KABUL-KEMPALAN: Pada Kamis (24/3), Emirat Islam Afghanistan alias Taliban menolak usulan yang diajukan Presiden Republik Islam Afghanistan, Ashraf Ghani untuk mengadakan pemilu pada akhir tahun ini, setelah berbulan-bulan perundingan damai yang hanya sedikit membuahkah hasil.
Meskipun dia belum menjelaskan rinciannya, Ghani akan mengumumkan rencana pemilihan pada konferensi pemangku kepentingan di Turki bulan depan, menurut dua pejabat pemerintah. Langkah itu, menurut Arab News, kemungkinan merupakan upaya untuk melemahkan usulan AS – didukung oleh Rusia – untuk pembentukan pemerintahan sementara yang melibatkan Taliban untuk memerintah negara itu setelah pasukan AS terakhir ditarik.
Pemerintah akan pergi ke Turki dengan rencana pemilihan awal yang merupakan rencana yang adil untuk masa depan Afghanistan,” kata seorang pejabat senior. Taliban langsung menolak usulan Ghani itu yang melalui juru bicaranya, Zabihullah Mujahid bahwa proses semacam itu telah membawa negaranya pada krisis di masa lalu.
“Mereka sekarang berbicara tentang proses yang selalu bermasalah,” katanya kepada AFP yang dikutip Kempalan dari Arab News, seraya mengatakan setiap keputusan tentang masa depan negara harus dituntaskan dalam pembicaraan yang sedang berlangsung antara kedua belah pihak sembari menambahkan bahwa Taliban tidak akan mendukung keputusan semacam itu.
Adapun Presiden Afghanistan Ashraf Ghani telah mengusulkan rencana perdamaian baru kepada para pejabat AS dan Taliban yang membayangkan pemilihan presiden cepat dalam enam bulan atau satu tahun tepat setelah kesepakatan damai ditandatangani dengan kelompok militan, seorang pejabat senior pemerintah Afghanistan mengatakan kepada Radio RFE/RL pada Selasa (23/3).
Pejabat Afghanistan mengatakan kepada RFE/RL bahwa, di bawah rencana yang diusulkan Ghani, pemilihan presiden dapat diadakan dalam enam bulan atau satu tahun di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Uni Eropa, dan Amerika Serikat, jika Taliban menyetujui gencatan senjata.
Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan kepada RFE/RL bahwa kelompok tersebut akan berbagi pandangan mereka tentang proposal tersebut setelah mereka menyelesaikan penilaian mereka. Sementara ia mengatakan bahwa kelompoknya tidak mau menapaki jalan yang mengarah kepada kegagalan, ia menyebut pemilu presiden sebelumnya sebagai “tipu muslihat.”
Sementara itu, ketika perundingan di Moskow, Taliban sendiri ingin mengembalikan Afghanistan dalam bentuk Emirat Islam, menurut Zamir Kabulov, perwakilan presiden Rusia untuk Afghanistan. Kelompok tersebut bersikukuh model pemerintahan yang Islami.
Permasalahan bentuk negara ini dan usulan untuk memasukkan Taliban ke dalam pemerintah transisi Afghanistan ditanggapi oleh Presiden Ashraf Ghani dalam peresmian bendungan Kamal Khan, dimana ia menyatakan bahwa banyak rumor dan rencana berdatangan namun Afghanistan akan tetap independen.
“Orang-orang belum siap untuk kembali ke masa lalu, hari ini kami mengejar kebijakan kemandirian yang jelas, Afghanistan ke depan tidak boleh berpikir membuka tangan untuk mengemis,” kata Ghani seperti yang dikutip Kempalan dari Tolonews. (Arab News/Gandhara/Tolonews, rez)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi