peliharaan para taipan, Mbahnya Tuyul yang tinggal di Istana Tuyul pun sudah jadi peliharaan para taipan itu.
Tentu, Mbahnya Tuyul itu punya kesaktian hebat. Bukan sekadar mendatangkan kekayaan yang berlimpah, tapi bisa menyulap kasus korupsi menjadi raib dan memunculkan SP3 yang ajaib itu. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi