KEMPALAN: Ini bukan vaksin baru anti Covid 19 seperti vaksin merah putih atau vaksin Nusantara. Vaksin halalan thoyyiban adalah sebutan yang disematkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) terhadap vaksin Astra Zeneca buatan Inggris. Secara harfiah, leterlijk, berarti halal dan bersih.
Meskipun dalam proses produksinya diketahui memakai tripsin babi yang haram, tapi MUI dengan tegas dan lugas mengatakan vaksin Astra Zeneca halalan thoyyiban, haram tapi halal, karena kondisinya darurat. Darurat artinya sementara, ada batas waktu sampai kedaruratan bisa diatasi. Kalau terus menerus darurat itu namanya kebablasan. Halal dan haram tidak jelas, akhirnya menjadi “haral”, setengah haram setengah halal.
Penolakan terhadap vaksin, baik yang dari China maupun dari negara lain, umumnya karena kekhawatiran mengenai kehalalan dalam proses produksi. Selain itu masyarakat waswas soal keamanan pemakaian vaksin. Karena itu pemerintah memberi jaminan bahwa semua vaksin yang dipakai di Indonesia “halal dan aman”.
Astra Zeneca sempat membuat heboh, selain karena dalam prosesnya memakai unsur turunan babi juga terjadi pengentalan darah terhadap pemakainya. Beberapa negara meninjau kembali pemakaian vaksin Astra Zeneca dan ada yang menghentikan sementara pemakaiannya. Tapi Indonesia tanpa ragu menyatakan halalan thoyyiban.
Dan MUI menjadi pemberi stempel yang mangkus dan sangkil yang paling bisa diandalkan oleh pemerintah, karena organisasi Islam besar seperti Muhammadiyah dan NU selalu bersikap hati-hati dan kritis dalam menanggapi isu-isu sensitif seperti ini.
Dalam ilmu manajemen ada istilah “just in time management” atau manajemen serba kebetulan, selalu ada setiap kali dibutuhkan. Tentu harus ada penataan yang rapi supaya bisa terjadi “just in time”, stok harus tersedia secara memadai, sehingga setiap saat dibutuhkan stok tersedia.
Manajemen pemerintah terhadap MUI benar-benar “just in time” yang direncanakan dengan baik. MUI sudah berhasil direformasi dalam munas November 2020 dengan ditunjuknya K.H Miftakhul Akhyar sebagai ketua umum dan wapres Ma’ruf Amin sebagai ketua dewan pertimbangan. Komposisi ini membuat MUI aman dari unsur-unsur kritis semasa kepengurusan Din Syamsudin, Tengku Zulkarnain, dan beberapa lainnya yang selalu bersuara kritis. Andai tokoh-tokoh kritis itu masih ada di MUI tidak akan segampang ini MUI mengeluarkan stempel vaksin halalan thoyyiban.
Soal vaksin haram atau halal menjadi debat panjang dalam penanganan pandemi. Perdebatan lama yang sudah berlangsung berabad-abad antara agama dan ilmu pengetahuan muncul lagi di masa pandemi setahun terakhir. Sampai sekarang umat Islam masih terpecah menghadapi kasus ini. Sebagian percaya boleh tidak shalat berjamaah karena kondisi darurat, tapi sebagian lainnya keukeuh bertahan tetap harus berjamaah di masjid.

Upaya social distancing, menjaga jarak dalam shalat berjamaah di masjid, yang sekarang menjadi bagian resmi protokol kesehatan, oleh sebagian ulama masih dipertanyakan dengan keras karena dianggap menyimpang dari sunnah. Masih banyak ulama dan ustad konservatif yang menentang ijtihad social distancing dalam shalat berjamaah dengan alasan tidak ada contoh dalam sunnah Rasul. Bahkan dalam situasi tha’un, pandemi, yang dahsyat pun Rasul tetap shalat jamaah dengan merapatkan shaf. Begitu argumennya.
Tapi pandangan lain mengatakan bahwa pandemi ini situasi darurat yang bisa mengubah aturan shalat berjaah melalui ijtihad social distancing, karena bahaya yang ditimbulkan bisa mengancam nyawa. Tidak ada bukti yang sahih yang mengatakan bahwa di zaman Rasul ada tha’un sedahsyat Covid 19, dan karena itu diperlukan ijtihad untuk mengatasinya.
Para ulama konservatif menganggap shalat berjamaah social distancing adalah salah satu bukti kekalahan agama dari ilmu pengetahuan. Larangan bersalaman, yang menjadi bagian dari prokes, juga dianggap bagian dari kekalahan itu, karena sunnah Nabi mengajarkan silaturrahim dengan cara bersalaman yang diyakini bisa menggugurkan dosa selama tangan belum saling terlepas.
Pandangan lain mengatakan bahwa ini bukan kekalahan agama dari ilmu pengetahuan, tapi justru bukti bahwa agama bisa adaptif dan kompromistis terhadap ilmu pengetahuan dan menjadi bikti bahwa agama kompatibel dengan ilmu pengetahuan.
Perdebatan pemakaian vaksin di Indonesia tidak banuyak fokus kepada faktor-faktor iptek seperti tingkat efikasi dan keamanannya tapi lebih banyak pada kehalalannya.
Dalam masyarakat yang religius seperti di Indonesia agama akan menjadi faktor penting dalam menyelesaikan pandemi. Agama bisa memberikan–meminjam istilah Yuval Noah Harari–imajinasi kolektif yang memungkinkan penganutnya untuk mempunyai keyakinan yang sama terhadap sesuatu yang abstrak.
Dalam pandangan Harari (Sapiens, A Brief History of Human Kind, 2014) umat manusia menjadi mahluk yang paling hebat yang bisa menguasai dan mengendalikan jagat raya karena manusia mempunyai kemampuan untuk saling bekerja sama secara masal.

Berbagai penelitian ilmiah menunjukkan bahwa manusia mempunyai kemiripan genetik sampai 98 persen dengan simpanse, terutama jenis bobonaro, sehingga para ilmuwan evolutif percaya bahwa manusia dan simpanse adalah saudara sepupu karena mempunyai kakek-moyang yang sama.
Tentu saja pandangan teori evolusi ini ditentang keras oleh para penganut teori kreasi, yang meyakini bahwa manusia adalah keturunan Adam yang diciptakan sempurna tanpa proses evolusi dari monyet menjadi manusia. Itulah pangkalnya mengapa agama dianggap bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Sejak Darwin memublikasikan “The Origin of Species” 1859 para ilmuwan percaya bahwa manusia, jagat raya, dan seluruh isinya merupakan hasil dari proses evolusi, bukan dari proses penciptaan Tuhan sebagaimana keyakinan iman.
Yuval Noah Harari adalah ilmuwan liberal Yahudi yang paling keukeuh meyakini teori evolusi. Dalam penelitiannya ia menemukan bahwa manusia bisa menjadi hebat dan cerdas, sehingga menjadi penguasa jagat raya, karena manusia mengalami revolusi kognitif pada 70.000 tahun sebelum masehi yang memungkinkan manusia menemukan bahasa. Inilah titik tolak kemajuan manusia yang membuatnya bisa mengungguli simpanse sebagai penguasa dunia.
Revolusi kognitif memungkinkan manusia berkomunikasi dengan sesama spesiesnya secara intensif dan bisa menggambarkan berbagai hal yang kompleks dengan memakai bahasa. Dari sinilah manusia kemudian bisa saling memahami bisa bekerja sama satu dengan lainnya.
Kerjasama inilah yang menjadi keunggulan manusia dibanding simpanse atau spesies lainnya. Simpanse bisa bekerja sama dengan sesamanya dalam jumlah kecil misalnya dua atau tiga simpanse. Misalnya, dua simpanse bisa bekerja sama untuk mengambil pisang dan saling berbagi. Simpanse yang hidup dalam koloni yang dipimpin oleh pejantan Alfa mungkin bisa bekerja sama dengan belasan simpanse lain sesama anggota koloni. Tapi simpanse tidak mungkin bekerja sama dengan ribuan atau ratusan ribu simpanse untuk, misalnya, menonton sepakbola ke stadion. Kita bisa bayangkan bagaimana Stadion Gelora Bung Karno dipenuhi seratus ribu simpanse yang menonton kompetisi sepakbola antar-simpanse memperebutkan Piala Presiden Simpanse.
Itu tidak mungkin. Kata Yuval Noah Harari, karena simpanse tidak punya kemampuan kognitif yang memungkinkan mereka membentuk kepanitiaan atau membentuk PSSI, Persatuan Sepakbola Simpanse Indonesia.
Hanya manusia yang bisa melakukannya karena punya kapasitas kognitif yang memungkinkannya berbicara dengan menggunakan bahasa. Melalui bahasa itulah, kata Harari, manusia menciptakan dan menjelaskan konsep yang rumit dan abstrak seperti agama. Manusia bisa paham ketika dibilang bahwa kalau dia memberikan infak sejumlah uang maka nanti di akhirat akan menerima pahala yang jauh lebih besar dari yang didonasikan sekarang. Seekor simpanse tidak mungkin paham ketika diminta untuk membagi pisangnya dan dijanjikan nanti di akhirat akan menerima pisang yang lebih banyak dan lebih nikmat.
Hanya manusia yang bisa menekan ego dan bisa memercayai konsep yang abstrak. Itulah imajinasi kolektif yang oleh Harari menjadi kekuatan manusia untuk memercayai agama, negara, dan juga uang. Semuanya, menurut Harari, adalah imajinasi kolektif hasil rekayasa canggih umat manusia.
Konflik di antara umat manusia terjadi karena tidak ada kerjasama dan tidak ada imajinasi kolektif yang menyatukan mereka. Agama, kata Harari, menjadi faktor pemersatu manusia yang paling penting. Tetapi agama juga yang bisa menjadi faktor pemicu konflik antar-manusia.
Pandemi Covid 19 sekarang ini merupakan paduan antara fenomena riil dan imajinasi kolektif. Tidak semua berita mengenai pandemi adalah fakta. Banyak di antaranya merupakan tambahan imajinasi kolektif yang dihasilkan oleh Badan Kesehatan Dunia, WHO. Itulah yang menyebabkan munculnya banyaknya teori konspirasi seputar pandemi. Itu pula sebabnya mengapa masih banyak yang egoistis dan menolak vaksinasi.
Pagebluk Covid 19 bisa dihentikan kalau tercipta herd immunity, kekebalan kelompok, dengan 70 persen total penduduk mendapat kekebalan melalui vaksinasi. Tentu saja ini membutuhkan kerja sama para manusia di seluruh dunia yang jumlahnya sekitar 7,75 miliar. Hanya spesies manusia yang bisa melakukan kerjasama super-masal dalam jumlah miliaran seperti itu.
Umat manusia sekarang tengah diuji apakah bisa bekerja sama, atau ternyata masih tetap suka cakar-cakaran seperti simpanse. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi