Rabu, 29 April 2026, pukul : 21:48 WIB
Surabaya
--°C

Covid Tak Akan Punah, Herd Immunity Indonesia 2025?

JAKARTA-KEMPALAN: Kapan pandemi ini akan berakhir? Itulah pertanyaan di benak banyak orang setelah setahun hidup dengan pandemi Covid-19.

Pakar kesehatan masyarakat AS memiliki jawabannya. Namun, sepertinya kita tidak akan menyukainya: Covid-19 tidak akan pernah berakhir.

Menurut para ahli, sekarang tampaknya Covid-19 siap untuk menjadi penyakit endemik, yakni penyakit yang selalu menjadi bagian dari lingkungan kita, apa pun yang kita lakukan.

“Kami telah diberi tahu bahwa virus ini akan hilang. Tetapi virus ini tidak akan hilang,” kata Dr. William Schaffner, seorang profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Vanderbilt dan direktur medis dari Yayasan Nasional Untuk Penyakit Menular, kepada CBS News.

Dia menambahkan, “Kita perlu mengendalikannya. Kita perlu mengurangi dampaknya. Tapi itu akan mengganggu kita di masa mendatang. Dan maksud saya, selama bertahun-tahun.”

Ketika 70 persen warga sudah divaksin dan memiliki antibodi terhadap COVID-19, dipercaya wabah virus Corona di Indonesia akan segera teratasi. Lantas kapan herd immunity bisa terbentuk?

Nazmi Haddyat Tamara, research and data analyst dari Katadata Insight Center, mengatakan lamanya waktu herd immunity terbentuk dapat dilihat dari seberapa banyak orang yang divaksin dalam sehari.

Nazmi pun menjelaskan dalam sebuah pemodelan data untuk menghitung lamanya waktu 70 persen warga atau sekitar 180 juta orang di Indonesia dapat divaksin.

“Saat ini dari data Kementerian Kesehatan yang saya update di hari kemarin pukul 14.00. Status vaksinasi di kita ini untuk dosis pertama sudah tercapai 3,6 juta dosis yang telah disuntikkan kepada penduduk. Itu berarti sekitar 1,34 persen dari total penduduk Indonesia sesuai sensus BPS 2020,” kata Nazmi dalam sebuah webinar, Jumat (12/3).

“Saya mencoba menganalisis dengan mengonsumsi kecepatan vaksinasinya ini konstan bahwa di hari kemarin penambahan dosis pertama itu 121 ribu dosis. Dengan asumsi kecepatan yang konstan kira-kira untuk mencapai target 70 persen vaksinasi ini akan tercapai pada Mei 2025,” jelasnya.

Johnson & Johnson Disetujui

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyetujui penggunaan darurat vaksin Covid-19 Johnson & Johnson (J&J) pada Jumat (12/3). Vaksin J&J merupakan vaksin Covid-19 ketiga, setelah sebelumnya vaksin buatan Pfizer/BioNTech dan AstraZeneca mendapatkan dukungan dari WHO. Vaksin Johnson & Johnson menjadi vaksin pertama yang hanya membutuhkan satu suntikan. Sementara mayoritas vaksin memerlukan dua kali suntikan.

Adapun daftar WHO tersebut mencakup penggunaan di semua negara, untuk peluncuran fasilitas vaksin COVAX dan mengikuti pengumuman otorisasi European Medicines Agency (EMA). “Setiap alat baru, aman dan efektif melawan Covid-19 adalah satu langkah lebih dekat untuk mengendalikan pandemi,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari CNA, Sabtu (13/3).

Sementara itu penasihat senior WHO Bruce Aylward mengatakan bahwa vaksin Johnson & Johnson, yang tidak memerlukan rantai ultra dingin, lebih cocok untuk beberapa negara yang paling parah terkena dampak pandemi.

COVAX, yang bekerja sama dengan aliansi vaksin Gavi, memiliki kesepakatan untuk lebih dari 500 juta dosis vaksin J&J. “Apa yang kami coba lakukan adalah bekerja dengan perusahaan untuk mewujudkannya sedini mungkin. Kami berharap paling tidak Juli bahwa kami memiliki akses ke dosis yang dapat kami luncurkan, bahkan lebih awal,” tutur dia. (km/kn/et/ist)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.