Senin, 9 Februari 2026, pukul : 08:38 WIB
Surabaya
--°C

Diaz Nawaksara yang Bisa Membaca dan Menulis 30 Aksara Indonesia Kuno

JAKARTA-KEMPALAN: Diaz Nawaksara, 30, tumbuh di masa perkembangan internet dan telekomunikasi.

Saat kuliah, ia mengambil jurusan manajemen informatika dengan fokus pada penyimpanan data melalui metode komputasi.

Meskipun pendidikannya terkesan modern, pekerjaannya saat ini melibatkan suatu hal yang sangat kuno: Melestarikan aksara Indonesia yang berusia sekitar 500 tahun.

“Saya memulai tahun 2012 dengan mempelajari aksara Jawa terlebih dahulu,” kenang Diaz.

Sekarang, ia dapat membaca dan menulis lebih dari 30 aksara Indonesia kuno, serta fasih memahami sekitar setengah dari bahasa yang terkait dengan tulisan-tulisan tersebut.

Ini adalah kemampuan yang langka mengingat kebanyakan orang Indonesia hanya bisa membaca satu atau dua aksara.

Sebagian besar orang Indonesia bisa membaca huruf Latin, aksara yang digunakan untuk bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.

Selain itu, ada orang Indonesia yang juga mengetahui tulisan Arab karena membaca Al-Qur’an dan ada juga yang bisa membaca huruf Mandarin.

Diaz mengatakan secara umum mempelajari aksara Indonesia kuno cukup mudah.

“Transformasi suatu naskah dari masa ke masa masih bisa dilacak. Mungkin masalahnya lebih pada pemahaman bahasa dan maknanya, karena sebagian besar bahasa dalam manuskrip jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari.

“Penguasaan kosakata menentukan kefasihan dalam membaca naskah kuno, terlepas dari jenis naskahnya,” katanya kepada CNA.

Walau sebelumnya pernah menjadi guru bahasa Inggris dan seorang pemandu wisata, dewasa ini dia bekerja sebagai peneliti lepas yang fokus pada pelestarian naskah kuno Indonesia serta sejarah.

Diaz lahir dan besar di Bandung, Jawa Barat dan orang tuanya adalah etnis Sunda.

Usahanya untuk membaca dan menulis aksara Jawa berawal secara tidak sengaja.

Sejak remaja, dia sudah tertarik pada barang antik.

Ketika di sekolah menengah pertama, dia mengumpulkan barang-barang yang berasal dari zaman sebelum kemerdekaan Indonesia seperti radio tua, gramofon, dan keris.

Setelah menyelesaikan kuliah, ia pindah ke Yogyakarta untuk bekerja sebagai pemandu wisata dan guru bahasa Inggris.

Suatu hari, dia pergi ke pasar loak dan menemukan manuskrip Jawa dijual di sana.

Ia tergelitik untuk mengetahui lebih lanjut dan memutuskan untuk membelinya meski tidak bisa membaca aksara Jawa.

Ternyata, itu adalah manuskrip undang-undang kuno kesultanan Yogyakarta pada masa penjajahan Belanda yang dikenal dengan sebutan “rijksblad”.

Kebetulan pacarnya adalah orang Jawa dan bisa membaca manuskripnya. Ia pun mengajari Diaz cara membacanya. (cna)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.