Islamofobia Makin Berkembang di Eropa
ISLAMABAD-KEMPALAN: Sebuah seminar daring diadakan oleh Islamabad Policy Institute (IPI) berkenaan dengan tumbuhnya Islamofobia di Eropa pada Selasa (9/3). Pembicara dalam seminar ini adalah Massoud Shadjareh, ketua Islamic Human Rights Commission di Inggris.
Dalam webinar itu, pembicara menyampaikan bahwa ada kemungkinan pemerintah Eropa secara diam-diam memberikan dukungan kepada organisasi dan pribadi Islamofobik dengan membantu agenda mereka dalam memperlihatkan Muslim dan Islam sebagai ancaman terhadap masyarakat Eropa.
Ia menambahkan bahwa Islamofobia menjadi budaya di Eropa dan sikap semacam itu terhadap Muslim semakin diperkuat dengan kebijakan pemerintah, tindakan tokoh politik, dan pihak keamanan dengan menyasar warga Muslim di Eropa.
“Serangan seperti menarik cadar dari wanita Muslim, meludahi orang-orang dan menyebut Muslim sebagai ‘teroris’ menjadi hal biasa. Belakangan ini unsur Islamofobia sedang marak di media,” kata Massoud seperti yang dikutip Kempalan dari The Nation.
Aktivis HAM itu juga menyampaikan bahwa tindakan 9/11 menjadi landasan yang mensahkan sentimen terhadap umat Islam itu. Kebijakan untuk menanggulangi terorisme yang diadopsi oleh pemerintah di Eropa melihat Islam dan umatnya sebagai ancaman dan bertindak melawan mereka, yang selanjutnya membuat kondisi semakin mendukung Islamofobia.
Selain Massoud, ada juga Mobeen Jafar Mir, seorang peneliti di IPI yang mempresentasikan makalahnya mengenai Islamofobia dalam acara ini, sepakat dengan sang aktivis HAM bahwa penggunaan kata yang provokatif oleh pemimpin di Eropa semakin menolong penyebaran sentimen anti-Islam dan anti-Muslim.
“Islamofobia semakin intens ketika para pemimpin populer juga menggunakan istilah-istilah kontroversial. Seperti Kanselir Jerman Angela Merkel yang menggunakan istilah ‘Ekstremisme Islam’ dan penggunaan kata-kata seperti ‘Separatisme Islam’ oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron,” ujar peneliti itu.
Ia juga menambahkan bahwa Islamofobia juga muncul melalui karya-karya penelitian dari institusi konservatif seperti Policy Exchange dan Center for Social Cohesion, yang sekarang bergabung dengan Henry Jackson Society untuk memperkuat wacana anti-Muslim.
Mobeen juga menyebutkan kelompok lain yang mendukung pemerintahnya dalam kebijakan yang anti-Islam seperti Stop Islamisation of Denmark dan English Defense League. Retorika yang dibawa kelompok Islamofobik ini nantinya diubah menjadi wacana dalam kebijakan luar negeri pemerintahnya.
Adapun menurut direktur eksekutif IPI, Profesor Sajjad Bokhari bahwa ada bahaya Islamofobia meningkat lebih lanjut karena kerugian ekonomi dari masyarakat Eropa karena kegagalan dalam mengatasi masalah COVID-19.
“Para pemimpin, perwakilan, akademisi dan ulama dari dunia Muslim harus maju dan memainkan peran konstruktif dalam membendung gelombang Islamofobia,” tambahnya. (The Nation, Reza Maulana Hikam)
